Rian kemudian menatap Kael dengan pandangan yang lebih lama dan tajam.
"Dua minggu," ucapnya tegas. "Setelah itu, kita bertemu kembali di titik yang telah ditentukan. Apa pun yang kita temukan, sekecil apa pun itu, bisa menentukan apakah wabah ini berhasil dihentikan... atau justru akan menyebar."
Sebelum mereka benar-benar melangkah keluar ke kegelapan Dustland, Nora Voss bergerak. Ia berlutut di tengah lantai gubuk yang berdebu, menempelkan telapak tangannya dengan lembut ke permukaan tanah.
Matanya terpejam. Bagi yang lain, itu tampak seperti meditasi.
Nora merasakan kontur tanah di bawahnya.
Setelah beberapa detik, ia berdiri dan mengeluarkan sebuah benda dari saku jaketnya: Orbital Compass. Bentuknya cakram logam dengan jarum cahaya yang berputar halus.
Nora mengangkatnya tinggi, mengarahkannya tepat ke satu titik cahaya yang paling benderang di cakrawala Utara.
"Di sini titik pertemuan kita," suara Nora memecah kesunyian. "Koordinat sudah terkunci."
Ia membiarkan rekan-rekannya melihat sejenak jarum di kompas itu yang berpendar pelan, merespons posisi bintang di atas sana.
"Jika nanti kita terpisah terlalu jauh atau alat komunikasi kita terganggu," Nora menatap satu per satu rekan timnya, "lihat bintang terang yang berada tepat di antara dua gunung besar itu."