Tangan Nora yang awalnya sudah siap menarik belati pendek di lingkar pinggangnya sempat bergetar.
Ia menatap Kael dengan pandangan yang seolah-olah menuntut sebuah penjelasan, Namun, melihat ekspresi Kael yang sama bingung dan terkejutnya, Nora tahu kekacauan ini bukan bagian dari rekayasa pria itu.
Pemuda asing itu menyadari kegemparan sunyi yang melanda kedua tamunya.
Ia memiringkan kepalanya santai, membuat rambut hitamnya yang kusut jatuh sembarangan menutupi sebagian dahi.
"Jadi," katanya sambil menyeringai lebar, sebuah senyuman bebas yang tidak akan pernah bisa keluar dari bibir Kael yang kaku. "Apa urusan orang Timur nyasar ke Dustland? Sekumpulan orang bodoh yang kerjanya sembunyi di wilayah orang lain. Kalian biasanya datang dengan tujuan."
Kael terdiam beberapa detik, berusaha keras mengatur napasnya yang memburu. "Kami tersesat," katanya akhirnya memilih alibi. "Perjalanan kami melenceng jauh dari rute yang direncanakan."
Pemuda itu terkekeh pendek, nadanya meremehkan. "Kau berbohong."
Suaranya terdengar datar, seolah-olah pernyataan itu adalah sebuah fakta sederhana yang mudah dibaca.
Kael menelan ludah. Ia tahu akan percuma jika harus menyangkal lebih jauh di depan orang ini.
"Kami memang memiliki sebuah tugas," ujarnya dengan suara yang lebih pelan. "Tapi tugas itu tidak ada hubungannya dengan Dustland. Kami tidak berniat mengusik kenyamanan siapa pun di sini."