Mereka tiba di sebuah ruangan terbuka dengan atap kayu yang sudah setengah runtuh.
Di bagian tengah ruangan, terdapat dua bak besar yang terbuat dari tanah liat kasar. Warnanya tampak kusam dan dipenuhi retakan di beberapa bagian.
Air di dalam bak itu terlihat agak keruh, menguapkan aroma khas air sungai yang sangat kuat.
Di sekeliling bak tanah liat tersebut, tersusun rapi beberapa dupa yang mengepulkan asap tipis, mangkuk-mangkuk kecil berisi cairan pekat tak dikenal, serta taburan kelopak bunga layu.
Nenek Abu sudah duduk bersila di antara kedua bak besar itu. Punggung bungkuknya bergerak ritmis, sementara tangan keriputnya sibuk merapikan perlengkapan ritual di lantai tanah.
"Masuk," kata Nenek Abu singkat tanpa repot-repot menoleh.
Kael dan Nora saling bertukar pandang sejenak. Tanpa mengajukan banyak pertanyaan, mereka segera menuruti perintah itu dan menenggelamkan tubuh masing-masing ke dalam bak terpisah.
Air Sungai Varun itu terasa sangat dingin dan agak lengket, seolah-olah langsung menempel erat di pori-pori kulit mereka.
Nenek Abu mendongak, menatap kedua anak muda itu dengan raut wajah yang mendadak berubah menjadi sangat serius. "Fokus," katanya memberi peringatan. "Jangan bercanda. Ini adalah ritual suci pemandian Sungai Varun."
Kael mengangguk patuh, meskipun sebelah alisnya terangkat memancarkan keraguan.
Pada saat ritual resmi dimulai, Nenek Abu mengambil sebuah gayung tanah liat kosong, lalu mengetukkannya ke atas permukaan lantai tanah dengan ritme konstan.
Tok.
Tok.
Tok.