Pagi hari di gubuk itu dimulai dengan sebuah teriakan histeris yang memekakkan telinga.
"AAAA—KAEL!"
Kael terbangun dari tidurnya dengan refleks yang langsung aktif, tepat di saat sebuah pukulan keras mendarat telak di bagian atas kepalanya.
Pukulan itu memang tidak sampai melukainya, tetapi sudah lebih dari cukup untuk membuatnya meringis kesakitan dan langsung terjaga kesadaran penuh.
"Aduh…apa…ada apa?" Kael mengusap bagian kepalanya yang berdenyut sembari mengubah posisinya menjadi setengah duduk di atas kasur.
Nora sudah berdiri tegak di sisi ranjang sempit itu.
Wajah wanita itu tampak merah padam menahan luapan emosi, dengan helaan napas yang naik-turun tak beraturan.
Rambut panjangnya tampak acak-acakan khas orang baru bangun tidur, dan selembar handuk yang semalam ia kenakan kini sudah berganti dengan pakaian kasual seadanya, namun ekspresi di wajahnya terlihat jauh lebih kacau daripada penampilannya saat ini.
"Kau... kau kenapa bisa tidur di sebelahku?!" tanyanya dengan nada suara yang meninggi, nyaris bergetar akibat syok.
Kael menolehkan pandangannya ke samping ranjang.
Baru pada detik itulah ia menyadari posisi tubuh mereka sebelumnya berbaring di atas satu ranjang sempit yang sama, dengan jarak posisi tubuh yang berdekatan untuk ukuran dua orang mantan kekasih.
Kael terdiam sesaat, mencoba mencari ingatan di kepalanya.
"Nora, aku…" Kael menarik napasnya dalam-dalam, mencoba merangkai kalimat se-logis mungkin dari ingatannya. "Aku sama sekali tidak mengingat apa pun setelah kejadian semalam."