Di hari berikutnya, nenek abu menemani Kael dan Nora ngobrol sore itu.
"Kalian tidak mungkin datang jauh-jauh ke wilayah ini tanpa tujuan," katanya akhirnya memecah keheningan. "Tapi apa pun tujuan kalian, itu bukan urusanku." Ia mengangkat kedua bahunya, seolah-olah perkara paling besar di dunia sekalipun tidak akan pernah terasa lebih berat daripada sebutir debu yang menempel di lantai rumahnya.
"Lagipula," lanjut sang nenek, "mencari sesuatu di Dustland jarang sekali menghasilkan apa-apa."
Kael dan Nora saling bertukar pandang sejenak.
"Di tempat ini tidak ada yang namanya rahasia," ujar Nenek Abu dengan nada tegas. "Kalau kau merasa berhasil menemukan sebuah rahasia besar di Dustland..." Ia mendadak tersenyum sangat lebar. "...itu artinya kau sedang salah paham. Karena Dustland tidak pernah memiliki apa pun untuk dirahasiakan dari dunia luar."
Ia tertawa kecil, lalu menambahkan dengan nada yang sedikit mengejek kondisi tanah kelahirannya, "Pulau Aethyris mungkin memiliki banyak wajah yang anggun. TapiĀ wilayah barat adalah wajah yang paling berisik, paling kacau, dan paling tidak teratur."
"Sebuah tanah gersang," lanjutnya lagi, "dengan pemimpin gila bernama Rajah Varun Dharava yang setiap hari berdiri di tengah lapangan hanya untuk dilempari tomat busuk oleh rakyatnya sendiri." Nenek Abu tertawa terbahak-bahak.
Dengan sedikit rasa ragu yang tertahan, Kael akhirnya memberanikan diri untuk angkat bicara. "Apakah Nenek pernah mendengar nama... Bharez Darian?"
Nenek Abu seketika terdiam. Ia memicingkan kedua matanya yang keruh, mengerutkan dahi dalam-dalam, lalu mulai mengetuk-ngetuk permukaan lantai kayu menggunakan ujung jarinya, seolah-olah sedang berusaha keras menggali kembali tumpukan ingatan lama yang tertimbun.
Kemudian, ia kembali tertawa santai. "Tidak tahu," katanya ringan.