Di ruangan kamar mereka yang sempit, Nora menyandarkan punggungnya pada dinding gubuk, menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan raut kaku.
"Kita seharusnya tidak berada di tempat ini terlalu lama," katanya dengan nada datar. "Misi ini mendesak, Kael. Dua minggu bukan waktu yang panjang untuk melacak sesuatu."
Kael memilih duduk di atas lantai tanah, punggungnya bersandar pasrah pada kaki ranjang kayu yang reyot. "Aku tahu," jawabnya tenang. "Tapi untuk sekarang, kita tidak memiliki pilihan yang lebih baik."
Nora menghela napas panjang. "Orang Dustland mungkin tidak memiliki batas wilayah yang ketat seperti kita di Timur, tetapi indera penciuman mereka jauh lebih berbahaya daripada tembok benteng pertahanan mana pun." Ia menatap wajah Kael dengan sangat serius. "Aku tidak ingin misi ini gagal hanya karena kecerobohan kecil kita."
Kael menganggukkan kepalanya pelan.
Mata Nora kemudian bergerak turun, jatuh tepat pada pergelangan tangan kiri Kael. Di sana, melingkar sebuah gelang sederhana yang tampak usang, namun dirawat dengan sangat baik.
"Sejak kapan kau mulai memakai gelang itu?" tanyanya kemudian. "Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya."
Kael menurunkan pandangan matanya sendiri, menatap gelang usang tersebut dengan sorot melunak. "Ini titipan," katanya singkat.
Ia lalu menjelaskan secara perlahan tentang sosok anak didiknya di akademi, tentang bagaimana ibunya yang terinfeksi oleh wabah yang sama, serta tentang permintaan sederhana dari seorang anak kecil yang menggantungkan seluruh harapan hidup keluarganya pada perjalanan berbahaya yang sedang Kael tempuh saat ini.
"Aku diminta untuk terus memakainya sepanjang misi ini berlangsung," ujar Kael. "Aku tidak ingin mengecewakan harapannya."