Empat hari berlalu sejak ritual pemandian sakral di gubuk Nenek Abu. Aroma asing tanah Timur yang melekat di tubuh Kael dan Nora perlahan-lahan mulai memudar sepenuhnya.
Efek dari air Sungai Varun itu kini cukup untuk membuat mereka berdua dapat bergerak bebas di luar ruangan tanpa memancing kecurigaa dari hidung-hidung tajam penduduk lokal.
Wilayah Dustland kembali membuka dirinya bagi mereka, sebuah dunia yang berisik, kacau, penuh kepulan debu, dan tidak pernah benar-benar ramah bagi para pendatang.
Mereka memulai pencarian informasi yang ketat. Pasar-pasar padat yang dipenuhi oleh aroma asing mereka susuri dari ujung ke ujung, tempat di mana para pedagang lokal berteriak lantang menawarkan barang-barang gurun yang bentuk serta fungsinya sulit ditebak oleh logika mereka.
Lorong-lorong sempit di pusat distrik kota mereka telusuri satu per satu, mencoba bertanya pada orang-orang yang gurat wajahnya sudah terlalu lelah hanya untuk sekadar peduli pada urusan orang asing.
Mereka mendatangi setiap titik keramaian massa. Bar-bar kecil di sudut kota yang kumuh mereka datangi, bahkan mereka sampai menghampiri setiap orang lokal yang kebetulan memiliki nama depan Bharez atau Darian. Mencoba membuka obrolan, mencoba memancing reaksi, dan mencoba membuka segala kemungkinan yang ada.
Dan hasilnya tetap nihil.
Nama tersebut seolah-olah hanya hidup sebagai bayangan di Dustland, ada, tetapi tidak pernah benar-benar terhubung dengan petunjuk apa pun.