Malam itu kepala Kael mendadak lumpuh total oleh luapan rasa penasaran yang membakar dada.
Nora Voss masih berada di dalam ruang pemandian belakang ketika Kael mendadak memutar tubuhnya dan membuka pintu kamar dengan tergesa-gesa.
Langkah kakinya terdengar berdentum cepat menuruni anak tangga kayu, bergerak kilat menuju ke lantai bawah gubuk. Ia langsung mengedarkan pandangan matanya ke seluruh sudut ruangan tengah, mencoba mencari keberadaan sesuatu.
Nihil. Ruangan tengah itu sudah kosong melompong, hanya menyisakan aroma pekat asap dupa kuno yang masih menggantung tipis di udara.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Kael langsung mendorong pintu depan, lalu melangkah lebar melewati pagar penginapan.
Hembusan udara malam yang luar biasa dingin langsung menampar permukaan wajahnya dengan keras. Kael menajamkan arah pandangan matanya, menyapu koridor jalanan yang tampak remang-remang.
Dan tepat di sana, di ujung tikungan jalan yang temaram, sesosok bayangan tampak sedang berdiri diam tak bergerak.
Topi berwarna hijau yang dikenakannya terlihat sangat mencolok di bawah siraman sisa cahaya lampu minyak jalanan. Kakek tua itu rupanya sedang berdiri memperhatikannya dari kejauhan.
Dengan sigap, Kael langsung menghentakkan kakinya untuk berlari kencang. "Hei! Tunggu!" teriak Kael lantang memecah kesunyian malam.