SEMESTA AETHYRIS

Kal Q Fawzie
Chapter #41

Kesepakatan Berandalan

"Shaell?!" Kael terperangah luar biasa. "Bagaimana bisa kau ada di sini?"


Pandangan mata Shaell perlahan beralih dari wajah Kael, menatap tajam ke arah sosok Frayden yang sedang memasang kuda-kuda tegang, sebelum akhirnya pandangan berandal itu terkunci pada sosok Rian Falken yang sedang terkapar lemas di atas tanah.


Detik itu juga, senyuman miring di wajah Shaell perlahan-lahan menyusut hilang, digantikan oleh sebuah ketertarikan ganjil.


"Jadi, ini adalah rombongan tim lintas negaramu, kembaranku?" Shaell melepaskan suara terkekeh pendek, namun langkah kakinya justru mulai bergerak maju mendekat tanpa adanya rasa takut sedikit pun.


Di dalam saluran pembuangan air yang gelap, pengap, dan lembab itu, suasana seketika mendadak membeku.


Frayden, yang saat itu sedang sibuk membalut luka robek di kaki Rian, langsung membelalakkan kedua matanya. Gerakan tangannya terhenti seketika di udara, sementara rahang bawahnya tampak jatuh.


Ia menatap wajah Kael, beralih menatap wajah Shaell, lalu kembali melemparkan pandangannya ke arah Kael dengan ekspresi wajah seolah-olah ia baru saja melihat sesosok hantu di siang bolong.


Rian Falken pun, di tengah erangan lirihnya menahan rasa sakit yang luar biasa, tampak menyipitkan kedua matanya penuh selidik.


"Kael..." Frayden dengan nada suara yang bergetar seakan tidak percaya dengan penglihatannya. "Sejak kapan, kau punya kembaran di Dustland?!"


Shaell sama sekali tidak berniat memberikan celah bagi Kael untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ia mendengus kasar, melipat kedua tangannya di depan dada, lalu meludah ke arah samping lantai batu.


"Kembaran? Jangan pernah berani menghinaku, Orang Timur," sahut Shaell dengan nada sinis yang menusuk tajam. "Kesamaan muka dengan pria kaku ini adalah sebuah murni kesialan."


Kael hanya membisu. Seolah-olah memutuskan untuk tidak terpancing oleh kata-kata provokatif milik Shaell.


Shaell melangkah maju beberapa langkah, ekspresi di wajah berandalnya berubah menjadi sangat serius saat ia menatap ketiga orang Timur itu secara bergantian.


"Dengar baik-baik, wilayah Dustland sudah tidak lagi aman. Pasukan Sand Guard di atas kepala kita tidak sedang melakukan agenda patroli wilayah. Kalau kalian masih nekat berada di dalam kota ini sampai besok pagi, kalian semua hanyalah tumpukan mayat yang sedang menunggu giliran untuk dikubur di bawah pasir."


Ketiga pria Timur itu sontak tertegun. Namun, Shaell tiba-tiba saja kembali menyeringai lebar, memamerkan deretan barisan giginya yang tidak rapi.

Lihat selengkapnya