Semesta Kelana

Mashan
Chapter #2

GARONG

Dunia bagi manusia adalah apa yang mereka lihat, namun bagi seekor kucing seperti Garong, penglihatan adalah alat bantu terakhir. 

Jarang ada yang tahu, bahwa di setiap makhluk berbulu seperti dirinya menyimpan sebuah kompas rahasia di langit-langit mulut mereka. Alat yang letaknya cukup tersembunyi itu gunanya bukan hanya untuk menghirup udara, melainkan mencicipi dan mengunyah setiap molekul aroma hingga ke akarnya. 

Bagi Garong, Kompleks De Kucingos bukan sekadar bangunan beton yang berderet rapi, melainkan belantara megah berkumpulnya aroma. Mereka pandai bersembunyi di balik setiap pintu dari dua puluh hunian yang berdiri kokoh

Minggu pagi adalah jadwal Garong berpatroli di Blok E. Lajur paling barat yang membentuk barisan lurus empat unit rumah, berakhir di ujung blok yang buntu membelakangi Sungai Ciliwung. Kucing tuksedo itu bertengger di puncak pagar beton rumah nomor 17, posisi strategis sebagai gerbang masuk sekaligus tempat bertemunya berbagai jenis wewangian. 

Kali ini, ia menangkap wangi dari rimbun Pohon Jacaranda dan udara hangat yang berembus dari jalanan ibu kota. Menciptakan semilir yang menyusupi bulu-bulu hitam putihnya yang kusam dan mulai menipis di beberapa bagian. 

Ujung telinga kanannya yang sedikit robek berkibas pelan, mendeteksi gemerisik misterius di balik rimbun dedaunan. Lalu secara bergantian, telinga kirinya bergerak gusar, mengusir dua ekor lalat yang berdengung mengitari lehernya, tempat di mana sebuah luka lama belum sepenuhnya mengering.

Rasa gatal seketika menyiksa setiap kali keropengnya mulai terbentuk, memaksa cakarnya untuk menggaruk berulang kali hingga meninggalkan jejak basah kemerahan yang perih luar biasa.

Rumah nomor 17 yang tepat berada di belokan jalan itu milik Ibu Dewi, seorang wanita paruh baya yang tubuhnya selalu memancarkan aroma unik. Wanginya serupa dengan semilir dari hamparan kuncup bunga ungu yang mekar di halaman depan rumahnya, bercampur dengan segarnya kulit jeruk purut yang biasa ia temukan di gerobak tukang sayur.

Apakah itu sejenis wangi manusia baik hati? 

Pikir Garong yang hanya tahu bahwa aroma itu menenangkan dan membuatnya betah berlama-lama di atas pagar. Garong memejamkan mata kuning tembaganya, menyesapi aroma itu dalam-dalam. 

Seketika ingatannya mendadak berputar jauh ke belakang, pada sebuah peristiwa yang masih menjadi misteri sampai sekarang. Awal mula ketika ia menjadi penghuni kompleks De Kucingos.

Hari itu, ia terbangun dalam kondisi terbaring lemah di teras rumah Pak RT bersama beberapa kucing liar lainnya. Hal terakhir yang ia ingat hanyalah sekelompok manusia bermasker dan bersarung tangan. 

Salah satu di antara mereka adalah Ibu Dewi. Wanita berpostur ramping itu menatapnya dengan penuh iba, menggendong tubuhnya yang sempoyongan ke atas kursi teras. 

Kendati sebagian wajah wanita itu tertutup masker, Garong tidak bisa lupa akan tatapan teduh dari sepasang matanya yang bulat dan jernih. Cuaca panas hari itu membuat kulit di sekitar pelipisnya bersemu merah. Kucing tuksedo itu juga mengingat wangi bunga ungu yang tercium samar dari jas putih yang dikenakannya. Selebihnya, memori itu rontok. Garong hanya merasa bahwa ada bagian dari dirinya yang hilang setelah prosedur misterius itu. 

Satu hal yang pasti, beberapa hari setelah peristiwa itu, Garong kehilangan seluruh minatnya untuk mengejar kucing betina. Keinginan bertarung dengan kucing penguasa wilayah pun menguap begitu saja. Naluri liarnya mungkin telah dikebiri oleh kuasa makhluk asing, tetapi di atas puing-puing kejantanannya, jiwa kepemimpinan dan kebijaksanaan yang baru justru lahir.

Lihat selengkapnya