Garong masih mematung di atas tembok halaman rumah Ibu Dewi, menatap kosong ke arah jalanan. Tiba-tiba, dari balik rimbunnya tanaman hias di pekarangan rumah nomor 18 milik Pak Joko, sesosok gumpalan bulu lebat menyeruak keluar.
"Garooooong! Ngapain kamu melamun di situ?" Mochi mengeong nyaring, kepalanya menyembul di antara dedaunan. "Mang Ujang lagi libur! Jatah ikan gratis kamu hari ini juga ikut libur!"
Aroma sampo stroberi yang familier langsung menyengat hidung Garong, menandakan kehadiran Mochi—kucing ras Persia Calico yang menawan. Si betina belang tiga itu rupanya baru saja mencuri dengar percakapan telepon antara istri Pak Joko dan Mang Ujang, tukang sayur langganan warga kompleks.
Mochi melangkah keluar, menerobos paksa semak pembatas di sebelah kiri halaman yang memisahkan rumah Pak Joko dan Ibu Dewi. Tubuh gembulnya meninggalkan jejak terbelah di antara semak padat itu. Jalur pintas favorit yang terbentuk akibat terlalu sering ia lewati. Dengan langkah yang diatur sedemikian rupa, ia melenggang anggun memasuki halaman rumah dokter hewan itu.
Mantel bulunya tampak berayun lembut disapu angin pagi, seolah sengaja memamerkan paduan tiga warna di tubuhnya yang indah. Hamparan putih bersih di bagian dada dan kaki berpadu acak dengan bercak kelabu, serta rona oranye karamel yang hangat dari bagian punggung hingga kepala.
Lonceng di lehernya sengaja ia hentakkan hingga bergemerincing nyaring, demi mencuri perhatian Garong yang bertengger di atas tembok halaman. Ekor Mochi yang mengembang penuh bak kemoceng tiga warna meliuk tinggi, sesekali menyapu lumut hijau yang tumbuh subur di kaki tembok tempat si kucing tuksedo berjaga.
Setelah pamer keanggunan di depan Garong, Mochi berbalik. Ia berjalan memotong halaman menuju pangkal jalan setapak dekat pintu pagar. Dari sana, ia melangkah santai menyusuri jalur batu yang mengular indah hingga ke pilar teras. Di sudut pilar itulah, sebuah mangkok makan berwarna biru diletakkan. Mochi mendekat, lalu memeriksa sisa-sisa makanan di dalamnya dengan hidung yang mengendus-endus malas.
Begitu melihat barisan semut merah mulai mengerubungi butiran kibel, Mochi langsung menarik hidungnya kembali dengan mimik muka merengut, mencoba menghindarkan kumisnya dari serbuan pasukan semut merah, dan beralih ke kolong jendela di samping teras.
Langkah kaki Mochi membawanya masuk ke bawah naungan bunga kertas berwarna oranye dan merah muda yang menjuntai rimbun. Untaian kelopak bunga itu jatuh merunduk bagai tirai alam yang indah, menyembunyikan tubuh anggunnya dari dunia luar sekaligus menyulap sudut sunyi itu menjadi singgasana pribadinya.
Mochi merebahkan tubuhnya. Ia mulai menjilati gumpalan bulu kapasnya dengan syahdu. Tepat di depannya, sebaris lavender dan semak rosemary menguarkan wangi herba unik sebagai pengusir nyamuk. Semakin bertambah betah dirinya berlama-lama di pojok itu.
Tiba-tiba, dua kepala kucing kecil menyembul dari balik jendela Ibu Dewi yang berjajar tiga. Yin, si kucing hitam muncul di kaca tengah. Sedangkan Yang, si kucing putih mengintip penasaran di sisi kanan.
Kehadiran Mochi rupanya menjadi hiburan tersendiri bagi dua anak kucing yang sedang dikarantina itu. Mochi sempat mendongak, mengeong pelan untuk menyapa mereka sekilas, sebelum akhirnya kembali sibuk menjilati bulu-bulunya.
Seketika kedamaian bersolek itu terusik saat ekor matanya kembali menangkap siluet Garong. Ia memandangi temannya itu dengan heran, tidak biasanya mantan kucing pasar itu mematung kaku di atas tembok. Dalam situasi normal, kemunculan Mochi selalu berhasil memicu interaksi, atau minimal membuat si kucing tuksedo itu menoleh.
Namun kali ini, Garong benar-benar tak bergeming. Rasa penasaran kucing persia itu akhirnya mengalahkan rasa kesalnya sendiri akibat tidak digubris.
Mochi bangkit. Ia menjinjitkan kaki-kakinya dengan penuh perhitungan, sebuah naluri yang membuat langkahnya nyaris tidak terdengar sama sekali. Ia melintas anggun di antara pot-pot tanah liat berlumut yang berjajar mengelilingi halaman, memastikan mantel bulu indahnya tidak tergores oleh dahan-dahan tanaman yang mencuat.
Sayangnya, kesunyian langkah kaki itu sama sekali tidak berlaku bagi suaranya yang cempreng.
“Garoooooong… kok kamu cuek, sih?” Teriak Mochi sambil kembali mendekati tembok halaman Ibu Dewi..
Lengkingan manja yang sengaja dibuat-buat itu terdengar semakin nyaring, seolah ekornya baru saja terinjak sesuatu. Suaranya seketika memecah keheningan taman hijau nan asri itu, sekaligus membuyarkan konsentrasi Garong untuk kali kedua.
Aksi protes itu disusul dengan gerakan Mochi merunduk, meregangkan kaki depan, dan belakangnya secara bergantian. Kemudian ia sengaja menancapkan cakar-cakarnya ke badan pot tanah liat terdekat, sehingga menciptakan suara gesekan kuku yang berkerit pelan, ditambah lagi suara dari seringainya saat menguap.
Kali ini, Mochi benar-benar sudah mengusik ketenangannya. Kucing tuksedo itu akhirnya membuka mata dan mengabaikan kehadiran Mochi yang kini masih mondar-mandir di bawah tembok. Ia melirik sedikit ke arah kucing manja itu tanpa mengubah posisi duduknya.
Semenjak Pak Joko dan istrinya terikat penuh oleh kehadiran bayi yang baru lahir, Mochi memang sering uring-uringan karena kesepian. Kucing Persia berbulu kapas itu kini rutin menyambangi pekarangan Ibu Dewi, bukan cuma untuk mencari perhatian Garong, tapi juga untuk menggoda Yin dan Yang di balik jendela. Suara cemprengnya kini menjadi lagu pengantar tidur anak-anak kucing itu.
Bagi Garong, Mochi adalah representasi sempurna dari kebanyakan kucing rumahan di kompleks ini. Hidupnya terlalu membosankan di dalam gelembung kenyamanan. Pikirannya hanya berkutat pada jadwal pemberian makanan premium, rasa jengkel pada kurir paket yang berisik, dan ritual menjilati bulu-bulunya yang lebat demi menjaga penampilan.
Dengan luwes, Garong turun dan mendarat di aspal tanpa suara dan meninggalkan Mochi begitu saja. Kucing gempal itu tampaknya sedang malas mengobrol dengan bos berbulu milik Pak Joko. Ia melenggang tenang, seakan perihnya luka yang masih menggelayuti lehernya tidak dirasakannya.
Kaki-kakinya yang kokoh terlihat mantap berjalan dengan langkah rendah melintasi depan gerbang rumah Pak Joko, lalu berhenti tepat di dekat celah bawah pagar rumah Pak Gunawan. Garong mengawasi pintu jati rumah itu dengan seksama. Daun pintunya sedikit terbuka, suara-suara dan aroma aneh semakin tajam keluar dari dalam sana, menyeruak berjejalan masuk ke lubang hidungnya.
Kucing tuksedo kusam itu memejamkan mata nya sejenak, mengumpulkan kembali fokusnya yang sempat terpecah akibat ulah Mochi.
Garong telah mematahkan persepsi manusia, bahwa makhluk berbulu seperti mereka adalah hewan pemalas yang cuek, tukang tidur, egois, dan hanya peduli pada siapa yang memegang bungkus makanan. Padahal, di balik itu semua, mereka adalah pengamat paling tekun di muka bumi.
Saat Mochi melihat Garong pergi meninggalkan dirinya begitu saja, rasa penasarannya kini semakin terusik. Ia tidak sudi ditinggal sendirian di halaman. Sambil merengut kesal, ia mengibaskan buntut kemocengnya dengan dongkol, dan melangkah keluar ke arah jalanan beraspal. Sang Putri Persia itu ternyata mengekor dengan jarak aman di belakang Garong, hingga ikut berhenti di dekat batas pagar Pak Gunawan.
Tampak dari tempat mereka berdiri, Pak RT masuk dengan terburu-buru ke halaman rumah Pak Gunawan dan memberi salam sambil membuka pintu kayu jati yang sedari tadi terbuka setengah. Kini, hawa aneh dari dalam rumah itu semakin pekat menyerang penciuman Garong.
“Kamu nyium sesuatu yang aneh ngga, Mochi?” Garong mengeong tanpa menoleh ke belakang. Suara rendahnya yang serak, memancarkan otoritas sebagai kucing senior yang telah melewati puluhan musim kawin di Kompleks De Kucingos.