Langkah Tiara mendadak terhenti. Pandangannya terkunci pada salah satu sudut bangunan rumah mereka yang tampak janggal.
"Kak, kok jendela yang itu terbuka lebar? Bukannya pas kita keluar tadi cuma dibuka sedikit, ya?" tanya Tiara heran sambil mengernyitkan dahi. Ia menatap ke arah jendela samping.
Loki yang berjalan di sebelahnya segera melangkah cepat menyusuri jalan setapak taman untuk memeriksa. Dari jajaran tiga jendela aluminium putih di sana, bagian tengahnya memang sudah menganga lebar. Khawatir terjadi sesuatu, gadis tujuh belas tahun itu bergegas mengikuti langkah kakaknya.
"Engsel jendela yang bagian tengah ini agak kendor, sepertinya," ujar Loki seraya menahan daun jendela yang bergoyang.
"Anginnya kencang banget, jadi gampang terbuka.” Loki mendongak. Pemuda itu berdiri di dekat jendela dan mengamati angin yang menghantam dedaunan Jacaranda, meluruhkan helai-helai daun keringnya hingga berserakan di atas rumput halaman.
Ibu Dewi yang baru saja menutup pintu pagar, bergegas menyusul kedua anaknya. Firasat buruk langsung menyergap pikiran wanita itu. Keanggunan yang biasa terpancar dari wajahnya yang teduh, seketika luntur oleh rasa cemas. Sorot matanya yang biasa tenang, kini bergerak cepat menyapu ke seluruh sudut semak di halaman.
Sambil merapikan rambut sebahunya yang berantakan ditiup angin, ia melangkah masuk ke dalam rumah, memeriksa pojok ruangan dekat piano putih yang terpajang di ruang tamu, tempat di mana dua anak kucingnya biasa tertidur.
Nihil.
Mereka pergi hilang entah ke mana.
"Loki, Tiara! Yin dan Yang nggak ada di keranjang tidurnya! Di bawah kolong meja dan sofa juga nggak ada!” Kepanikan itu pun pecah di teras rumah Ibu Dewi.
"Yin! Yang! Kalian di mana?" panggil Ibu Dewi, wajahnya pucat dengan suara yang bergetar cemas. Terlihat di halaman, Loki dan Tiara memeriksa semak-semak.
Dari jalanan beraspal, Garong menatap tajam ke arah rumah Ibu Dewi. Kehebohan di sana cukup mengusik ketenangannya. Ada dorongan kuat untuk segera berlari ke rumah wanita baik hati itu. Sekadar memastikan apa yang sedang terjadi di sana. Namun, ia harus menahan diri untuk menunggu Mochi kembali dan membawa informasi dari rumah Pak Gunawan.
Kekhawatirannya tidak berlangsung lama. Dengan wajah penuh semangat, Mochi tampak berlari kencang membelah aspal, bergegas menghampiri Garong yang sudah menunggunya dengan tidak sabar.
“Mochi, lekas ke sini!” perintah Garong.
“Sepertinya mereka keluar dari rumah Ibu Dewi," desis Garong pelan.