Semesta Kelana

Mashan
Chapter #4

YIN YANG

"Kak, kok jendela yang itu terbuka lebar? Bukannya pas kita keluar tadi cuma dibuka sedikit, ya?” tanya Tiara heran sambil mengernyitkan dahi. Ia menatap ke arah jendela samping rumah mereka. 

Loki yang berjalan di sebelah Tiara, segera melangkah cepat menyusuri jalan setapak taman untuk memeriksa. Di sana, dari jajaran tiga jendela aluminium putih, bagian tengahnya memang sudah menganga lebar. 

Khawatir terjadi sesuatu, gadis tujuh belas tahun itu bergegas mengikuti langkah kakaknya.

"Engsel jendela yang bagian tengah ini agak kendor, sepertinya," ujar pemuda itu seraya menahan daun jendela yang bergoyang. 

"Anginnya kencang banget, jadi gampang terbuka.” Loki mendongak. Pemuda itu berdiri di dekat jendela dan mengamati angin yang menghantam dedaunan Jacaranda, meluruhkan helai-helai daun keringnya hingga berserakan di atas rumput halaman.

Ibu Dewi yang baru saja menutup pintu pagar, bergegas menyusul kedua anaknya. Firasat buruk langsung menyergap pikiran wanita itu. Keanggunan yang biasa terpancar dari wajah teduhnya seketika luntur oleh rasa cemas. Sorot matanya yang biasa tenang kini bergerak cepat menyapu ke seluruh sudut semak-semak halaman.

Sambil merapikan rambut sebahunya yang berantakan ditiup angin, ia melangkah cepat masuk ke dalam rumah, memeriksa pojok ruangan dekat piano putih yang terpajang di ruang tamu, tempat di mana dua anak kucingnya biasa tertidur. 

Nihil.

Mereka hilang entah ke mana.

"Loki, Tiara! Yin dan Yang nggak ada di keranjang tidurnya! Di bawah kolong meja dan sofa juga nggak ada!” Kepanikan itu pun pecah di teras rumah Ibu Dewi.

"Yin! Yang! Kalian di mana?" panggil Ibu Dewi, wajahnya pucat dengan suara yang bergetar cemas. Terlihat di halaman, Loki dan Tiara memeriksa semak-semak.

Dari jalanan beraspal, Garong menatap tajam ke arah rumah Ibu Dewi. Kehebohan di sana cukup mengusik ketenangannya. Ada dorongan kuat di kakinya untuk segera berlari ke rumah wanita baik hati itu demi memastikan apa yang sedang terjadi. Hanya saja, ia menahan diri. Ia harus menunggu Mochi kembali membawa informasi dari rumah Pak Gunawan.

Kekhawatirannya tidak berlangsung lama. Dengan wajah penuh semangat, Mochi tampak berlari kencang membelah aspal, bergegas menghampiri Garong yang sudah menunggunya dengan tidak sabar.

“Mochi, lekas ke sini!” perintah Garong.

“Sepertinya mereka keluar dari rumah Ibu Dewi," desis Garong pelan.

"Siapa? Manusia bermasker lagi?" tanya Mochi panik, mengingat curhatan Garong yang pernah ditangkap manusia bermasker misterius.

"Bukan. Yin dan Yang. Dua bocah itu tampaknya kabur keluar rumah.”

“Hah? Mereka kabur lewat mana?” tanya Mochi , matanya membulat penasaran.

“Entahlah, kemungkinan lewat jendela. Sepertinya mereka ingin mengejarmu. Kamu punya janji apa ke mereka?” Garong menatap Mochi dengan pandangan menuduh.

“Aku ngga janji apa-apa, kok! Cuma ngajak mereka main di halaman, tapi ngga jadi. Keburu ngikutin kamu yang main kabur gitu aja. Mana kutahu mereka nekat ngikutin aku di belakang?“ jawab Mochi sambil mendengus kesal. 

“Tahu begitu, kamu ngga usah ngikutin aku sampai ke sini. Kasihan Ibu Dewi dan anak-anaknya mesti nyari-nyari kucing.” sesal Garong, menatap Mochi dengan sorot mata menyalahkan.

“Lho! Kalau aku ngga ngikutin kamu, mana bisa kita dapat informasi baru tentang Lana? Siapa coba yang rela berkorban demi menguping di terasnya Pak Gunawan?” Jawab Mochi yang mulai tersudutkan.


Kucing anggun itu kemudian mengibaskan ekornya yang mengembang lebar, berdeham dramatis. “Lagian, kamu ngga tahu kan, dua bocah itu sama-sama kesepiannya kayak aku? Pak Joko sekarang cuma sibuk mengurus bayi. Aku ini dicuekin, Garong! Dicuekin!” Mochi menggeram pelan membela diri, hatinya makin dongkol.

Pandangan Garong kini tak lagi mengarah ke Mochi. Kucing tuksedo itu kembali mengawasi pagar rumah Ibu Dewi dan mengerahkan seluruh fokus pendengarannya ke sana.

"Garong, kamu dengerin aku ngga, sih? Terus nasib Lana, gimana? Aku baru saja dengar dari polisi… katanya…”

“Duh, kamu ini ganggu konsentrasiku saja!” potong Garong tegas, tanpa menoleh sedikit pun. “Nanti dulu, Mochi. Urusan Lana sementara ini kita tunda. Biarkan manusia-manusia itu yang bekerja.”

Mochi memperhatikan wajah Garong yang gusar. Ingin rasanya ia menjulurkan cakar dan menggaruk hidung kucing sok tahu itu karena sudah meremehkan perjuangannya.

“Ya sudah! Besok-besok aku ngga akan mau lagi ngikutin kamu atau jadi mata-mata! Kamu ngga tahu tegangnya aku ngumpet di balik pot bunga tadi. Mana dinyamukin lagi!” Mochi berbalik memunggungi Garong, lalu sibuk menjilati kakinya sendiri dengan gestur merajuk yang dibuat-buat.

Garong melirik Mochi yang mengembungkan pipinya. Kucing tuksedo itu menghela napas.

“Iya… iya… aku minta maaf, Mochi,” gumam Garong, mencoba meredakan drama rajukan Mochi. Ia tahu betul, ia masih butuh bantuan kucing manja yang serba tahu ini. “Tapi kali ini Ibu Dewi lebih butuh bantuan kita.”

“Lagian, kalau benar mereka kabur dan mengejarku, kenapa dari tadi kamu ngga ngelihat dua anak kucing itu lewat jalanan ini?” Mochi menghentikan jilatannya. Cakar-cakarnya mengais aspal dengan gelisah, meski pandangannya masih enggan menatap Garong.

“Itu dia yang bikin aku heran,” gumam Garong. Perhatiannya memang sempat terdistraksi penuh oleh aksi Mochi yang menguping di balik pot besar.

Kucing gempal itu kembali menegakkan tubuhnya, bersikap berwibawa bak komandan perang. “Kewajiban pertama kita adalah mengamankan kaum kita sendiri. Yin dan Yang masih terlalu kecil untuk bertahan di luar. Kalau mereka sampai ketemu Bleki atau Oon, habislah mereka.”

Garong terdiam sejenak. Ia memejamkan mata, memiringkan kepalanya, lalu menarik napas dalam-dalam melalu indra penciumannya yang tajam. Mengendus udara yang bergerak tipis dari arah rumah Ibu Dewi.

Bau gurih hati ayam bercampur wangi samar sampo kucing buatan pabrik seketika menyengat hidungnya. Jejak Yin dan Yang masih sangat segar, bergerak samar menelusuri batas selokan menuju rumah Pak RT.

Garong membuka matanya cepat. Ia menoleh ke arah Mochi yang sedang memperhatikannya dengan kening berkerut.

“Kita butuh bantuan tenaga ahli agar bisa menemukan mereka lebih cepat, Mochi. Aku tahu siapa yang bisa kita andalkan untuk urusan seperti ini.”

Mochi serta merta menegakkan kepalanya, langsung membusungkan dada. “Tenaga ahli apa? Aku juga tenaga ahli, ya! Ahli menguping dan menyusup!”

Garong tak menjawab. Ia sengaja mengatupkan mulut rapat-rapat, menghemat sisa energinya ketimbang harus meladeni drama susulan dari kucing manja di sampingnya itu.

Kucing tuksedo itu kembali menegakkan kakinya, merekahkan sederet cakar di kaki depannya hingga menggores permukaan aspal, lalu mendongak ke arah langit. Seketika, ia mengeluarkan satu suara lengkingan pendek dan tajam, serupa suara burung gereja yang sedang terancam. Suara itu bagai gelombang pemanggil yang merembet ke udara. 

Tak sampai tiga detik, sebuah bayangan hitam putih melesat turun dari atas genteng rumah Pak Gunawan dengan kecepatan tinggi. Hantamannya pada penutup seng bak sampah di depan pagar memicu bunyi debum yang kencang, cukup gaduh hingga mungkin membuat penghuni sekitar mengira itu sebagai suara ranting pohon yang jatuh. Agen De Kucingos itu mendarat mulus, menyisakan sedikit penyok pada seng yang dipijaknya.

Keni, seekor kucing jantan dengan dominan warna putih itu turun. Ia meregangkan kaki belakangnya yang ramping dan berotot, lalu berjalan santai ke arah Garong. Penampilannya cukup eksentrik dan mencolok dengan sepasang mata bulatnya yang dibingkai corak bulu hitam legam. 

Corak hitam itu melingkar sempurna bak topeng superhero, dipadukan dengan sejumput bulu hitam di dahi yang memotong lurus mirip poni manusia. Di bagian punggung dan pangkal ekornya, terdapat bercak hitam besar yang kontras, seakan mempertegas karakternya sebagai agen rahasia bertopeng.

“Siap, komandan! Tugas apa hari ini? Mengusir tikus got? Mengintai kurir paket? Atau mencakar ban mobil Pak Joko?" cerocos Keni tanpa titik koma. Hanya kucing bertopeng itu yang memanggil Garong layaknya komandan perang. Ia terbiasa mendengar pemiliknya, yang bertugas di pos keamanan kompleks, menyebut kalimat “Siap, komandan!” setiap kali menerima telepon dari atasannya.

"Yin dan Yang, kucing pendatang baru milik Ibu Dewi hilang. Mereka sepertinya bergerak ke arah rumah Pak RT, tapi anehnya aku tidak melihat mereka lewat sini. Aku butuh bantuanmu untuk mencari mereka." perintah Garong.

"Siap, laksanakan, komandan!” Keni berputar di tempat, lalu dengan satu hentakan kaki belakangnya yang luar biasa kuat, ia melesat ke atas, meniti sudut pertemuan di mana tembok pagar rumah Pak Gunawan dan pagar besi Pak RT saling berhimpitan.

 Tubuhnya meliuk lentur, memotong tepat di celah sempit tajamnya jeruji pagar Pak RT yang dipenuhi jalinan kawat berduri. Gerakannya seringan kapas, lolos dari rintangan ekstrem itu tanpa menggores sehelai pun bulu di tubuhnya. Keni adalah agen pengintai berbadan paling elastis yang dimiliki oleh geng De Kucingos.

Garong memperhatikan gerakan kilat Keni, lalu berjalan mengikutinya dan berhenti di batas halaman rumah Pak RT. Ia membiarkan kumisnya yang panjang sebelah menangkap arus udara yang terjepit di antara kerapatan rumpun Bunga Kenikir yang tumbuh subur di sana. 

Bagi Garong, untaian bulu di pipinya itu bukan sekadar hiasan wajah semata, melainkan jangkar spasialnya. Setiap kali ujung kumisnya bergesekan dengan batang bunga Kenikir, otaknya langsung memetakan labirin rintangan di depannya dengan presisi, memandu tubuh kekarnya melesat maju tanpa perlu memicingkan mata.

Garong menajamkan pendengarannya saat suara Keni terdengar dari atas Pohon Mangga milik Pak RT yang letaknya bersebelahan dengan kebun kosong.

“Komandan, saya mendengar suara tangisan anak kucing!" seru Keni dari ketinggian. Ia menyusuri ranting pohon untuk memastikan pendengarannya. 

"Tapi sepertinya mereka terjebak di dalam lubang yang ada di kebun kosong!” ucap Keni yang dengan secepat kilat turun menghampiri Garong di depan pagar Pak RT.

Penciuman Garong langsung menuntunnya berpindah ke arah kebun kosong. Ia mulai memilah atmosfer. Udara di lahan kosong yang dipenuhi tumbuhan liar itu terasa berlapis-lapis. Ada bau asam dari pembusukan buah rambutan ranum yang jatuh, bau karat besi yang teroksidasi air hujan di kawat berduri, dan aroma khas dari batang-batang ilalang yang patah akibat diterjang hujan badai. 

Namun, di antara semua itu, ada bau yang membuat bulu kusam di punggung Garong meremang, sejenis aroma dari ketakutan yang menguar pekat. Saat kucing dirundung stres, senyawa ketakutan mereka merembes keluar lewat kelenjar keringat. Kali ini, uap itu mengalir dari sebuah lubang tanah yang menganga, terbawa embusan angin, dan meninggalkan jejak tak kasatmata di udara.

 Bagi Garong, semua petunjuk itu bagai suar darurat yang menyala terang, menuntunnya lurus menuju sudut kebun. Garong berlari cepat menerobos hamparan rumput dan ilalang setinggi dada manusia yang tumbuh rapat di kebun kosong. Terlihat di belakangnya, Mochi terengah-engah mengekor sambil tak henti menggerutu. Kucing persia itu sibuk mengeluhkan bulu indahnya yang kini acak-acakan dan dipenuhi tusukan biji rumput jarum yang menancap kuat di sepanjang bulu kaki dan perutnya. 

Langkah mereka baru melambat saat tiba di sudut kebun, tepat di depan patahan pipa beton gorong-gorong yang terbuka. Pipa induk raksasa itu membentang jauh di bawah tanah kompleks. Di titik ini, atap betonnya sudah lama pecah dan runtuh akibat desakan akar pohon rambutan yang tumbuh subur di dekatnya, dan meninggalkan jejak lubang yang menganga gelap. 

Garong mencondongkan tubuhnya ke tepi lubang, menemukan kedua kucing kecil itu sudah basah kuyup dan menggigil kedinginan di dasar pipa. Tanpa ragu, kucing tuksedo itu melompat turun. Kakinya mendarat di atas lumpur hitam pekat beraroma khas limbah rumah tangga. Sensasi basah, dingin, dan lengket langsung menyergap bantalan cakarnya yang sensitif. Bagi Yin dan Yang, lubang pipa yang pecah di atas kepala mereka bagaikan perangkap maut. 

Lihat selengkapnya