Ibu Dewi dan kedua anaknya masih sibuk memanggil-manggil Yin dan Yang dengan wajah frustrasi. Mereka memeriksa ke segala penjuru sisi rumah, hingga akhirnya terdengar lengkingan heboh dari arah pagar depan.
“MEEE-ONG!!! MEE-OOONG!!! MEEE-OOOOOOOOOONG!!!”
Sebuah lengkingan suara yang luar biasa nyaring membelah udara Kompleks De Kucingos. Ibu Dewi, Loki, dan Tiara bergerak cepat menuju pagar depan rumah, terkejut mendengar teriakan seekor kucing yang tidak biasa itu. Begitu pintu itu dibuka dan pandangan tertuju ke arah jalanan, mereka mendapati Mochi sedang berdiri tegak di depan pagar.
Kucing persia itu mengeong heboh dengan wajah memelas sambil sesekali menjilati tubuhnya dengan gusar, sengaja ingin mengadukan nasib sialnya hari ini. Bulu-bulunya yang selembut kapas kini berantakan, dipenuhi serbuan biji rumput jarum yang menusuk-nusuk. Belum lagi aroma comberan yang tercium samar dari bantalan kakinya. Mochi benar-benar benci kondisinya saat ini.
“Lho, Mochi? Kamu habis dari mana, kok bulu-bulumu kusut banget?” Tiara menghampiri Mochi yang bulunya tampak menggumpal dan lepek pada bagian ekornya.
Gadis itu berjongkok, lalu mengelus lembut kepala kucing persia itu sembari jemarinya mulai mencabuti biji rumput jarum yang menempel dari punggung hingga ke ekor. Tiara mengira Mochi mengeong heboh karena kesakitan akibat tusukan tanaman liar tersebut. Namun, begitu belaian tangan Tiara sampai ke pangkal ekornya, buntut Mochi yang basah langsung mengibas-ngibas kaku ke satu arah, seolah sengaja menunjuk ke arah pagar rumah Pak Joko.
Dari tempatnya berjongkok, Tiara menengadah dan menghalau silau matahari dengan sebelah tangan, mengikuti arah kibasan ekor Mochi. Dari sana, samar-samar ia mendengar suara tangisan anak kucing yang sangat dihafalnya. Tak lama kemudian, muncul seekor kucing bercorak topeng Zorro berjalan tegap keluar dari semak-semak, diiringi dua anak kucing berbulu lepek yang mengekor pasrah. Detik itu juga, napas Tiara tertahan. Yin dan Yang akhirnya ditemukan.
“Ya ampun, Yiiin! Yaaang! Kalian dari mana saja?” Tiara langsung berlari menghampiri dan mendekap kedua anak kucing itu dalam pelukannya. Remaja SMA itu tidak memedulikan lagi kaus putihnya yang agak basah terkena sisa noda comberan.
Loki yang mendengar teriakan Tiara langsung berlari menghampiri.
“Kayaknya Mochi sama Keni yang nemuin mereka. Tuh lihat, badan mereka sama-sama ketempelan biji rumput,” ujar Loki seraya menatap bergantian Mochi dan Keni yang kini berdiri mematung di atas aspal.
Ibu Dewi segera menyusul kedua anaknya yang berkerumun di depan pagar. Wanita itu ikut berlutut, memeriksa kondisi Yin dan Yang yang masih berlumuran cairan hitam lengket.
“Wah, terima kasih banyak ya, Mochi dan Keni. Kalian sudah sangat berjasa menolong Yin dan Yang,” ujar Ibu Dewi sambil mengelus bergantian dua agen De Kucingos itu.
“Sebagai imbalannya, kalian boleh makan sepuasnya pakan kucing di teras. Halaman rumah kami selalu terbuka lebar untuk kalian, sekalian temani Yin dan Yang bermain, ya!” tambah Ibu Dewi hangat.
Mochi mendengus pelan. Tanpa perlu ditawarkan pun, selama ini aku memang selalu makan dan rebahan di terasmu, ucap batinnya geli.
Mochi tahu ia tidak punya banyak waktu untuk basa-basi. Seketika ia memiringkan kepala, lalu dengan sengaja menjepit lembut jari telunjuk Tiara menggunakan gigi-gigi kecilnya, menariknya pelan seolah memberi isyarat agar manusia itu mengikutinya.