Mochi menatap Garong yang masih membeku di dalam lubang gorong-gorong, penasaran dengan rencana yang sedang dipikirkannya.
"Lalu kamu sendiri mau ngapain diam di bawah situ, Garong?" tanya Mochi heran, merasakan ada perubahan yang terjadi dengan temannya itu.
Garong tidak menjawab. Kucing tuksedo yang bulunya kini lusuh terkena air comberan itu berjalan mendekati tumpukan sampah yang tersangkut di antara anyaman ranting. Di dalam pipa gorong-gorong, kaki depannya refleks berjingkat karena menginjak lumpur basah yang lengket. Sesekali ia mengibaskan cairan yang menempel di bantalan kakinya, lalu menjulurkan cakarnya, mengais tumpukan plastik bekas detergen dan ranting pohon yang menyumbat aliran.
Garong merasakan sesuatu yang keras tetapi elastis menyentuh ujung cakarnya. Ia menarik benda itu ke area yang lebih terang, tepat di bawah sorotan sinar matahari yang menerobos lubang. Terlihat sebuah bola plastik yang sudah kempes dan berlumuran lumpur hitam, terjepit tepat di bawah patahan ranting besar. Meskipun sebagian permukaannya kotor, sisa-sisa pola garis hitam dan warna kuning mencolok masih terlihat jelas.
Mata tembaganya menatap lurus ke arah lorong pipa yang gelap dan memanjang di bawah beton jalanan kompleks. Sebuah jalur tersembunyi yang mengalir tanpa hambatan, dan bermuara langsung ke tepi Sungai Ciliwung yang berarus deras.
Mochi yang masih mengawasi gerak-gerik Garong dari bibir lubang terkejut setengah mati begitu mengenali benda tersebut. Benda berwarna kuning telur yang baru saja dibicarakan Ibu Tari dengan polisi di ruang tamu.
“I-itu... bola milik Lana, anak manusia yang hilang itu!” bisik Mochi, suaranya mendadak kehilangan nada manja yang biasa ia buat-buat.
“Ini informasi yang tadi ingin kamu sampaikan?” tanya Garong, menengadah menatap Mochi.
“Iya, betul! Tadi aku ingin menceritakan soal bola kuning ini, tapi ucapanku sudah keburu kamu potong,” dengus Mochi setengah dongkol.
“Maafkan aku, Mochi. Aku terlalu panik dengan situasi yang menimpa Ibu Dewi,” jawab Garong penuh penyesalan.
Kucing jantan itu memutuskan untuk membiarkan bola plastik tersebut tetap berada di sela-sela ranting. Itu adalah barang bukti penting yang semestinya tidak diusik oleh makhluk berbulu seperti mereka.
“Berarti kemungkinan besar... anak itu tidak diculik oleh manusia,” gumam Garong dengan suara berat yang tertahan.
“Dua hari lalu, sebelum hujan badai datang, aku melihat penutup gorong-gorong utama di depan rumah Pak Gunawan bergeser setengah.”
Mochi terpaku, tatapan matanya terkunci pada kegelapan di bawah sana sementara ekornya bergerak gelisah.
“Maksudmu... anak itu jatuh ke sana?”
“Perkiraanku begitu, dia tergelincir masuk,” Garong mengangguk pelan. “Tubuhnya bisa jadi terseret ke pipa gorong-gorong besar ini. Jalur ini langsung menembus tembok pembatas dan bermuara di Sungai Ciliwung.”
Napas Mochi tertahan. “Lalu... kenapa bolanya bisa terdampar di dalam saluran ini dan ngga ikut bersama Lana?”
“Bisa jadi karena arus banjir dua hari lalu,” jawab Garong pendek, matanya beralih menatap langit-langit beton.
“Bolanya pasti terlepas di jalanan, hanyut ke kebun ini, lalu tersedot masuk lewat lubang gorong-gorong.” Garong menjeda kalimatnya.
Ada kilat kecemasan yang melintas di matanya, sesaat ia memandang sisa runtuhan dahan yang menyumbat saluran pipa tempatnya berdiri.
“Runtuhan ini yang menyelamatkan Yin dan Yang saat mereka tergelincir tadi. Arus air hari ini tidak begitu deras. Sedangkan dua hari yang lalu, debit air sedang tinggi-tingginya…” Garong terdiam sejenak. Ia mendadak kesulitan mengutarakan kemungkinan terburuk yang menimpa bocah lima tahun itu.