Semesta Kelana

Mashan
Chapter #6

Keni Si Pengintai

Matahari jam sebelas siang mulai memanggang jajaran genteng kelabu di Kompleks De Kucingos, menciptakan riak fatamorgana tipis di atas permukaannya yang panas. 

Namun bagi Keni, hawa panas itu adalah landasan pacu terbaiknya. Kucing bertopeng Zorro itu melesat bagai anak panah terlepas dari busurnya. Tubuh rampingnya meregang sempurna saat melompati sekat talang air, menyeberang mulus dari ujung genteng rumah Pak Gunawan ke deretan atap Pak RT.

Hentakan kakinya nyaris tanpa suara. Saat mendarat, tulang belakang Keni yang lentur langsung menekuk sempurna untuk meredam benturan. Tubuhnya yang amat elastis membuat agen pengintai ini selalu sanggup meloloskan diri dari celah sesempit apa pun.

Keni berjalan cepat di bubungan atap dan berhenti di kerangka berkarat tempat toren oranye Pak RT berdiri. Ia melakukan peregangan singkat, membiarkan angin mengibarkan bulu putih di dadanya yang kontras dengan mantel hitam di punggungnya. Tubuhnya bergerak lincah di antara siluet atap, membuat sosok Keni sulit ditangkap oleh penglihatan manusia biasa. 

Dari titik tertinggi itu, sepasang mata bulatnya bekerja bagai lensa yang melebar sempurna, menangkap setiap pergerakan di bawah sana tanpa perlu menoleh lagi. Arah pandangnya kini menyapu area kebun kosong, tempat manusia-manusia hilir mudik bak koloni semut yang didera panik. Di halaman depan rumah Pak Gunawan, Ibu Tari menangis histeris dalam pelukan Bu RT, sementara beberapa petugas polisi sibuk memasang garis kuning di sekeliling lubang pipa.

Keni mengabaikan kehebohan yang terjadi di bawah sana. Fokusnya beralih sepenuhnya pada tugas lanjutan dari Garong. Ia harus memetakan dan memastikan jalur perbatasan menuju Sungai Ciliwung aman dari intaian kucing-kucing preman Pasar Loreng.

Dari tiang toren itu, Keni mengambil ancang-ancang lalu melompat ringan ke dahan kokoh pohon kecapi yang tumbuh di sudut kebun kosong, dekat tembok rumah Pak RT. Dengan kelincahan yang terlatih, ia melesat lagi ke dahan pohon berikutnya. 

Kali ini, Keni sudah bertengger di dahan pohon beringin yang kokoh. Ia memanfaatkan rimbun daunnya sebagai pelindung dari pandangan manusia. Jalur hijau di sisi tembok pembatas itu menjadi jembatan hidup yang mengantarnya melompati area kebun kosong di bawahnya, tanpa perlu menerobos ilalang yang mengganggu jarak pandangnya. Hanya butuh beberapa lompatan tak bersuara di antara jalinan ranting. Tubuh ramping Keni sudah mendarat dengan mulus di atas tembok pembatas kompleks yang mengarah langsung dengan area Pasar Loreng. 

Di atas tembok itu, ada dua pohon rambutan rimbun yang memberi keteduhan bagi siapa saja yang berada di bawahnya. Dari titik bertenggernya ini, Keni bisa dengan leluasa menoleh ke belakang, menyaksikan betapa sibuknya petugas kepolisian yang mulai menyisir area kebun kosong, tepat di sekitar lubang gorong-gorong tempat Yin dan Yang sempat terjebak.

Semakin ia mendekati area Pasar Loreng, atmosfer udara mendadak berubah. Hamparan aroma dan kenyamanan domestik Kompleks De Kucingos seketika lenyap, digantikan oleh bau sangit pembakaran sampah milik warga yang tinggal di dekat pasar. Bagi Keni yang memiliki indra penciuman empat belas kali lebih tajam dari manusia, kabut jelaga itu serupa asap neraka yang menembus lubang hidungnya. 

Manusia sering kali membakar sampah dengan dalih kepraktisan, tanpa sadar mereka sedang meracuni udara yang memenuhi paru-paru banyak jiwa. Pembakaran itu tidak hanya melahap dedaunan kering, tetapi juga melelehkan berbagai macam sampah plastik, termasuk di dalamnya ada pembalut dan popok sekali pakai. Ketika plastik dan limbah kimia itu terpanggang api, mereka melepaskan senyawa tak kasat mata dan sangat beracun. 

Manusia mungkin hanya mengeluh batuk biasa, tetapi bagi makhluk sekecil Keni, partikel beracun itu langsung menusuk paru-parunya. Ironi ini semakin pekat karena aroma limbah plastik yang terbakar itu bercampur baur dengan anyir limbah jeroan ikan dan ayam dari pasar. Belum lagi sisa pembusukan sampah yang menyengat dan merembes dari jalanan pasar yang becek dan kumuh. 

Batas tembok beton ini seperti membelah dua dunia, antara kenyamanan yang higienis di dalam kompleks dan realitas pahit pengelolaan limbah yang karut-marut di luar sana.

Keni merendahkan tubuhnya hingga perut berbulu putihnya menempel pada area luar tembok pembatas kompleks. Kumis di pipi dan di atas matanya mendeteksi getaran dari gesekan bulu yang kasar di bawah sana.

Dua meter di bawah posisi Keni, di balik tumpukan peti kayu kosong milik pedagang pasar, muncul sebuah bayangan hitam legam yang bergerak-gerak menjilati cakar-cakarnya. Bleki, si kucing hitam legam berkaki pincang dengan telinga kiri yang robek setengah terlihat sedang bersantai. Di dekatnya ada Oon, si kucing oren berukuran jumbo, terlihat sedang sibuk menggigiti kantong plastik yang berisi beberapa potong kepala lele. Rupanya ia habis menggondol plastik itu dari lapak Dhani Ikan, tukang ikan yang terkenal tampan di Pasar Loreng.

Oon baru saja berhasil merobek plastik dan mengunyah kepala lele dengan khidmat ketika raung sirine mobil polisi membelah bisingnya pasar. Disusul samar riuh warga yang berkerumun di balik kebun kosong. Kegaduhan itu seketika menarik perhatian Bleki. Telinganya menegak kaku. Ia menyudahi kegiatannya menjilati cakar, lantas menatap tajam celah-celah tembok pembatas kompleks.

"Arus Ciliwung lagi deras banget dari kemarin," suara serak Bleki terdengar mendesis, ekor hitamnya bergerak gelisah, menghubungkan kedatangan polisi di kompleks dengan kondisi sungai yang mengalir tepat di ujung pasar.

“Awas aja kalau petugas-petugas itu berani ngubek-ubek tempat ini, wilayah kita buat cari makan bakal terganggu lagi.” dengus Bleki sambil mengubah posisi tubuhnya, membelakangi suara bising dari arah kebun kosong.

”Gara-gara mereka pasar jadi sepi dan kita jadi kelaparan. Giliran kita minta makan di warung, malah ditendang..." Bleki berhenti sejenak, mencoba menahan gejolak emosi di dada kerempengnya.

“Atau malah disiram air sisa rebusan mi instan yang masih panas..." lanjut Bleki lirih. Kemudian memandangi setengah perutnya yang licin tak berbulu. Rupanya jejak kemerahan dari sisa luka bakar itu masih menyimpan kenangan pahitnya sendiri.

Oon seketika berhenti mengunyah, menyisakan sungut lele yang menyembul di ujung bibirnya. Ia berusaha mencerna ucapan Bleki bersamaan dengan kepala ikan di mulutnya. Kucing oren itu menyipitkan mata, membiarkan mulutnya yang belepotan tetap menganga demi meresapi aroma asing di udara. Kini wajahnya makin terlihat dungu, seperti mempertegas alasan di balik nama panggilannya.

”Bleki, gua nyium sesuatu... kayak bau manusia dan kucing dari kompleks sebelah. Kalau dari baunya, jarak mereka ngga jauh dari sini," gumam Oon dengan suara serak. "Mereka mau nebar racun tikus dan nangkap kita lagi ya?”

"Bukan kita target mereka, Oon!" geram Bleki sambil menjitak kepala Oon dengan cakarnya.

“Terus mereka mau ngapain ngedekatin pasar kita?” tanya Oon penasaran.

Lihat selengkapnya