Semesta Kelana

Mashan
Chapter #7

REMBO

Langkah kaki Garong bergerak senyap, menjauhi kerumunan warga yang menyemut di tepi kebun kosong. Ia mengambil jalan pintas menuju halaman rumah Pak RT. Saat bantalan kakinya menapak lantai paving, hamparan bunga kenikir jingga tampak bermekaran, meletupkan warna kontras di atas rumput gajah yang hijau. Letupan warna itu seakan menyalakan kembali semangat yang redup di tengah riak pencarian Lana.

Garong memperlambat langkah. Ia membiarkan bulu gempalnya bergesekan lembut dengan kelopak bunga yang masih memendam sisa hujan semalam. Aroma tajam, getir, dan segar khas kenikir seketika menguar, memadati indra penciumannya.

Ia lalu menyelinap ke lorong sempit berbatu kali di samping rumah. Langkahnya mendadak terkunci saat mendapati bayangannya sendiri terpantul di kaca jendela yang menjulang. Kucing tuksedo itu tersentak, lalu terburu-buru pergi hingga derap langkahnya memicu gemertak halus bebatuan. Lorong itu menuntunnya menembus taman belakang.

Hawa hangat halaman depan seketika luruh digantikan sejuk yang membawa aroma rumput baru dipangkas. Di sepanjang jalan setapak, dari balik deretan pot aglonema merah-hijau, terhampar permadani lumut tebal. Begitu terinjak, Garong merasakan sensasi dingin, empuk, dan lembap merayap ke sela-sela cakarnya. Tanpa akar, koloni lumut itu bekerja layaknya spons raksasa—menjerat sisa air hujan lalu menguapkannya perlahan, memeluk taman dalam suhu yang teduh.

Langkah Garong terhenti di sudut taman, tepat di bawah rimbunnya pohon rambutan. Di sana, sebuah kandang besi besar berdiri dengan pintu yang sengaja dibiarkan menganga.

Kandang beralas handuk bekas itu dihuni seekor kucing tabi yang sedang telentang. Kaki kiri belakangnya terbalut perban putih tebal—sebentuk belenggu yang membuat pergerakannya kaku, bahkan sekadar untuk menggaruk telinga pun ia tak sanggup. Semua itu akibat aksi nekatnya tempo hari: mengejar penyusup di halaman Pak RT yang berakhir tragis saat tubuh lorengnya terserempet dan terlindas motor kompleks.

Rembo, sang mantan penguasa Pasar Loreng, kini terbaring pasrah membiarkan perut gembulnya disiram cahaya matahari. Selama masa pemulihan, Pak RT sengaja menempatkan kandang itu di luar agar ia bisa menghirup udara segar.

Semenjak menjalani prosedur misterius di teras Pak RT, fisik Rembo berubah drastis. Posturnya melebar akibat terlalu banyak makan dan minim gerak. Namun, wajahnya-lah yang selalu mengundang senyum. Corak bulu hitam di atas matanya membentuk alis yang selalu merengut—seolah ia menanggung beban cicilan utang yang tak pernah usai. Ditambah pola huruf M di keningnya, perpaduan itu membuat raut Rembo terlihat pasrah sekaligus menggemaskan.

“Mbo, bangun,” bisik Garong seraya menyundul pelan kening Rembo. “Gua butuh saran lu buat nyeberang ke Pasar Loreng.”

Kucing tua itu terkejut. Ia membuka sebelah kelopak matanya, menatap Garong dengan pandangan memelas seraya menghela napas berat.

“Ngapain sih lu masih ngurusin pasar terkutuk itu, Rong? Masa berjaya gua di sana udah abis,” gerutu Rembo sambil menggaruk perut buncitnya. “Lagian, lu kan bisa lompat lewat tembok dekat kebun kosong?” lanjutnya seraya mendaratkan kepala di atas lengan kanan.

Tiba-tiba, gesekan dahan rambutan di atas mereka menjatuhkan beberapa helai daun kering ke atap kandang. Detik berikutnya, Keni melompat turun dari cabang rendah dan mendarat lincah tepat di depan kandang Rembo. Setelah merayap dari tiang toren lalu melompat ke pohon, napas kucing itu terengah-engah, membawa sisa aroma sangit asap sampah yang melekat di bulunya.

"Jangan lewat tembok perbatasan, Komandan! Bahaya!" potong Keni cepat dengan lidah terjulur menahan haus. "Saya baru mantau dari sana dan hampir bentrok sama Bleki dan Oon. Geng loreng bakal jaga ketat. Mereka dengar kabar hanyutnya Lana di Ciliwung dari pembeli pasar. Kita bakal dikepung kalau nekat manjat."

Rembo menegakkan tubuhnya. Ekspresi malasnya berganti serius. “Lu minum dulu, Ken. Pelan-pelan jelasinnya,” perintah Rembo, menunjuk wadah air di dekatnya. Jiwa kepemimpinannya refleks bekerja. “Cepat juga info sampai ke sana. Lu berdua bisa babak belur dikeroyok anak buah Bleki.”

Rembo kembali menyandarkan tubuhnya, menatap lurus ke langit-langit kandang. Angin siang menyibak bulu perutnya yang menipis, menerbangkan ingatannya ke masa lalu—saat tubuhnya belum selebar dan seringkih ini.

Ia terbiasa dengan kerasnya jalanan, menahan sakit dan membiarkan luka sembuh sendiri. Namun kini, ia terkurung bagai pesakitan tua yang menggantungkan hidup pada obat-obatan kimia.

Dahulu, Garong dan Rembo adalah dua nama dari kubu berseberangan yang sanggup menggentarkan seluruh Pasar Loreng. Rembo memimpin geng pasar dalam yang menguasai lapak ikan, daging, dan sayur. Sementara Garong adalah komandan geng luar yang mengendalikan jalur strategis di tembok perbatasan hingga kolong JPO.

Lihat selengkapnya