Semesta Kelana

Mashan
Chapter #8

PASAR LORENG

Aroma Kompleks De Kucingos yang bersih seketika menguap begitu motor Mang Ujang mendekati kawasan Pasar Loreng. Kompleks mewah itu dibangun seolah memunggungi kawasan yang tak pernah sepi dari ramainya pembeli. Tembok pembatasnya yang berdiri kokoh, seakan membagi atmosfer antara ketenangan warga kompleks dan hiruk pikuk pasar tradisional. 

Perjalanan menuju pasar itu dimulai dengan keluar dari kemegahan gerbang utama De Kucingos. Mang Ujang harus memutari dinding pembatas dan memacu motornya sejauh seratus meter demi mencapai area depan pasar. 

Motor pemuda berkulit sawo matang itu sempat tersendat sejenak di barisan antrean portal parkir, menunggu palang besi bergaris hitam-kuning itu terangkat otomatis setelah memuntahkan selembar tiket. 

Selepas melewati portal, perjalanan membawa mereka membelah kawasan Pasar Kering yang tampak lebih lengang. Di kanan-kiri jalan, berjajar ruko-ruko permanen yang fasadnya tak lagi cerah akibat digerogoti noda hitam yang menjuntai turun di dinding putih kusamnya. Menghiasi aktivitas perdagangan di hari Minggu yang selalu ramai. Kawasan itu awalnya disambut dengan kilau etalase toko emas, deretan TV di toko elektronik, tumpukan kain di toko seragam sekolah, hingga aroma vernis dari toko mebel.

Namun, saat roda motor melewati jembatan kecil yang melintasi aliran cokelat Sungai Ciliwung, seketika udara anyir yang pekat merangsek masuk ke hidung siapa pun yang melewatinya. Pertanda mereka resmi memasuki area Pasar Basah.

Di seberang jembatan, rimbunnya pohon bambu yang tumbuh di bantaran, terlihat melengkung rendah, dan memayungi jalanan semen yang menjadi akses utama kendaraan. Tepat di balik rimbunan bambu, di sebelah kanan jalan terdapat tiga pintu masuk pasar. Atap seng berkarat berselimut jelaga seakan menyambut kehadiran mereka begitu roda motor melindas genangan air di kubangan jalan yang rusak. Aroma khas pasar basah yang berbau asin, seakan menusuk indra penciuman.

Di dalam gelapnya masing-masing kantung tas belanja Mang Ujang yang bersebelahan, dua pasang mata bersinar dalam kegelapan. Garong bisa mencium pembagian wilayah yang tegas dari ketiga pintu tersebut. Pintu pertama yang berdekatan dengan tempat pembuangan sampah menyemburkan aroma amis darah dari lapak daging, ayam, dan hasil laut. Pintu kedua mengembuskan bau tanah basah dari kawasan lapak sayur-mayur. Sementara pintu ketiga, menjadi kawasan paling tenang yang menyajikan aroma plastik dan kayu baru dari kawasan pedagang perabot rumah tangga.

Rencana penyusupan mereka telah berhasil, namun ujian sesungguhnya baru saja dimulai.

"Komandan..." bisik Keni dari kantung tas sebelah kanan. Selain dari efek guncangan roda, suaranya kini sedikit bergetar hebat dengan nada yang amat sangat berat.

"Jangan berisik, Keni. Mang Ujang nanti curiga dengan suara kita.” sahut Garong dari kantung tas sebelah kiri dengan suara rendah, bersiap-siap mengambil posisi tiarap.

Namun, Keni tidak menyahut lagi. Tubuh kucing bertopeng itu mendadak kaku di posisinya. Sepasang matanya melotot kosong, menatap lurus ke arah sebungkus plastik transparan berisi potongan ikan pindang deho dan tongkol iris segar yang jaraknya hanya dua sentimeter dari hidungnya. Air liurnya mulai menetes satu demi satu, membasahi bulu di bawah dagunya.

“Rasanya keteguhan hati ini sedikit goyah, Komandan! Setelah pagi ini mengevakuasi anak kucing dan melompat ke sana ke mari demi misi pengintaian, perut saya lapar luar biasa melihat belanjaan Mang Ujang ini.” rintih Keni yang mencoba sekuat tenaga menahan godaan untuk tidak merobek bungkusan plastik yang berisi ikan-ikan. 

Keni hanya mampu menahan gejolak dengan sesekali ia menjilati moncongnya yang makin basah oleh air liur, napasnya memburu seolah sedang lari maraton. Mendengar ocehan aneh Keni, Garong menengok ke arah lubang kecil di samping celah tas dekat roda. Rupanya tas Mang Ujang kurang bisa menahan amukan jeruji roda motornya. Ia mendesis keras tepat di sebelah kantung yang diisi Keni.

“Sadar, Keni! Kali ini kita bukan lagi main-main.” sergah Garong ketat. 

“Jangan sampai bungkusan ikan itu merusak reputasimu sebagai pengintai profesional De Kucingos. Tugasmu saat ini menjaga tas belanjaan Mang Ujang.”

"Tapi... tapi aroma bungkusan plastik ini sungguh lezat, Komandan..." Keni menelan ludah dengan susah payah, matanya masih melirik plastik pindang tersebut dengan tatapan tersiksa.

Motor Mang Ujang mengerem mendadak di area parkiran yang becek, tepat di samping bak sampah besar yang menempel pada tembok pembatas kompleks. Roda motornya kembali menggilas genangan air, namun kali ini warnanya hitam keruh. Jika ditelusuri, air genangan itu bersumber dari aliran sisa pembusukan sampah. Hantaman ban membuat cairan busuk itu seketika mencuat tinggi, melesat mengotori bagian bawah spanduk kampanye caleg pemilu tahun lalu yang terikat di tembok pembatas.

Lembaran berbahan vinil tersebut menampilkan foto seorang pria berkemeja putih rapi lengkap dengan peci hitam yang menghiasi kepala. Ia tersenyum kaku dengan hasil suntingan komputer yang berlebihan, berlatar warna kuning hijau mencolok khas partai pengusungnya. Di pojok kanan atas, logo Partai Bintang Sejahtera yang berbentuk lingkaran gerigi tampak mulai memudar. Tepat di bagian atas peci hitam si caleg, tertulis sebuah slogan mentereng yang berbunyi, “Coblos nomor 10! Pasar Sejahtera, Jalanan Rata, Rakyat Bahagia.” 

Kalimat janji revitalisasi dan pembenahan aspal jalanan Pasar Loreng tahun lalu, yang ironisnya hingga hari ini hanya menjadi saksi bisu bagi kubangan yang tak kunjung sembuh. Angin kencang siang itu membuat salah satu ikatan spanduk sedikit melorot, membuatnya terlihat seakan sedang memanggul beban berat dari janji manis yang tertulis.

Sementara itu, moncong motor bebek Mang Ujang berhenti tepat menghadap ke arah pintu pertama. Di depannya, jajaran bendera partai yang lusuh dan rapuh tampak berkibar lesu, terikat sepanjang pagar besi pembatas berwarna hijau kusam. Pagar itu memisahkan area parkir dengan jalan setapak untuk memasuki area pasar basah. Lambaian kain-kain usang itu menjadi patokan gerbang tidak resmi Pasar Loreng. Bagi Garong, pasar itu bagaikan labirin kumuh dan bising karena terlalu sering dijadikan arena adu urat leher, baik itu manusia maupun hewan.

Mang Ujang buru-buru mematikan mesin motornya. Wajahnya tampak tegang dikejar waktu untuk memenuhi pesanan para pelanggannya di hari Minggu. Hari yang bernilai rupiah lebih daripada hari biasa. Tanpa membuang waktu lagi, ia menurunkan standar motor, menyampirkan handuk biru kecil di lehernya, dan beranjak setengah berlari menuju lapak Asep Ayam, Dhani Ikan, dan Dimas Daging langganannya, meninggalkan tas kurir hijaunya dalam kondisi setengah terbuka di kedua sisinya.

"Keni! Mang Ujang sudah pergi. Saatnya aku keluar. Ingat ya, kalau sampai kamu sentuh bungkusan-bungkusan itu, apalagi sampai berani memakannya, maka kita berdua telah gagal menepati sumpah De Kucingos!” Dengus Garong.

“Kamu enggak mau kan masa tuamu berakhir jadi kucing gelandangan di kolong jembatan itu lagi?” ancaman Garong seakan menyambar seperti sengatan petir di siang bolong. Keni langsung menegakkan tubuhnya di dalam kantung kanan, memasang posisi siaga satu dengan kaki depan yang gemetar menahan rasa lapar yang memburu. 

"Siap, Komandan! Misi dipahami! Saya akan menjaga tas ini dengan segenap jiwa raga!” Jawab Keni patuh.

“Tapi izin, komandan! Saya ingin berjaga di luar tas ini saja. Saya khawatir belanjaan Mang Ujang dipenuhi bulu pantat saya dan sepertinya tahu sutra di bungkus plastik ini agak hancur saya duduki.” Keni melihat plastik bening isi tahu sutra itu kempes dan bocor airnya. Meninggalkan jejak basah di dasar tas. 

Lihat selengkapnya