Matahari jam sebelas siang mulai memanggang jajaran genteng kelabu di Kompleks De Kucingos, menciptakan riak fatamorgana tipis di atas permukaannya yang panas.
Namun bagi Keni, hawa panas itu adalah landasan pacu terbaiknya. Kucing bertopeng Zorro itu melesat bagai anak panah terlepas dari busurnya. Tubuh rampingnya meregang sempurna saat melompati sekat talang air, menyeberang mulus dari ujung genteng rumah Pak Gunawan ke deretan atap Pak RT.
Hentakan kakinya nyaris tanpa suara. Saat mendarat, tulang belakang Keni yang lentur langsung menekuk sempurna untuk meredam benturan. Tubuhnya yang amat elastis membuat agen pengintai ini selalu sanggup meloloskan diri dari celah sesempit apa pun.
Keni berjalan cepat di bubungan atap dan berhenti di kerangka berkarat tempat toren oranye Pak RT berdiri. Ia melakukan peregangan singkat, membiarkan angin mengibarkan bulu putih di dadanya yang kontras dengan mantel hitam di punggungnya. Tubuhnya bergerak lincah di antara siluet atap, membuat sosok Keni sulit ditangkap oleh penglihatan manusia biasa.
Dari titik tertinggi itu, sepasang mata bulatnya bekerja bagai lensa yang melebar sempurna, menangkap setiap pergerakan di bawah sana tanpa perlu menoleh lagi. Arah pandangnya kini menyapu area kebun kosong, tempat manusia-manusia hilir mudik bak koloni semut yang didera panik. Di halaman depan rumah Pak Gunawan, Ibu Tari menangis histeris dalam pelukan Bu RT, sementara beberapa petugas polisi sibuk memasang garis kuning di sekeliling lubang pipa.
Keni mengabaikan kehebohan yang terjadi di bawah sana. Fokusnya beralih sepenuhnya pada tugas lanjutan dari Garong. Ia harus memetakan dan memastikan jalur perbatasan menuju Sungai Ciliwung aman dari intaian kucing preman Pasar Loreng.
Dari tiang toren itu, Keni mengambil ancang-ancang lalu melompat ringan ke dahan kokoh pohon kecapi yang tumbuh di dekat tembok rumah Pak RT. Dengan kelincahan yang terlatih, ia melesat lagi ke dahan pohon berikutnya. Kali ini, Keni sudah bertengger di dahan pohon beringin yang kokoh. Ia memanfaatkan rimbun daunnya sebagai pelindung dari pandangan manusia.
Jalur hijau di sisi tembok pembatas itu menjadi jembatan hidup yang mengantarnya melompati area kebun kosong di bawahnya, tanpa perlu menerobos ilalang yang mengganggu jarak pandangnya. Hanya butuh beberapa lompatan tak bersuara di antara jalinan ranting. Tubuh ramping Keni sudah mendarat dengan mulus di atas tembok pembatas kompleks yang mengarah langsung dengan area Pasar Loreng.
Di atas tembok itu, ada dua pohon rambutan rimbun yang memberi keteduhan bagi siapa saja yang berada di bawahnya. Dari titik bertenggernya ini, Keni bisa dengan leluasa menoleh ke belakang, menyaksikan betapa sibuknya petugas kepolisian yang mulai menyisir area kebun kosong, tepat di sekitar lubang tempat Yin dan Yang terjebak.
Semakin mendekati area Pasar Loreng, atmosfer udara mendadak berubah. Hamparan aroma dan kenyamanan Kompleks De Kucingos seketika lenyap, digantikan oleh bau sangit pembakaran sampah milik warga yang tinggal di dekat pasar. Bagi Keni yang memiliki indra penciuman empat belas kali lebih tajam dari manusia, kabut jelaga itu serupa asap neraka yang menembus lubang hidungnya.
Manusia sering kali membakar sampah dengan dalih kepraktisan, tanpa sadar mereka sedang meracuni udara yang memenuhi paru-paru banyak jiwa. Pembakaran itu tidak hanya melahap dedaunan kering, tetapi juga melelehkan berbagai macam sampah plastik, termasuk di dalamnya ada pembalut dan popok sekali pakai. Ketika plastik dan limbah kimia itu terpanggang api, mereka melepaskan senyawa tak kasat mata dan sangat beracun. Manusia mungkin hanya mengeluh batuk biasa, tetapi bagi makhluk sekecil Keni, partikel beracun itu langsung menusuk paru-parunya.
Ironi ini semakin pekat karena aroma limbah plastik yang terbakar itu bercampur baur dengan anyir limbah jeroan ikan dan ayam dari pasar. Belum lagi sisa pembusukan sampah yang menyengat dan merembes dari jalanan pasar yang becek dan kumuh. Batas tembok beton ini seperti membelah dua dunia, antara kenyamanan yang bersih di dalam kompleks dan realitas pahit pengelolaan limbah yang karut-marut di luar sana.
Keni merendahkan tubuhnya hingga perut berbulu putihnya menempel pada area luar tembok pembatas kompleks. Kumis di pipi dan di atas matanya mendeteksi getaran dari gesekan bulu-bulu kucing yang ada di bawah sana.
Dua meter di bawah posisi Keni, di balik tumpukan peti kayu kosong milik pedagang pasar, terlihat sebuah bayangan kucing hitam legam yang bergerak-gerak menjilati cakar-cakarnya. Bleki, si kucing hitam berkaki pincang dengan telinga kiri yang robek setengah terlihat sedang bersantai. Di dekatnya ada O'on, si kucing oren berukuran jumbo, terlihat sedang sibuk menggigiti kantong plastik yang berisi beberapa potong kepala lele. Rupanya ia habis menggondol plastik itu dari lapak Dani Ikan, tukang ikan yang terkenal tampan di Pasar Loreng.
O'on baru saja berhasil merobek plastik dan mengunyah kepala lele dengan khidmat ketika raung sirine mobil polisi membelah bisingnya pasar. Disusul samar riuh warga yang berkerumun di balik kebun kosong. Kegaduhan itu seketika menarik perhatian Bleki. Telinganya tampak menegang tegak, seolah terpasang radar. Ia menyudahi kegiatannya menjilati cakar, lantas menatap tajam celah-celah tembok pembatas kompleks yang sedikit retak.
"Hari gini polisi-polisi itu baru datang. Padahal orang pasar dari kemarin subuh udah heboh ada anak kompleks yang hilang," suara serak Bleki mendesis. Ekor hitamnya mengibas gelisah, mengaitkan kedatangan polisi dengan kabar hilangnya Lana.
“Awas aja kalau petugas-petugas itu berani ngubek-ubek tempat ini. Wilayah kita bakal terganggu lagi.” Bleki mendengus gusar, mengubah posisi duduknya untuk membelakangi suara bising dari arah kebun kosong.
"Hah? Emangnya lagi ada heboh apaan di kompleks sebelah, Bleki?" tanya O'on bingung, sama sekali tak paham arah pembicaraan.
Bleki tak acuh pada pertanyaan itu. Sejak raungan sirine polisi terdengar, dada kerempengnya sudah kepanasan oleh tumpukan kekesalan.
”Gara-gara mereka, pasar jadi sepi dan kita kelaparan. Pas kita minta makan di warung, malah ditendang..." Suara Bleki tertahan sejenak. "Atau malah disiram air sisa rebusan mi instan yang masih panas."
Ia menunduk, memandangi sebagian perutnya yang licin tanpa bulu. Berkas luka bakar yang memerah di sana masih menyimpan kenangan pahit yang tak pernah benar-benar sembuh.
Di sampingnya, O'on seketika berhenti mengunyah. Sungut lele masih menyembul dari ujung bibirnya. Ia berusaha mencerna ucapan Bleki berbarengan dengan kepala ikan di dalam mulut. Sambil menyipitkan mata dan membiarkan mulutnya belepotan menganga untuk menghirup udara, wajah kucing oren itu makin kelihatan dungu. Seolah memvalidasi alasan di balik nama panggilannya.
”Bleki, gua nyium sesuatu... kayak bau manusia dan kucing dari kompleks sebelah. Kalau dari baunya, jarak mereka ngga jauh dari sini," gumam O'on dengan suara serak. "Mereka mau nebar racun tikus dan nangkap kita lagi ya?”
"Bukan kita target mereka, O'on!" geram Bleki sambil menjitak kepala Oon dengan cakarnya.
“Terus mereka mau ngapain ngedekatin pasar kita?” tanya Oon penasaran.