Semesta Kelana

Mashan
Chapter #9

SIHIR DE KUCINGOS

Dari sela jok motor, Keni menatap nanar ke arah Pintu Satu Pasar Loreng. Garong belum juga muncul membawa kabar dari bantaran Ciliwung, sementara bayang-bayang preman geng musuh mulai berkeliaran di sudut-sudut lorong pasar.

Kucing berbadan lencir itu tak sanggup lagi menahan siksaan perutnya. Perut yang mengempis itu melilit perih, memaksa Keni meringkuk lemah dengan erangan yang tertahan. Tiba-tiba, gesekan sepasang sandal jepit memecah gelisah dari kejauhan. Langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa itu milik Mang Ujang. Kedua tangannya sarat oleh beraneka bungkusan plastik belanjaan.

Mendengar erangan ganjil yang berasal dari balik tas di jok motornya, Mang Ujang tersentak. Langkahnya terhenti seketika hingga jalinan kantong plastik di jarinya hampir terlepas. Ia mengerjapkan mata, menatap kucing bercorak bertopeng hitam khas Zorro yang tampak tak asing baginya.

“Lho, ini téh bukannya kucing yang suka nongkrong di pos satpam kompleks, ya?” Pemuda berlogat Sunda itu mendekat, matanya menyipit penuh selidik. Ia memandangi Keni yang merintih lemas, lalu beralih menatap tas kain hijau barunya yang penutupnya sedikit menganga.

Ketika Mang Ujang memeriksa barang belanjaan yang tertinggal, ia mendapati bungkus tahu sutra telah robek dan benyek. Kerut di dahinya bertambah dalam, seakan potongan teka-teki misterius sedang terangkai cepat di kepalanya.

”Jangan-jangan... kamu menyusup masuk ke dalam tas belanjaan saya dari rumah Pak RT, ya?”

Meskipun dongkol karena dagangannya rusak, wajah memelas dan erangan Keni berhasil meluluhkan hati kurir itu. Mang Ujang menghela napas panjang, menyangkutkan bungkusan ke setang motor. Dengan telaten ia memindahkan barang-barang yang utuh ke plastik kosong, lalu menyisihkan tahu yang hancur. Ia merogoh kembali isi tasnya, mengeluarkan sekantong plastik berisi ikan tongkol iris.

Jemari kasarnya mulai sibuk mencubit suwiran daging tongkol mentah itu. Keni mencuri pandang, lalu beralih memantau pintu pasar yang masih sunyi. Tugas mengulur waktu berhasil, batinnya, seraya mengibaskan ekor dan memasang wajah sejinak mungkin.

Keni akhirnya bisa menikmati legitnya daging tongkol, menuntaskan dahaga dan lapar yang ditahannya sepanjang perjalanan. Namun, baru beberapa kunyahan mendarat di kerongkongannya, kehebohan dahsyat meledak dari arah jembatan.

”Astaga! Itu kucing siapa berantem sampai kecebur kali?! Coba tolongin dulu, kasihan!”

Pekikan nyaring seorang pedagang mengalihkan perhatian Mang Ujang. Pemuda itu membeku, lantas buru-buru menyeka sisa amis di tangannya dengan handuk di leher.

Dengan mulut masih mengunyah tongkol, Keni seketika menegakkan telinga. Instingnya menangkap gelombang bahaya yang membuat bulu kuduknya berdiri—ia tahu persis siapa yang sedang diributkan. Kerumunan manusia dalam sekejap menyemut, berlarian memadati pembatas jembatan.

Gemuruh Ciliwung yang meluap menghantam tebing sungai dengan keras. Warga yang semula menonton mendadak terdiam kaku. Seorang petugas kebersihan berbaju oranye yang melihat tubuh dua kucing terseret arus liar segera bertindak. Dibantu rekannya, ia nekat terjun ke area pinggiran sungai yang bergolak, mengandalkan ban dalam bekas sebagai pelampung darurat.

Angin sungai yang mengusung aroma limbah dan tanah basah mendadak terasa membeku, menyisakan keheningan yang ganjil dan menindih. Gulungan arus itu, Garong merasakan gravitasi telah kehilangan kuasanya. Keriuhan dari atas jembatan perlahan surut, tergantikan oleh kesunyian pekat yang menelan tubuhnya bulat-bulat.

Paru-parunya serasa dihantam ribuan jarum es. Rasa sakit yang tajam itu berangsur memudar, melarut dalam kebas dingin yang melahirkan kehampaan tanpa batas. Kesadarannya menipis, mengambang bebas bagai selembar daun kusam yang pasrah diseret arus. Di dalam kegelapan rahim Ciliwung yang menghanyutkannya, waktu tak lagi bergerak maju. Ia berputar balik secara paksa, menyeret Garong melintasi sekat-sekat memori kelam yang selama ini ia kunci rapat di dasar jiwanya.

Lihat selengkapnya