Seolah melangkah ke dalam ruangan mahaluas yang memutar rekam jejak kehidupannya, Garong menyaksikan bayangan dirinya sewaktu kecil terpampang di layar lebar. Lembaran putih itu kian terbentang, memutar kembali seluruh peristiwa yang pernah membentuk guratan lukanya.
***
Gulungan Pertama
Seorang lelaki berpostur tinggi mengenakan topi dan pakaian serba hitam tergesa-gesa mengeluarkan sesuatu dari dalam gudang rumahnya. Rupanya ia membawa sebuah kardus bekas mi instan untuk memasukkan Garong kecil dan induknya pergi entah ke mana. Tanpa dibekali makanan sedikit pun, lelaki itu membawa mereka pergi jauh. Lalu berhenti di sebuah pasar dan menaruh kardus itu begitu saja di sudut lorong yang sepi. Garong kecil menangis dan mengeong kebingungan sementara induknya mencoba menenangkannya dengan menjilati kepalanya. Entah alasan pasti apa yang membuat mereka dibuang, Garong hanya tahu hari itu adalah pertemuan terakhir dengan induknya.
Garong tercekat melihat tiap adegan di layar itu, seakan masih ingat bagaimana rasa ketakutannya melihat kepungan kaki-kaki manusia yang melangkah tergesa-gesa. Salah satu dari mereka mengambil paksa induknya dari dalam kardus tanpa memedulikan keberadaan dirinya. Ia mencoba lari sampai ke emperan pasar yang ramai, tapi kaki kecilnya terlalu lemah untuk mengejar induknya yang sudah dibawa kabur oleh orang tak dikenal. Tidak ada uluran tangan yang ingin membawa dan menolongnya di tengah situasi yang serba asing.
Bisingnya kendaraan bermotor yang berlalu lalang membuatnya kembali menangis dan meraung ketakutan karena terpisah dari induknya. Garong berlari hingga ke tengah jalanan pasar yang becek untuk melihat penampakan induknya yang semakin hilang menjauh, hampir saja kendaraan-kendaraan itu nyaris melindas tubuh kecilnya. Ia menepi di pinggir lapak pedagang buah yang tampak masih sepi pembeli. Kehidupan pasar yang keras seakan mempercepat laju waktu yang berjalan di bentangan layar. Semua yang ia lewati memaksanya untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
Garong remaja belajar mencakar, merebut makanan, bahkan menguasai wilayah. Hingga saat beranjak dewasa, ia berhasil menjadi komandan geng preman di area pasar basah. Semua kucing jalanan takut padanya.
***
Gulungan Kedua
Garong merasakan jalinan waktu berputar begitu cepat muncul di layar yang semakin lebar bentangannya.
Tubuhnya kini direngkuh oleh sesuatu yang mencengkeramnya kuat. Rupanya seorang remaja lelaki membawanya pergi dari riuhnya pasar. Kucing itu dibawa ke sebuah rumah sederhana yang terasnya tampak kurang terawat. Di sana, terparkir sebuah mobil bak berwarna biru kusam yang sudah mulai berkarat di beberapa bagian. Terlihat ada beberapa karung plastik yang ditumpuk asal di atasnya. Lalat-lalat hijau menari-nari riang dan hinggap mengelilingi ikatannya.
Garong dibawa ke dalam rumah, udara pengap berbau apak menyerang penciumannya. Terlihat ruang tamunya dipenuhi dengan berbagai jenis tengkorak hewan yang berjajar di lemari kayu dan juga tanduk-tanduk hewan yang terpajang di dinding. Semuanya tampak berdebu dan kurang terawat.
Masuk ke area dapur, ia melihat gelas dan piring kotor menumpuk memenuhi bak cucian piring. Aroma asam dari proses pembusukan sisa makanan tercium kuat di area itu, membuat Garong semakin gelisah. Kini pandangannya beralih ke lantai dapur, ia melihat begitu banyak kotoran hewan yang sudah mengering dan menempel di sana sini. Bak-bak pasir terlihat penuh kotoran hewan yang dibiarkan menggunung.
Langkah kaki remaja itu berlanjut ke area belakang rumah yang hawanya tidak terlalu pengap. Terlihat kandang-kandang besar saling tumpang tindih berisi kumpulan kucing dan anjing yang saling mengeong dan menggonggong saat melihat remaja itu membawa Garong.
“Pak, saya dapat satu lagi dari pasar.” Lapor remaja itu kepada seorang lelaki yang membawa sebuah karung goni. Terlihat bercak darah membasahi dasar karung berwarna coklat itu.
“Bawa ke sana, masukkan ke bagian kandang kucing yang baru di tangkap hari ini.” ujar lelaki paruh baya itu keluar dari sebuah ruangan remang-remang sambil berlalu pergi. Remaja itu perlahan memasukkan Garong ke dalam kandang yang berisi lima ekor kucing. Mereka terlihat ketakutan dan mendesis saat melihatnya, seakan kehadiran Garong mengancam nyawa mereka.
***
Gulungan Ketiga
Layar putih kusam itu kembali berputar. Kini remangnya ruangan seketika pecah oleh suara hantaman keras yang berasal dari pintu. Raungan sirene bersahut-sahutan dari luar pagar rumah, mengiringi derap langkah sepatu bot puluhan petugas Satpol PP dan aparat kepolisian yang merangsek masuk melakukan sidak besar-besaran.
Dari balik jeruji kandang yang sempit, Garong dewasa menyaksikan kepanikan yang terjadi. Lelaki pemilik rumah berhasil ditangkap dengan wajah babak belur karena berusaha kabur dan memberontak, sedangkan si remaja tanggung yang menangkapnya lari kocar-kacir. Ia mencoba melompati pagar belakang dan berhasil melarikan diri dari kejaran polisi.
Suara benturan kandang besi yang tumpang tindih berdentang nyaring saat petugas dinas bermasker dan bersarung tangan tebal mulai mengevakuasi hewan-hewan yang tampak lemas. Operasi malam itu memicu efek domino yang tidak hanya menghancurkan sebuah bisnis ilegal, tetapi juga merembet pada penggeledahan lapak-lapak pedagang di Pasar Loreng yang dicurigai membantu penjualan barang-barang ilegal itu.
Di tengah kekacauan dan jeritan histeris hewan-hewan yang terkurung, pintu kandang Garong akhirnya terbuka.
***
Gulungan Keempat
Putaran layar takdir membawa Garong terdampar di Kompleks De Kucingos, tepatnya di teras rumah Pak RT yang mendadak disulap menjadi posko darurat. Rupanya, hewan-hewan yang sebelumnya terkurung di rumah tadi dibawa oleh ketua tim yang ikut serta dalam aksi penggerebekan malam itu. Halaman rumah Pak RT kini dipenuhi manusia bermasker dan bersarung tangan yang sibuk menjajarkan puluhan kucing liar yang tidak sadarkan diri akibat efek obat bius.
“Bu Dewi, untuk langkah selanjutnya, semua kucing dan anjing ini mau kita bawa kemana?” Tanya Pak RT kepada ketua tim penyelamatan hewan.
“Nanti mereka bisa tinggal di rumah singgah saya, Pak RT. Sebisa mungkin mereka dirawat dan hidup dengan layak. Syukur kalau ada yang berminat mengadopsi mereka.” Jelas Ibu Dewi selaku ketua tim yang bertanggung jawab.