Semesta Kelana

Mashan
Chapter #11

SIHIR DE KUCINGOS

Keni meringkuk lemah di sela jok motor, menahan pilu rasa lapar yang menggigit perutnya. Tatapannya cemas mengarah ke pintu Pasar Loreng, menantikan Garong yang tak kunjung kembali dari bantaran Ciliwung.

Dari arah pintu pasar, derap sandal jepit terdengar makin mendekat. Mang Ujang berjalan tergesa menjinjing bungkusan-bungkusan plastik di kedua tangannya.

Begitu mendengar erangan tak biasa dari motornya, Mang Ujang mendadak berhenti. Ia memicingkan mata, berusaha mengenali si kucing bertopeng Zorro yang kerap berkeliaran di Kompleks De Kucingos.

“Lho, ini téh bukannya kucing yang suka nongkrong di pos satpam kompleks, ya?” pemuda dengan logat khas Sunda itu mendekat, matanya menyipit penuh selidik. Ia memandangi Keni yang masih merintih lemas, lalu beralih menatap tas belanja kainnya yang penutupnya sedikit terbuka.

Segera ia memeriksa isi barang belanjaan yang masih tertinggal di dalam tas itu. Tidak ada makanan yang hilang, hanya saja bungkus tahu sutra sisa dagangan pagi tadi terlihat sudah robek dan benyek isinya. Tampak dari kerut di dahinya, seolah sedang menyusun potongan teka-teki yang terangkai di kepalanya. 

”Euleuh-euleuh... jangan-jangan kamu téh nyelinap ke tas belanjaan saya, ya?”tanya Mang Ujang yang terlihat sedikit kesal.

Meski sempat jengkel melihat belanjaannya acak-acakan, erangan kesakitan dan wajah memelas Keni berhasil meluluhkan hati Mang Ujang. Lelaki itu terkekeh pelan sambil menggeleng. Dengan telaten, Mang Ujang memilah barang yang masih utuh ke plastik sisa, menyisihkan tahu sutra yang telanjur hancur, lalu mengikat sisanya di setang motor. Tukang sayur itu lantas merogoh kembali isi tasnya dan mengeluarkan sekantong plastik berisi tongkol iris.

Mang Ujang mulai sibuk mencubit daging tongkol mentah itu dengan jemarinya yang kasar. Keni mencuri pandang ke arah Mang Ujang, sambil sesekali memantau ke arah pintu pasar. “Tugas mengulur berhasil,” pikirnya, sambil kembali memasang wajah memelas.

Keni akhirnya bisa merasakan nikmatnya makan suwiran ikan tongkol itu, setelah sekian lama bertahan untuk tidak merobek bungkusannya sepanjang perjalanan tadi. Namun, baru beberapa gigit potongan ikan itu masuk ke dalam mulutnya, kehebohan di dekat jembatan mendadak pecah.

”Astaga! Itu kucing siapa berantem sampai kecebur kali? Coba itu tolongin dulu, kasihan!"

Pekik salah satu pedagang mengalihkan perhatian Mang Ujang. Ia berhenti sejenak, membersihkan sisa daging ikan yang menempel di telapak tangannya dengan handuk yang sedari tadi menggantung di lehernya.

Dengan mulut masih mengunyah daging tongkol, Keni seketika menegakkan telinganya. Instingnya menangkap tanda bahaya, seakan tahu siapa yang sedang ramai diperbincangkan. Kerumunan manusia bertambah dalam sekejap, berlarian menuju pembatas jembatan.

Suara deburan sungai terdengar menghantam permukaan tepi Ciliwung yang sedang meluap akibat air kiriman dari Bogor. Orang-orang yang semula menganggapnya sebagai hiburan gratis mendadak senyap. Salah seorang petugas kebersihan berbaju oranye, melihat kedua kucing itu hanyut. Ia segera turun ke area pinggiran sungai dan dibantu oleh salah satu rekannya. Petugas itu berenang menggunakan ban dalam bekas sebagai pelampung darurat.

Angin sungai yang membawa berbagai aroma limbah mendadak terasa membeku, menyisakan keheningan yang ganjil. Keriuhan manusia di atas jembatan melenyap tak bersisa. Kesadaran Garong seakan kehilangan kuasanya. Keriuhan di atas jembatan itu perlahan surut, digantikan oleh kesunyian yang menelan tubuhnya. Ia merasa paru-parunya seolah dihantam ribuan jarum yang membeku. Kemudian berangsur memudar, melarut dalam rasa kebas yang melahirkan kehampaan yang sulit dijelaskan. Kesadarannya menipis dan mengambang bagai selembar daun yang pasrah diseret arus. Di dalam kegelapan rahim Ciliwung yang menghanyutkannya, waktu seakan berjalan mundur. Menyeret Garong melintasi lapis-lapis memori yang selama ini ia kunci rapat.

Luka lama itu menganga tanpa permisi.

***

Kepalaku pusing luar biasa, rasanya seperti terhantam batu besar. Aku mencoba bangun, tapi tubuhku terlalu berat dan sulit diajak kompromi. 

Kulitku terasa kaku seperti semen yang mengering, mengunci setiap sendi hingga aku hanya bisa menggerakkan ujung jari-jari tanganku. Tiba-tiba, sebuah genggaman hangat mencoba menenangkanku. Suara lembut yang familier menghampiri telinga kiriku, membisikkan sesuatu yang samar.

“Sudah bangun, Lana?”

Siapa? Lana?

Memangnya aku sudah tertidur berapa lama?

Lihat selengkapnya