Layar raksasa kembali terbentang. Kali ini, deru dan derasnya aliran Sungai Ciliwung kembali merangsek masuk, menyesaki rongga telinga. Hamparan air cokelat yang pekat memenuhi seluruh layar di hadapannya.
Garong terlempar kembali ke dalam dinginnya arus Ciliwung yang menghimpit dada. Namun, kali ini, entah kenapa hatinya terasa lebih ringan, jauh lebih hangat. Jantungnya kembali berdenyut. Dengan sisa tenaga, sepasang mata tembaga itu membuka perlahan. Perih akibat luka di lehernya merayap nyeri. Garong merasakan tubuhnya kembali nyata, ringan mengambang di atas air.
Perlahan ia menyadari bahwa dirinya tidak lagi berada di ruangan luas yang serba putih itu. Tidak ada lagi cermin besar di hadapannya. Badannya basah kuyup terbawa arus sungai, rupanya ia tersangkut di antara jalinan akar-akar pohon. Garong melihat sekeliling, memastikan kembali dirinya benar-benar berada di atas aliran sungai. Tiba-tiba, bau busuk menyengat tercium dari bangkai ikan sapu-sapu yang sedang dicabik-cabik anak biawak, posisinya tak jauh dari akar pohon tempatnya tersangkut.
“Cuma bangkai satu ikan sapu-sapu, tapi kenapa bau busuknya sampai setajam ini?” pikirnya heran melihat penampakan di depan matanya.
Lalu dari kejauhan, riak keruh air Ciliwung tampak terbelah. Seorang petugas kebersihan perlahan mendekat, bertaruh nyawa di atas pelampung ban dalam yang diikat seutas tali tambang. Di tepi sungai, dengan urat-urat tangan yang menegang, rekannya sekuat tenaga menahan ujung tali dan mengikatnya pada rumpun batang bambu terdekat. Ia mengulur tali itu perlahan agar ban pelampung tidak dihantam oleh derasnya jeram.
Mata petugas itu menyapu permukaan air, mencari-cari keberadaan Garong dan Bleki. Namun, kucing hitam kurus itu tampaknya telah lenyap, terseret lebih jauh oleh arus sungai yang tak kenal ampun. Beruntung, pandangannya menangkap siluet kelabu yang tampak terengah-engah di atas sepotong kasur busa yang tersangkut di jalinan akar di dekat kolong jembatan.
Petugas itu mengayuh bannya mendekat. Dengan hati-hati, ia menggapai kasur busa itu, lalu mengulurkan tangannya yang basah, kemudian menggapai tengkuk Garong dan mengangkatnya ke atas pelampung. Namun, tepat di saat jemarinya mengangkat tubuh Garong yang basah kuyup, pandangannya seketika teralih oleh sesuatu yang menyembul di antara gunungan busa limbah yang kotor, tepat di bawah jembatan yang membelah sungai.
Suara petugas itu seketika pecah. Ia berteriak. Jeritannya bergetar hebat membelah gemuruh air, berkali-kali ia memanggil rekannya di tepi sungai, meminta pertolongan orang sekitar untuk ikut turun membantunya. Air sungai menyibak sepotong tragedi yang dengan sekejap membekukan waktu.
Terlihat ada sesuatu yang terombang-ambing dan mengambang ke permukaan, mengikuti gerakan air sungai. Kali ini, bentuknya terlihat jelas. Tampak jasad seorang anak kecil yang tertelungkup pasrah. Di dalam dekapannya yang sudah kaku, terselip jasad seekor kucing berwarna putih yang juga dalam kondisi membengkak dan membiru. Maut telah mengunci mereka berdua dalam pelukan terakhir yang abadi. Pemandangan mengerikan itu seketika merenggut seluruh keriuhan aliran sungai. Menyisakan petugas yang mematung dan memucat. Garong yang menatap lemah dari atas kasur busa, membeku bersama rahasia yang baru saja dimuntahkan oleh arus Sungai Ciliwung.
Tak lama kemudian, raung sirine ambulans dan mobil polisi mendatangi area yang mulai ramai oleh kepungan manusia-manusia yang penasaran. Petugas yang datang membawa turun kantung jenazah berwarna oranye, mengangkut jenazah bocah lelaki yang masih mendekap erat kucing putihnya.
“Ibu? Lana? Itukah kalian?” tanya Garong dalam hati. Ia terlalu lemah untuk sekadar menggerakkan ujung cakarnya. Pandangannya mengabur, kepalanya terlalu pening untuk memahami realitas yang terjadi tepat di depan matanya.
Garong pingsan untuk kali kedua.