Keheningan di ruang kerja beraroma minyak esensial yang menguar dari diffuser itu terasa menekan. Di balik jendela, hujan sore mengguyur halaman Rumah Singgah Dewi, menyisakan gemericik yang memantul di atas helai-helai daun kamboja.
Dewi menghela napas panjang, merapikan kacamata berbingkai tipis yang menempel di pangkal hidungnya. Setiap kali menyelesaikan sesi terapi dengan Lana, dada Dewi selalu terasa sesak. Meskipun aturan etika medis umumnya membatasi psikiater menangani kerabat sendiri, komite rumah sakit akhirnya memberikan izin khusus karena Kelana hanya bisa ditenangkan oleh figur familier dari masa kecilnya.
Sebagai psikiater, ia berusaha untuk tetap rasional dan menjaga jarak emosional dengan penderitaan pasien. Namun, berkas yang ada di atas meja kerjanya itu bukan sekadar tumpukan diagnosis medis. Ia adalah monumen dari sebuah jiwa yang terlalu rapuh untuk menanggung hantaman tragedi yang beruntun.
Dewi membuka map tebal berwarna cokelat tua itu dengan perlahan. Di sudut kanan atas, tertempel foto seorang pemuda berwajah pucat berusia sembilan belas tahun dengan tatapan mata yang sayu dan kosong. Tertera nama di atas map itu, Kelana Putra Gunawan.
Membaca nama itu, ingatan Dewi mendadak berputar kembali ke masa lalu. Ia teringat betapa riangnya anak itu saat pertama kali memanggilnya "Tante Dewi". Anak dari sahabat karibnya itu dahulunya adalah sosok yang sangat ceria dan cerdas.
Wanita paruh baya itu kemudian meraih buku catatan bersampul kulit hijau lumut, lalu melepaskan tali pengikatnya. Buku itu merekam jejak perjalanan jiwa-jiwa pasien dengan kasus tak biasa yang ia tangani dan lembaran tentang Kelana adalah yang paling menyayat hatinya. Dewi menyandarkan punggungnya, menatap lekat foto Kelana di dalam map sembari mengenang awal mula kehancuran keluarga kecil sahabatnya itu.
Persahabatan Dewi dan Utari, ibunda Kelana, terjalin erat sejak mereka duduk di bangku SMA dan terus berlanjut hingga dewasa. Sama-sama menapaki dunia medis, jalan hidup mereka mulai bercabang. Dewi berhasil menyelesaikan Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, sementara langkah Utari terhenti sebagai lulusan Kedokteran Hewan tanpa sempat melanjutkan jenjang spesialisasi.
Kecintaan Utari akan alam dan satwa yang kemudian mempertemukannya dengan seorang pemuda bernama Gunawan di sebuah Pusat Penyelamatan Satwa. Saat itu, Utari bertugas sebagai dokter hewan medis, sementara Gunawan adalah seorang peneliti muda lulusan Magister Biologi yang sedang mengkaji efektivitas tanaman obat alami bagi rehabilitasi satwa. Pengetahuan akademis dengan fokus Botani dan Fisiologi Tumbuhan membuat pemuda itu sangat paham akan struktur biokimia tanaman, metode rekayasa media tanam, hingga teknik ekstraksi senyawa aktif tumbuhan.
Dari frekuensi diskusi dan kepedulian yang sama terhadap makhluk hidup, benih-benih cinta itu tumbuh hingga akhirnya mereka menikah. Pernikahan bahagia mereka melahirkan Kelana hadir ke dunia. Namun, badai datang di tengah kebahagiaan keluarga kecil itu. Utari didiagnosis mengidap kanker payudara stadium lanjut yang terlambat ditangani. Rasa sakit yang menggerogoti tubuh Utari setiap hari membuat Gunawan frustrasi. Sebagai peneliti riset dengan penghasilan pas-pasan, lelaki itu tak sanggup menanggung biaya pengobatan medis yang melambung tinggi.
Berbekal ilmu botani dan rekayasa ekstraksi yang dikuasainya, Gunawan mengambil jalan nekat. Ia menanam ganja secara tersembunyi di sudut rumah mereka, lalu memprosesnya menjadi minyak ekstrak kaya cannabinoid khusus untuk meredakan rasa sakit luar biasa yang dialami istrinya setiap hari. Kebutuhan biaya operasional dan pengobatan yang kian mendesak akhirnya mendorong Gunawan melangkah terlalu jauh. Ia mulai menjual sebagian hasil panen tanaman ilegal tersebut kepada seorang pengedar yang biasa menyelundupkan barang haram ke dalam lembaga pemasyarakatan.