Waktu berlalu seperti alur air yang tenang di Rumah Singgah Dewi. Tembok-tembok ruangan bercat hangat berwarna krem dan aroma terapi lavender yang menguar dari diffuser di setiap sudut tak lagi terasa menakutkan bagi Kelana. Sembilan belas tahun usianya, tetapi dalam beberapa bulan terakhir, raga dan jiwa pemuda itu perlahan-lahan mulai menyatu kembali setelah bertahun-tahun terpisah oleh dinding ilusi yang menjulang tinggi.
Kemajuan signifikan itu tentu saja tidak datang secara instan. Momen titik balik terjadi saat benteng pertahanan mental Kelana mulai runtuh total dan ia sanggup meluapkan rasa duka mendalamnya di depan Dewi beberapa bulan lalu. Sejak saat itu, resistensi di dalam dirinya melunak. Ia tidak lagi menolak butiran obat penenang yang secara rutin disodorkan oleh perawat setiap pagi dan malam. Dosis yang teratur itu berhasil meredakan badai pikiran, membungkam suara-suara bising dan halusinasi visual yang selama sebelas tahun mengurungnya dalam kepungan ilusi De Kucingos. Wajahnya yang dulu selalu menyipit curiga dan menegang siaga ala hewan buruan kini tampak jauh lebih rileks, menandakan kontak realitasnya yang kian menguat.
Suara gemericik air dari kolam ikan di halaman tengah Rumah Singgah menyatu dengan riuh rendah tawa hangat yang terdengar dari pendopo kayu. Sore itu, Kelana duduk di antara lingkaran kursi taman bersama empat orang pasien remaja lainnya. Mereka adalah anggota komunitas terapi kelompok bertajuk Lingkar Pulih yang dibentuk khusus oleh Dewi.
Di dalam lingkaran ini, Kelana tak lagi dipandang sebagai Garong sang penguasa jalanan yang aneh, liar, dan berbahaya. Di sini, ia diterima sepenuhnya sebagai Kelana Putra Gunawan, seorang pemuda pendiam berwajah tenang dan sedang berjuang menyembuhkan luka masa kecil yang serupa dengan mereka.
"Baiklah, teman-teman," ujar Ibu Rini, seorang psikolog klinis pendamping yang duduk di tengah lingkaran. Sesi sore ini kita fokus belajar mengenali apa saja pemicu emosi kita, lalu menyalurkan perasaan ke dalam kertas. Siapa yang mau berbagi cerita dari buku catatannya lebih dulu?"
Seorang remaja laki-laki berusia tujuh belas tahun bernama Bimo mengangkat tangannya ragu-ragu. Kakinya tampak bergoyang gelisah, namun matanya memancarkan keinginan untuk sembuh.
"Aku... aku mau coba, Bu Rini," kata Bimo dengan suara agak bergetar. Ia membuka buku catatannya. "Minggu ini aku sempat mimpi buruk lagi tentang rumahku yang lama. Aku merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan adikku saat kebakaran itu. Tapi... waktu aku pegang pena dan tuliskan semua rasa takut itu di kertas, rasanya beban di dada dan pikiranku lumayan berkurang. Aku sadar bahwa anak usia sepuluh tahun waktu itu memang belum bisa memutuskan dan bertindak cepat."
Anggota kelompok memberikan tepuk tangan lembut sebagai bentuk dukungan tanpa penghakiman. Bimo menoleh ke arah Kelana yang duduk tepat di sebelah kirinya.
"Bagaimana dengan catatanmu hari ini, Lana?" tanya Bimo pelan, sembari menepuk pelan bahu Kelana. "Aku lihat dari tadi kamu fokus sekali menulis di bawah pohon kamboja."
Kelana tersenyum tipis. Sebuah ulasan senyum yang tulus dan jujur, bukan lagi seringai siaga atau tatapan kosong yang mencekam. Ia membetulkan posisi duduknya, merapikan buku catatan bergaris bersampul biru muda di pangkuannya.
"Sedikit lagi selesai," jawab Kelana. Suaranya kini terdengar jauh lebih tertata, tidak lagi serak dan patah-patah seperti saat ia pertama kali diselamatkan dari tepi Sungai Ciliwung. "Bu Dewi dan Bu Rini benar... kalau semua ketakutan yang mengganjal di kepala dituliskan satu per satu, bebannya jadi berpindah di atas kertas. Otakku tidak perlu bekerja keras menyimpannya sendiri lagi."
"Apa yang kamu tulis hari ini, Lana? Kalau kamu merasa nyaman untuk membagikannya pada kami," tawar Bu Rini dengan nada hangat.
Kelana menatap lembaran kertas bergaris yang dipenuhi tulisan tangannya yang rapi. Ia menarik napas panjang, meresapi kehangatan udara sore yang menyentuh kulit pipinya.
"Aku menulis tentang kenangan masa kecilku..." kata Kelana pelan, pandangannya menyapu wajah teman-teman sebayanya di lingkaran itu. "Dulu, aku selalu berpikir kalau aku harus menjadi seekor kucing jalanan yang kuat bernama Garong agar tidak ada orang yang bisa menyakitiku lagi. Aku menciptakan dunia De Kucingos karena aku terlalu takut mengakui bahwa ibuku sudah meninggal dan ayahku pergi meninggalkan aku sendirian."
Para anggota kelompok mendengarkan dengan penuh khidmat. Tidak ada yang memotong atau memandang aneh cerita tersebut, sebab mereka semua memahami bagaimana rasa sakit bisa memaksa otak manusia menciptakan cara bertahan hidup yang ekstrem.