Semesta Kelana

Mashan
Chapter #14

CATATAN KELANA

Keheningan di ruang kerja beraroma minyak esensial lavender itu kian terasa menekan. Di balik jendela, hujan sore mengguyur halaman Rumah Singgah Dewi, menyisakan suara air yang memantul di atas helai-helai daun kamboja.

Dewi menghela napas panjang. Ia melepas kacamata berbingkai tipisnya, lalu menaikkannya ke atas kepala dengan gerakan perlahan. Setiap kali menyelesaikan sesi terapi dengan Kelana, dada Dewi selalu terasa sesak. Secara etika, seorang psikiater dilarang merawat kerabatnya sendiri. Namun, komite rumah sakit terpaksa memberi izin khusus. Bagi Kelana, hanya Dewi yang sanggup meredam histerianya. 

Sebagai profesional, Dewi berusaha tetap rasional dan menjaga jarak emosional. Akan tetapi, berkas yang tergeletak di atas meja kerjanya bukan sekadar tumpukan diagnosis medis, melainkan monumen dari sebuah jiwa yang hancur dihantam tragedi.

Dewi membuka map tebal berwarna cokelat tua itu perlahan. Di sudut kanan atas, tertempel foto seorang pemuda berwajah pucat dengan tatapan mata yang sayu dan kosong.

Kelana Putra Gunawan

Nama yang tertera di atas map itu.

Sesaat membaca nama itu, ingatan Dewi mendadak berputar kembali ke masa lalu. Ia teringat betapa riangnya anak itu saat pertama kali memanggilnya "Tante Dewi". Anak kecil yang dahulu ia kenal sebagai sosok yang ceria dan cerdas. 

Wanita paruh baya itu kemudian meraih buku catatan bersampul kulit dari atas mejanya, lalu melepaskan tali pengikatnya. Buku catatan itu merekam jejak perjalanan jiwa-jiwa pasien dengan kasus tak biasa yang pernah ia tangani.

Dewi menyandarkan punggungnya, menatap lekat foto usang yang terselip sebagai pembatas di lembar catatan Kelana. Potret dirinya bersama Kelana kecil di sebuah taman hiburan itu seketika memanggil kembali kenangan kelam—awal mula kehancuran keluarga Utari, sahabat karibnya sekaligus ibunda Kelana. Terajut sejak masa SMA, jalinan persahabatan Dewi dan Utari bertransformasi menjadi ikatan persaudaraan yang tak terpisahkan.

Sebagai anak tunggal, Utari menemukan keutuhan dalam diri Dewi yang ia anggap layaknya kakak kandung. Mereka saling mengisi dan menguatkan. Namun, kendati sama-sama berpijak di ranah medis, jalan hidup mereka mulai bercabang.

Dewi melangkah mulus menuntaskan pendidikan spesialis Kedokteran Jiwa. Sebaliknya, jalan Utari tertahan di gelar dokter hewan. Pernikahan tanpa restu bersama Gunawan memaksa langkah akademisnya terhenti di sana.

Semua bermula dari kecintaan Utari pada alam dan satwa, yang membawanya bertemu Gunawan di sebuah Pusat Penyelamatan Satwa. Kala itu Utari bertugas sebagai dokter hewan, sementara Gunawan adalah peneliti muda bergelar Magister Biologi. Berbekal keahlian di bidang botani, Gunawan paham betul cara mengekstrak senyawa tanaman obat untuk membantu penyembuhan para satwa.

Lihat selengkapnya