Waktu berlalu seperti alur air yang tenang di Rumah Singgah Dewi. Tembok-tembok ruangan berwarna krem dan aroma terapi lavender yang menguar bersama uap halus di sudut ruangan, kini tak lagi terasa menakutkan bagi Kelana. Di usianya yang kesembilan belas, raga dan jiwa pemuda itu perlahan menyatu kembali, meruntuhkan dinding ilusi yang bertahun-tahun menyekap kesadarannya. Kemajuan signifikan itu tentu saja tidak datang secara instan. Momen titik balik terjadi saat benteng delusi Kelana mulai runtuh. Pemuda itu perlahan mulai bisa meluapkan rasa duka mendalamnya di depan Dewi beberapa bulan lalu.
Sejak saat itu, resistensi di dalam dirinya melunak. Ia tidak lagi menolak butiran obat penenang yang secara rutin disodorkan oleh perawat setiap pagi dan malam. Dosis yang teratur itu berhasil meredakan badai pikiran, membungkam suara-suara bising, dan halusinasi visual yang selama ini mengurungnya dalam kepungan ilusi De Kucingos. Wajahnya yang dulu selalu menyipit curiga dan menegang siaga seperti seekor kucing, kini tampak jauh lebih rileks, menandakan kontak realitasnya yang kian menguat.
Suara gemericik air dari kolam ikan di halaman tengah Rumah Singgah menyatu dengan riuh rendah tawa yang terdengar dari pendopo. Sore itu, Kelana duduk di antara lingkaran kursi taman bersama empat orang pasien remaja lainnya. Mereka adalah anggota komunitas Lingkar Pulih, kelompok terapi remaja yang dibentuk khusus oleh Dewi dan Rini.
Di komunitas ini, Kelana tak lagi dipandang sebagai Garong sang penguasa jalanan yang aneh, liar, dan berbahaya. Kini ia diterima sepenuhnya sebagai Kelana Putra Gunawan, seorang pemuda pendiam berwajah tenang yang sama-sama sedang berjuang menyembuhkan luka masa kecilnya.
"Baiklah, Teman-teman," sapa Rini hangat dari tengah lingkaran. Selaku psikolog klinis yang memandu sesi sore itu, pandangannya menyapu para peserta dengan lembut. "Hari ini kita telah belajar mengenali pemicu emosi dan menuangkannya ke dalam tulisan. Dari sesi menulis ini, adakah dari kalian yang ingin berbagi cerita lebih dulu?"
Seorang remaja laki-laki berusia tujuh belas tahun mengangkat tangannya ragu-ragu. Kakinya tampak bergoyang gelisah, namun matanya memancarkan keinginan untuk bercerita.
"Aku... aku mau coba, Bu Rini," kata remaja itu dengan suara agak bergetar.
"Oke, Bimo. Mari kita dengarkan baik-baik ceritanya ya!" jawab Rina dengan antusias.
Remaja lelaki bernama Bimo itu kemudian membuka buku catatannya.
"Kemarin aku sempat cemas luar biasa tiap kali melihat foto keluargaku. Ada ketakutan hebat bahwa keberadaanku tidak akan diterima lagi melihat kondisi mentalku yang seperti ini. Aku selalu merasa mereka membenciku... Tapi begitu aku tuangkan semua kalimat ketakutan itu ke dalam buku catatan, aku baru sadar... bahwa yang memenjarakanku selama ini hanyalah bayangan di pikiranku. Untuk kali pertama, aku merasa kertas kosong ini terasa jauh lebih ramah daripada isi kepalaku."
Riuh tepuk tangan menyambut keberanian Bimo, membawa kehangatan yang mengikis jarak di antara mereka. Bimo mengangguk pelan sembari melemparkan senyum ke sekelilingnya, sebelum akhirnya pandangannya tertambat pada Kelana yang duduk membisu di sebelah kirinya.
"Bagaimana dengan catatanmu hari ini, Lana?" tanya Bimo, sembari menepuk pelan bahu Kelana. "Aku lihat dari tadi kamu fokus sekali menulis di bawah pohon itu."
Kelana tersenyum tipis. Sebuah ulasan senyum yang tulus dan jujur, bukan lagi seringai siaga atau tatapan kosong yang menakutkan. Ia membetulkan posisi duduknya, merapikan buku catatan bersampul biru muda di pangkuannya.
"Sedikit lagi selesai," jawab Kelana. Suaranya kini terdengar jauh lebih jernih dan tertata. "Benar kata Bu Dewi dan Bu Rini pekan lalu... begitu semua ketakutan dituliskan di atas kertas, bebannya pindah ke sana. Kasihan otakku, sudah kapasitasnya pas-pasan, masih dipaksa kerja lembur juga nyimpan semuanya sendirian."
Gegap tawa kecil berderai meriah di dalam pendopo. Beberapa peserta terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala, sementara Bu Rini hanya tersenyum simpul, menikmati kehangatan yang perlahan mencairkan sisa kekakuan.
Bimo ikut tertawa, lalu menepuk bahu Kelana pelan. "Setidaknya otakmu sekarang bisa dapat uang lembur, Lana."
"Apa yang kamu tulis hari ini, Lana? Kalau kamu tidak keberatan untuk membagikannya pada kami," tawar Bu Rini dengan nada hangat.
Kelana menatap lembaran kertas bergaris yang dipenuhi tulisan tangannya yang rapi. Ia menarik napas panjang, meresapi kehangatan udara sore yang menyentuh kulit pipinya.
"Aku menulis tentang kenangan masa kecilku..." kata Kelana pelan, pandangannya menyapu wajah teman-teman sebayanya di lingkaran itu. "Dulu, aku selalu berpikir kalau aku harus jadi anak yang kuat dan tahan banting untuk menghadapi kenyataan."
Matanya mengawang ke arah langit-langit pendopo, menerawang jauh ke masa lalu.
“Saat usiaku lima tahun, kami memelihara seekor kucing jalanan berwarna hitam putih. Wajahnya sangar, tapi penurut. Ia selalu melindungiku dari kejaran anjing tetangga yang suka usil," lanjut Kelana, diiringi senyum tipis di bibirnya. "Karena sering menemaniku, Ibu selalu memberinya makan ikan tongkol goreng. Kucing belang dua itulah kawan terbaik yang kupunya saat itu."