keadaan SMA Diwarno menjadi gaduh karena di gandangkan sebuah tragedi telah terjadi pada lantai dua pada Sport Center, lebih tepatnya di kolam renang ditemukan tubuh membiru yang telah memucat mengambang. Tim medis dan forensik telah sampai untuk mengidentifikasi keadaan mayat yang sudah diangkat naik keatas. Tepat di sebelahnya terdapat bukti lainnya, tas berisi batu yang diikatkan pada tubuh korban terjalin begitu erat. Diikatkan dengan sampul sempurna.
Tim detektif dan kepolisian sampai menjadi terdiam diantaranya, melihat sebuah tubuh teronggok mengenaskan menjadikannya banyak pernyataan juga pertanyaan sejadi-jadinya akan penyebab kematian tersbut.
"Diidentifikasi nama korban Elegi Alangga, usia 17 Tahun. Penyebab kematian sementara akibat kehabisan nafas."
—
Kegaduhan yang disebabkan pagi tadi menjadikan seluruh sekolah menjadi ricuh akan huru-hara rumor tentang itu. tepat pada kelas 11 unit A, tengah amat gaduh membibacarakan hal yang menjadi topik hangat sejak pagi tai. Mobil Ambulance juga banyak tim forensik dan kepolisian masih tertata pada parkiran dekat lapangan utama.
"Elegi sih katanya ya, gila ya serem banget tenggelam."
"Aduh aku males banget sih kalo harus latihan berenang di sana, gimana kalo masih ada baunya, iuhhh."
"tapi sedengeran gua bunuh diri gila"
"Ihh serem banget."
Seorang siswa lelaki duduk pada bangku pojok paling belakang memandang pada satu bangku kosong, disana, bangku dimana Elegi yang sedang banyak dibicarakan oleh seisi sekolah duduk. Pada laci mejanya masih terdapat beberapa buku yang tertinggal. Tak lama dari itu ia pun mengalihkan pandangan, menghela nafas berat dan kembali menidurkan kembali kepalanya.
Suara tawa cekikikan meredam suara rumor yang sejak tadi terdengar bagai suara nyamuk, melengking dan amat sangat memuakan.
"Hehehe.. yakali. I've never heard about that from your own mouth. hal kaya gitu terus-terusan lo omongin, pernah naksir Lo?" suara cengengesan disertai gurauan itu ditunjukan lelaki berperawakan tinggi pada seorang perempuan yang berjalan dua langkah di belakangnya.
"Apaan si Jik, ngga lucu banget,"ucap perempuan dengan surai panjang tergerai. Dengan segera melapas rangkulan pada teman perempuannya berlari kecil untuk memukul kepala bagian lelaki yang sedang meledeknya itu.
Sedang salah satu Perempuan yang berjalan tak jauh dari mereka akhirnya hanya menggeleng melihat kelakuan temannya, "Udahlah, masih pagi tau, ngapain udah ribut aja."
"Biasa banget liat Oji sama Dira kalo ngga berantem sakit kali, ya ngga, Za?" kata seorang lelaki yang sudah berdiri mensejajarkan langkah.
"Kamu aja yang terbiasa Vin, aku sih engga ya." katanya.
Keberadaan mereka ber-empat membuat suasana gaduh itu menjadi diam sesaat, lalu dilanjutkan lagi dengan rumor lainnya.
Perkenalkan terlebih dahulu siapa mereka, Empat Sekawan yang menjadi pusat perhatian SMA Diwarno, diantaranya, Delvin Marjialo seoerang anak pengusaha besar dengan omset terbesar pada Tahun sebelumnya, anak tunggal kaya raya dengan koneksi dimana-mana, menjadi cukup populer berkat kecerdasan kepalanya dalam berpikir kritis akan akademik atapun non akademik. Berperawakan tampan dan rapi bak siswa teladan menjadikanya terkenal sebagai personal yang amat tenang dan mendominasi. Seisi sekolah enggan jika sudah berhadapan dengannya.
Kanza Canaya, perempuan anggun yang selalu menjadi pembicaraan sebab kemampuannya memainkan alat musik biola, tidak perlu diragukan tentang bagaimana kecerdasannya. personal yang telah dikenal oleh seisi sekolah adalah kebaikan dan keramahannya. Menjadikannya bak bentuk paling dekat seperti malaikat.
Oji Batalarya, menjadikannya sebagai karakter yang memiliki mata tajam, dengan sedikit kegaduhan yang sering ia lakukan. Memiliki lesung pipi tepat di ujung bibir dan menjadikannya amat populer berkat senyum manisnya. Pula ia aktif dalam berbagai aktivitas juga menjadi leader dalam tim olahraga voli. Selain memiliki mata yang tajam ia juga memiliki pemikiran yang amat tajam, sekalinya mulutnya berpendapat, lawan sudah dipastikan akan mati kata di depannya.
Nadira Alcira, leader tim tari moderen dan juga tradisional, meraih banyak perhargaan dalam ajang tim maupun individu. Perawakannya yang tinggi dengan badan semampai dengan wajah sedikit judes namun menarik perhatian tiap tersenyum. namun terkadang sikapanya yanng acuh tak acuh menjadikan orang-orang sedikit tidak menyukai sisi lainnya itu.
Suara Ambulance terdengar membuat seluruh siswa melihat kearah jendela, makin gaduh dengan teriakan dan menyesakkan satu sama lain.
"Hei..Hei.. kembali ke tempat duduk kalian masing-masing," mengalihkan perhatian siswa, Wali kelas mereka telah berada di depan pintu dan berjalan kearah meja guru.
Mata guru itu tertuju pada meja kosong yang menjadi peran utama kegaduhan pagi ini, dengan amat menyesal ia pun mulai mengangkat kepalanya. Menatap satu persatu peserta didik yang sudah ada disana lebih dari setengah semester.
"Seperti yang sudah kalian ketahui dan dengar dari mulut ke mulut, berita duka datang dari teman sekelas kita. Bapak Jiwa amat sangat menyesal karena tidak berhasil merangkul seluruh siswa yang ada disini dengan baik. Teman kita, Elegi Alangga telah ditemukan tidak bernyawa di kolam renang—Sport center. Kabar berduka ini bapak sampaikan bersamaan dengan kabar pembelajaran hari ini akan dihentikan pada hari ini tepatnya jam sepuluh, kalian dapat kembali ke rumah,"
Suara desahan dan keributan makin menjadi saat jeda yang diambil oleh Bapak Jiwa untuk melanjutkan kembali kalimatnya.
"Bapak harap kalian bisa menyempatkan waktu untuk datang ke rumah mendiang, ikut berdo'a dan berbela sungkawa sebagai bentuk junjungan tinggi pertemanan. Disana juga para guru dan staff mengungumkan kelas berakhir lebih awal. Kelas dibubarkan."
Oji menunjukan putaran mata jengah dengan decakan lalu menyentuh bahu Delvin yang duduk di depannya, "Gimana Lo? mau kesana?"
Seisi kelas gaduh saling menanyakan satu sama lain, bagaimana sekolah akan berjalan lancar ketika sebuah insiden menjatuhkan mental dan jadi perbincangan.
—
Mungkin banyak siswa yang tidak mengenal sosok seorang Elegi Alangga, siswa yang mendapatkan beasiswa penuh itu cukup pendiam dan tidak terlalu suka berinteraksi dengan siswa lainnya. Menyelami dunianya yang hanya dituju tanpa tahu dimana akan jadi pemberhentian. Sosoknya yang kadang tidak terlihat sebab tidak banyak bangun pertemanan, mungkin saja ia tidak mengetahui beberapa nama teman sekelasnya.
Terkadang Elegi hanya akan datang dan melihat kearah luar jendela, menatap dalam ketinggian yang diberikan dari lantai dua. Tidak ada yang dapat mengetahui secara persis apa dan bagaimana kehidupannya. Bagaimana ia menjalani kehidupan di luar sekolah atau hanya menjadi peringkat pertama dalam pelajaran.