Semesta Redup

velaaa
Chapter #2

Keruh Dalam Gelap

Seminggu setelah kejadian tragis yang menggemparkan sekolah juga dikalangan orang tua yang khawatir akan bayang reputasi buruk sekolah. Menjadikan langkah awal kepala sekolah segera menutup mulut dan mata agar segala hal menjadi tak terlalu runyam.

SMA Diwarno merupakan Sekolah yang menggaet Kurikurum Internasional Cambrige. Dimana telah menginmplementasi metode pendidikan moderen. Diantaranya pembiasaan pada seluruh siswa dalam menganalisa secara kritis dalam suatu kejadian.

Kurikulum itu juga menyediakan kelas hukum yang memungkin siswa untuk menyadari relevansi dan peran hukum dalam hal nyata atau kejadian terdekat dengan lingkungan. Fokus utama ialah hukum Inggris. Dalam pendekatan lebih luas sebab dalam skala Internasional.

Keadaan SMA Diwarno di pagi ini cukup tertib seperti pada biasanya. Keadaan lorong yang ramai akan suara-suara bisik maupun tawa juga saling sapa melenggang masuk pada telinga. Sampai pada kelas 11 Unit A dengan keadaan yang sama, meja yang telah kosong selama seminggu itu juga masih tetap pada tempatnya. Buku pada laci dan beberapa alat pembelajaran lainnya.

Meja yang pada biasanya telah diduduki Elegi sembari membaca kembali catatan yang sudah ia tulis sejak semalam. Terkadang elegi hanya membaca novel dengan memakai earphone tanpa suara. Elegi hampir tidak berinteraksi ataupun berbincang kala waktu luang. Ia lebih sering menghabiskan waktu sendiri, hening dan tenang.

Dubrakk

Suara benturan itu mengalihkan atensi seisi kelas, menagarah pada Meja yang tidak pernah dilihat selama seminggu ini. Ternyata ulah antek kelas yang baru saja mendorong salah satu siswi hingga membentur pada meja milik Elegi.

"Haha.. apa kata lo tadi? ngga ada? lo kira gua emak lo? hah?"

Lelaki bernama Jimbar, seorang berandal yang mengisi salah satu kursi di Kelas 11 Unit A. Sedang menari kerah baju seorang siswi yang terlihat amat ketakutan.

"Gua tunggu sampe besok." dengan dorongan cukup kencang buat tubuh siswi itu kembali membentur meja. Hingga isi dalam laci itupun berantakan keluar.

Lelaki yang duduk di ujung kelas itu melihat dengan seksama. Menghela nafas dan menendang meja yang ada di depannya. Sehingga langkah Jimbar berhenti, menengok kearah suara lain yang masuk dalam telinganya.

"Sialan, pagi gini gua udah ngeliat kelakuan persis binatang."

Kalimat itu terucap dengan jelas, tanpa jeda. Mata lelaki itu memancar emosi tenang yang mendominasi, tone suara juga terdengar amat santai. Namun tidak dengan reaksi kelas yang kini telah mengatupkan bilah bibir dengan mata tertuju pada satu arah. Bagaimana tidak, yang baru saja berbicara sudah mengunci mulut selama hampir satu minggu.

Tanjung Juanto namanya. Tidak berada di peringkat cukup tinggi dalam satu anggkatan. Ia akan menduduki posisi nomor sepuluh setiap semester. Predikat siswa berprestasi terus diembannya karena telah memenangkan kejuaraan olimpiade olahraga Taekwondo, sebagai peraih medali emas.

Tubuhnya yang tegap dengan proporsi sempurna itu berdiri dari duduknya. Mendatangi Jimbar yang bahkan tidak dapat menggerakan kaki untung melangkah. Tubuhnya bak beku matanya menatap nyalang kearah Tanjung.

"Seharusnya kalo lo memang mau cari duit, jangan berisik. Preman lo?" tatapan mereka bertemu namun Tanjung tak segan menarik kerah baju Jimbar lalu membawanya melangkah kearah meja yang sudah tidak pada posisinya.

"Beresin apa yang udah lo lakuin." katanya lagi. Lagi pula, siapa yang berani melawan seorang Tanjung. Kedua orangtuannya berkerja di salah satu firma hukum paling bergengsi. Melayangkan hukum berat pada lawannya di pengadilan sudah menjadi pembicaran banyak orang. Bagai dua pilar yang saling berdiri kokoh dalam memenangkan setiap kasus.

Jimbar mendengus, "Buat apa, toh orangnya udah mati bunuh diri." dengan kekehan pada akhir ucapannya buat genggaman Tanjung pada kerah seragam itu makin mengerat. Membuat efek sesak nafas yang didapati Jimbar ulah rasa cengkraman mencekik habis leher bagian depannya.

"Ngomong sekali lagi, lo yang bakalan ditemuin besok persis sama di kolam renang." Tangan Tanjung dipukul kecil oleh Jimbar sebagai pernyataan untuk lepaskan cengkramannya.

"Lepasin anjing.."suara tercekat milik Jimbar dengan wajah memucat itu terlihat begitu menyedihkan.

Dorongan kuat kembali didapati Jimbar hingga tubuhnya tetperosok jatuh mengenai meja lain hingga suara teriakan tidak bisa dihindarkan.

"Sampah kaya lo memang harus dibuang." Tanjung melangkahkan kakinya keluar, menemui mata milik Oji yang sudah ada di depan pintu, menyaksikan kejadian dengan diam.

Jimbar hendak berjalan keluar namun dihentikan oleh Oji dengan tanganya pada pintu. Sebelah alisnya terangkat, "Mau kemana lo? liat seberapa kacaunya yang udah lo lakuin, beresin atau lo ngga gua kasih masuk ruang belakang sekolah."

Decakan Jimbar terdengar jelas, lalu berbalik. Menatap setiap mata yang melihatnya dengan aneh, "Ngapain liatin gua sih anjing!"

Oji yang baru saja sampai juga sama menatap setiap orang di kelas yang akhirnya kembali ke tempat mereka masing-masing. Matanya yang tajam tidak luput jadi hal yang paling orang hindari.

Setelah menarug kembali barang yang berantakan pada laci meja, Jimbar hendak melenggang pergi. Tanpa tahu bahwa Oji sudah memasang kakinya sampai Jimbar kembali terjelembab jatuh pada lantai.

"Oh.. sorry, kaki gua pegel." kata Oji dengan senyum yang ia tarik sampai memperlihatkan lesung pipit miliknya.

Jimbar meninggalkan kelas dengan suara hentakan kaki dan raut wajah kesal bercampur malu. Ia mengacak rambutnya dan bertetiak saat sudak keluar pintu kelas, sampai menjumpai atensi siswa yang berada di koridor.

Jangankan berjalan keluar dari rumah, Kalbadi—Ayah Elegi melihat sang istri yang masih murung. Sehabis sarapan pagi tadi ia masih pada posisi yang sama, di dalam kamar Elegi menatap setiap sisinya. Menangis dalam diam kala malam karena takut terdengar orang lain. Kalbadi sangat tahu apapun perasaan yang disimpan oleh sang Istri.

Setiap pagi ia melihat senyum sang istri yang harus di perlihatkan pada Permata, putri mereka. Agar Permata tidak lagi melihat kesedihan maupun kemurungan yang ada. Kehancuran yang akhirnya memghabiskan separuh hidupnya.

"Bunda, Ayah mau pergi ke Sekolah Elegi ya. Ambil beberapa barang disana." Suara parau milik Kalbadi karena tidak kuat menahan sesak yang sedari tadi.

Sang Istri menoleh, lalu berdiri dari duduknya. "Bunda juga ikut,"

Kalbadi menganggung setuju, mengarahkan sang Istri agar melangkah bersama. Dirasanya pundak yang tidak lagi berdiri tegap sejak minggu lalu, terlihat layu dengan wajah amat sayu. Ia usap pundak sang Istri sembari tersenyum. Seakan mengungkapkan lewat mata bahwa semua akan baik-baik saja. Karena ini semua belum selesai sampai disini saja. Jalan mereka masih amat panjang, kebenaran belum terungkap sepenuhnya.

Sesampainya di SMA Diwarno, mereka berdua turun dari mobil berjalan kearah ruang guru. Keberadaan mereka disambut dengan cukup hangat oleh para Guru.

Pak Jiwa yang baru saja masuk langsung menghampiri mejanya. Menemui Kalbadi dan juga Istrinya.

"Saya baru saja selesai mengajar, maaf jika harus menunggu lama," ujar Pak Jiwa sopan.

"Jadi kami kesini ingin mengambil beberapa barang milik Elegi yang masih tertinggal." Kalbadi berujar dengan senyum tipis pada wajahnya.

Setelah mengguk Pak Jiwa langsung mengarahkan kedua orangtua Elegi menuju kelas 11 Unit A. Saat ini para siswa sedang dalam jam istirahat, memungkin mereka melihat keberadaan orangtua Elegi.

Meja Elegi ditunjukan, hanya dengan melihat meja itupun dapat merobohkan berdiri Bunda Elegi. Menitikan kembali air mata yang masih sukar kering. Kalbadi ikut berjongkok, menghibur dengan menepuk-nepuk pundak sang Istri.

Mulai mengambil beberapa barang yang tertinggal, seperti buku catatan, kotak pensil, buku pembejaran dan beberapa hal lain seperti topi.

Tanjung melangkah masuk, langkahnya terhenti kala melihat topi hitam yang ada disana. Lalu kembali melangkah setelah beberapa saat, menduduki kembali kursi miliknya. Sembari melihat kejadian yang jadi tontonan seisi kelas.

Tak berangsung lama, Empat sekawan—Delvin, Oji, Kanza dan Dira juga ada disana. Terdiam didekat pintu.

Lihat selengkapnya