Semesta Redup

velaaa
Chapter #3

Redup Bagai Tak Hidup

Buku bersampul dengan judul Kumpulan Kalimat Bisu itu terlihat seperti buatan tangan dengan tempelan astetika khas milik Elegi. Sejak kecil Elegi memang menyukai menghias sampul buku dengan berbagai macam bahan. Sampul berwarna biru tua itu terlihat indah dengan nama sang pemilik ada disana, Elegi Alangga.

Tangan Bunda Elegi sudah bergetar, membaca judulnya saja sudah buat dirinya menangis. Buku itu dibuka perlahan, disana ada beberapa kalimat ditiap halamannya.

Seperti..

Aku tidak berharap banyak pada manusia, namun segalanya berjalan tanpa arahan. Aku gantungkan harapan itu begitu tinggi sampai lupa bahwa segalanya hanya sekedar mampir dan berakhir tidak dapat lepaskan diri.

Halaman selanjutnya ditempeli sedikit stiker berwarna biru muda dengan bertulis 'hoping was sacrificed for no reason'

Dibawahnya tertulis,

Hari ini aku baru tau kalau aku bisa rasakan sesuatu yang lain tanpa aku sadari, jantungku berdetak berantakan. Aku panik sampai tidak tau harus bertindak seperti apa.

Dibuka pada halaman selanjutnya,

Akhir-akhir ini semuanya terasa kosong, aku tidak dapat mengisi kecerian sepenuh yang aku lakukan seperti dulu. Aku bingung, segalanya terjadi begitu cepat dan aku ingin segera mengakhiri masa SMA ini. Secepatnya.

Sebuah sticky notes berwarna merah itu sampai,

Bunda.. semuanya baik aja sama kaya apa kata Bunda. Semuanya ku pendam sebisanya sampai Elegi rasa teredam setengahnya. Semakin lama rasa itu makan menggerogoti Elegi, sedikit demi sedikit, Elegi lupa bagaimana caranya bernapas dalam sesaat. Bunda... semuanya akan baik-baik saja kan?

Tangis Bunda makin terdengar, ia bekap mulutnya dengan tangannya. menatap dengan penuh penyesalan karena tidak pernah sadar akan segala hal yang terjadi dihadapannya.

Dahi Bunda Elegi mengernyit, bingung. Apa sebenarnya yang terjadi akhir-akhir ini? Mengapa Elegi menulis hal yang sama sekali tidak dapat ia mengerti.

Buku itu dengan cepat di bolak balik secara cepat sampai terlihat sebuah robekan pada pertengahannya. Robekan acak yang langsung mengingatkan Bunda pada secarik kertas yang ditemukan pada Tempat Kejadian Perkara yang diberikan oleh pihak berwajib.

Maka dengan cepat Bunda Elegi merogoh kotak lain dibawah kasur. Kota berisi alat yang ditemukan didekan Elegi kala ditemukan tak bernyawa.

Itu dia. Secarik kertas dengan garis kasar akibat robekan. Disamakan dengan buku, dan ternyata benar. Itu dari buku yang sama. Mata Bunda terbelalak tidak percaya. Ia kembali sesuaikan dan itu persis sama. Jika itu benar surat terakhir yang ditulis oleh Elegi harusnya berada di lembar lainnya bukan dipertengahan buku seperti. Bagai dirobek secara acak tanpa banyak berpikir.

Dan juga, buku itu juga berada dalam loker yang mana seharusnya buku itu berada di Tempat Kejadian Perkara. Mengapa? Bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya telah terjadi?

"Ayah.. Ayah.." Panggil Bunda, tanganya makin bergetar dan matany tampak amat bingung.

Kalbadi datang dengan tergesa, wajahnya tergambar khawatir. Bukan hanya dia namun Permata juga ikut terbangun dan ikut melangkahkan kaki dengan cepat kearah suara itu berasal.

"Robekan ini harusnya dari buku ini Yah.. Kenapa bisa— kenapa bisa buku itu jauh dari Elegi padahal— padahal sobekan itu jelas sama kaya yang ada di buku ini." Suara gemetar dan sesak itu terdengar begitu pilu.

Kalbadi langsung melihat dengan seksama, apa yang sebenarnya dibicarakan oleh sang Istri. Buku itu berada tak jauh dari mereka, tergeletak pada lantai sebab kekuatan tangan Bunda tak lagi dapat menopangnya.

Di halaman tengah terdapat carikan kertas. Maka dengan hati-hati Kalbadi mencocokannya dilihat dengan lebih teliti dan bemar saja itu persis sama.

Halaman demi halaman itu kembali di buka oleh Kalbadi sampai pada satu kata pertama yang menarik perhatiannya.

Ayah..

Ayah terus bilang kalo Elegi itu kebanggaan Ayah. Elegi juga mimpi Ayah. Tapi, semuanya hancur. Elegi tidak bisa lagi rangkai itu untuk jadikan kebanggan bagi Ayah.. jangankan untuk menjadi mimpi Ayah bagi Elegi bahkan mimpi itu sudah mati sedari lama, apa Ayah masih bangga kepada Elegi?

Tangis Kalbadi meratapi setiap kata itu, mendapati bahwa anaknya memang telah hancur seorang diri. Bagaimana anak tunggalnya menjalani hari sampai berkata mimpi kebanggannya telah lama mati?

"Yah.. Bunda yakin, benar-benar yakin kalo Elegi ngga mungkin bunuh diri." Bunda Elegi duduk di hadapan Kalbadi dengan mata berpancar keyakinan.

"Ayah.. kita harus tunjukin ke Elegi kalo semuanya selesai, semua orang tutup mata dengan hasil bunuh diri, pihak sekolah, kepolisian. Iya, hasil forensik— kita kesana yah buat ambil, kita liat kebenarannya."

Maka Kalbadi hanya dapat mengangguk dengan keyakinan penuh. Dan akan kembali ke pihak berwajib dengan bukti yang ada. Tanpa keraguan.

Setelah membawa Bunda ke kamarnya, Kalbadi juga ikut menenangkan sang Istri.

Permata masuk kedalam kamar yang sudah ia hindari selama ini. Hanya untuk menoleh saja ia enggan. Diambilnya buku yang terletak di atas kasur itu, membaca satu persatu lembaran dengan tangis yang tertahan.

Bagaimana bisa, Abang menahan segalanya seorang diri. Ini tidak masuk akal. Bagaimana juga Abangnya masih jadi sosok yang begitu hangat di rumah namun begitu kesepian kala keluar dari rumah.

Sampai Permata menahan untuk membalikan halaman. Dengan tulisan kata benda yang selama ini mereka lupakan eksistensinya.

Hari ini, dering Handphone itu membuatku berloncat kegirangan. Rasa jantung itu kembali berdetak setelah ku tahan beberapa lama. Aku ingin segera berlari dan sampai disana agar bisa melepaskan segalanya, bersama kamu.

Permata tediam, berpikir sejenak dengan banuak dugaan.

Jangankan untuk mengungkapkannya. Semakin lama rasa itu seperti akan meledak dalam sekali sentuh. Tapi kala aku lihat senyum itu berasal dari orang lain dan kamu terlihat manis bersamanya. Aku mundur dari langkah awal. Dia, jauh lebih baik dibanding aku.

Siapa sebenarnya orang-orang yang dituliskan oleh Abangnya ini. Dan benar saja Permata teringat. Ponsel. Ponsel milik sang Abang tidak terlihat, hilang. Maka dibukanya kembali dua kotak yang ada disamping kasur, ia dudukan dirinya pada lantai mulai memilah isi kotak itu mencari benda yang dicarinya.

Tidak ada. Semua barang Abang sudah dikeluarkan dan hasilnya nihil. Dimana, bagaimana mungkin Abangnya kehilangan benda sepenting itu. Sekali lagi, Permata mulai kembali memilah lebih telitu setumpuk barang itu dan hasilnya tetap sama.

"Dimana HP Abang? kok ngga ada? harusnya ada didalem tas kan? pasti Abang kantongin juga."

Permata beranjak setelah membereskan kembali alat abang yang dikeluarkannya secara acak.

Benar, ia harus mencari dimana Ponsel itu berada. Seharusnya barang sepenting itu sudah ditemukan kan? tapi dimana?

Maka ia memastikan diri untuk mencari sebenarnya apa yang terjadi. Sudah seminggu ia tidak masuj ke sekolah itu, dihantui bayang-bayang suara sirine ambulan dan mobil polisi terkadang buat panik seorang diri. Melihat gerbang sekolah saja sudah membuatnya amat ketakutan, maka dengan segala ketegasaan dalam dirinya ia akan memasuki gerbang itu dan melihat seberapa banyak kekosongan dalam kasus Abangnya yabg ditutup sebagai kasus bunuh diri itu.

Lihat selengkapnya