Senja baru saja terlelap saat arunika menerobos masuk ke dalam kamar melalui sela-sela jendela yang sejak semalam dibiarkan terbuka. Seperti malam-malam lain, tiap malam Senja tak pernah menutup jendela kamarnya dengan alasan tak masuk akal; menunggu kekasih khayalannya yang rupawan turun dari rembulan. Meski yang kerap muncul di hadapannya ialah serbuan nyamuk yang mengamuk—penuh amarah mencari darah. Sesekali bangsa jin; kuntilanak, pocong, buta ijo, dan genderuwo yang mengintai di balik pohon palem. Meski Senja tahu kehadiran makhluk dari alam lain, ia tetap tenang dan kalem. Entah kesal atau bosan, para dedemit itu satu per satu raib menjelang azan subuh berkumandang—di kamarnya Senja masih sibuk berkhayal.
Pagi itu bersamaan dengan embusan angin dingin yang merambat, semburat cahaya mentari yang hangat tumpah di wajah Senja. Gadis yang kini genap berusia tujuh belas tahun itu lalu menggeliat seperti cacing. Ia memicingkan matanya yang silau ditusuk cahaya mentari, kemudian ia menyembunyikan wajahnya di bawah bantal. Tak lama setelahnya, suara dengkurnya terdengar, persis seperti suara gergaji: grak-grok-grak-grok.
Tepat pukul setengah tujuh pagi Senja terjaga dibangunkan suara dentang jam walker yang memekikkan telinganya. Tak lama setelahnya terdengar suara ketukan dari luar pintu kamar. Sambil menggaruk-garuk rambutnya yang berantakan seperti rambut serigala, Senja menyahut pelan, “Sebentar.”
Dengan malas senja turun dari tempat tidurnya lalu berjalan gontai seperti orang mabuk. Sambil mencungkil belek sebesar biji kacang hijau di sudut matanya, Senja menarik kenop dan perlahan pintu terbuka, kegelapan sekejap menyergap sebelum dua sosok bertopeng mengerikan muncul tepat di depan matanya. Jeritan Senja mendadak tertahan, membeku di tenggorokan sebelum pecah menjadi pekikan panjang: Aaaarrgh.
Tubuhnya limbung, lututnya lemas hingga ia jatuh tersungkur ke lantai yang dingin, kedua tangannya terangkat memohon ampun. “To...long...” suaranya tercekat begitu berat. Ia mengesot mundur, punggungnya menabrak dinding, mentok di pojok kamar. Senja masih merintih, kelopak matanya terkatup, tak ada perasaan selain takut melihat dua sosok bertopeng mengerikan yang terus mendekatinya dengan mengacungkan pisau dan garpu.
Senja menekuk kedua kakinya, menyembunyikan wajahnya di antara kedua pahanya yang besar sambil berujar lirih minta ampun. Sontak saja suara tawa meledak, menggema di ruang kamar. Perlahan, topeng itu terangkat, wajah-wajah yang tak asing menyeringai penuh kemenangan.
Senja menarik napas melihat kedua kakak kembarnya, Purnama dan Kejora, menari kecil penuh bahagia merayakan kemenangan. Betapa girangnya mereka berdua melihat Senja panik ketakutan.
Senja memegangi pantatnya yang nyeri setelah terbentur keras ke lantai. Amarah mulai mendidih dalam dirinya, tapi Senja hanya sekejap kemudian padam. Ia tak berani melampiaskannya, apalagi melawannya, meski hanya dengan kata sekalipun. Di hadapan dua perempuan yang ditakutinya, lidahnya mendadak terasa kelu.
Purnama dan Kejora masih terbahak-bahak, air mata tawa mengalir di sudut matanya. Mereka sama sekali tidak peduli kepada Senja yang masih kesakitan di lantai sambil mengelus-elus pantatnya yang lebar dan besar seperti tempayan. Setelah puas mendapat hiburan mengerjai Senja, kedua gadis kembar itu mengulurkan tangannya secara bersamaan. Bukan untuk membantu, Senja tahu itu. Firasat buruk timbul di hatinya. Namun, kali ini, sebelum menyambut uluran tangan kedua kakaknya, gerakan tubuh Senja yang besar membuat tubuh Purnama dan Kejora terguncang tak kuat menahan hingga kehilangan keseimbangan dan akhirnya, dengan bunyi gedebuk keras, kedua kakaknya ikut terjungkal bersamanya ke lantai.
Bruk!
Sesaat, keheningan memenuhi kamar yang berantakan. Senja menatap kedua kakaknya yang terbaring tak berdaya, bibirnya bergetar menahan tawa. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, berusaha meredam gejolak geli yang bercampur dengan sisa-sisa ketakutan. Senja berusaha keras agar tawanya tak sampai lepas dari mulutnya. Bukan karena rasa hormat, tetapi lebih pada rasa takut yang jauh lebih besar yang sudah berakar dalam dirinya setiap kali berhadapan dengan kedua kakaknya itu. Bahkan dalam keadaan yang menguntungkan sekalipun, di mana kedua kakak perempuannya tampak lemah dan tak berdaya, seperti kali ini, keberanian untuk cekikikan menertawakan mereka berdua terasa seperti jurang yang tak berani ia lewati.
Purnama yang mendapati pakaiannya kotor karena debu lantai tidak dapat menahan emosinya. Seketika amarahnya meledak. Dengan muka ketus kakak tertuanya itu berujar lantang yang membuat Senja menjadi ciut.
“Kamu sengaja, ya, balas dendam?” bentaknya dengan suara tinggi.
Bentakan itu menghantam Senja seperti sebuah tamparan keras yang mendarat di pipinya. Tubuhnya menegang, pipinya merah tertarik kencang, dan napasnya terasa berat di tenggorokan. Kata-kata yang ingin ia ucapkan—bahwa ia hanya berusaha menahan tawa—lenyap seketika. Terlebih saat Kejora, dengan wajah yang tak kalah bengisnya, berdiri dan menudingkan jari telunjuknya yang runcing ke arah tubuh Senja yang besar.
“Gembrot,” teriaknya lantang, menggema memekikkan telinga.
Mendengar kegaduhan di kamar Senja, seorang perempuan tua yang seluruh rambutnya berwarna perak bergegas naik tangga untuk melihat apa yang dilakukan ketiga cucunya. Perempuan berusia lanjut yang dipanggil Eyang Putri itu terkejut melihat ketiga cucunya sedang bergumul di lantai.
“Sedang apa kalian?” tanyanya heran, “Kejora dan kamu... Purnama, kalian berdua mau berangkat kuliah jam berapa?”
Si kembar Purnama dan Kejora mengeluyur pergi dari kamar Senja. Dengan wajah kesal mereka masih menggerutui Senja yang masih terduduk lemas di lantai.
“Ini gara-gara si gembrot,” sahut keduanya kompak sebelum melongos pergi begitu saja.
Neneknya masih berdiri di ambang pintu, kerutan di wajahnya semakin dalam melihat pemandangan ketiga cucunya yang selalu berseteru. Ia menggelengkan kepala, tangan keriputnya terangkat mengusap dada, merasakan nyeri samar di hatinya. Dengan langkah pelan namun tergesa, ia menghampiri Senja yang masih duduk di lantai.
“Sayang...” Suara neneknya lirih, “kamu tidak berangkat sekolah, Nak?”
Senja diam tatapan matanya kosong ketika neneknya mengajukan pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Meski ia punya kesempatan untuk mengibulinya, tetapi ia segan melakukannya.
“Sekarang mandi terus sarapan. Eyang tunggu di bawah.”
Senja berdiri lalu menuruti perintah neneknya. Tidak lama kemudian suara klakson mobil terdengar dari halaman rumah.
“Eyang Putri, Purnama berangkat kuliah dulu,” teriaknya sambil melambaikan tangan.
“Kejora juga berangkat, kereta kencananya sudah datang!”
Dari balik jendela neneknya mengamati kedua cucunya berjalan riang gembira bergandengan tangan dengan kekasihnya masing-masing sebelum masuk ke dalam mobil dan hilang dari pandangan matanya.
Sebelum meninggalkan Senja, perempuan tua itu mengamati kamar cucunya yang terasa ganjil hingga bulu kuduknya dibuat merinding. Seperti kuburan, kamar cucunya yang satu ini amat sepi nan sunyi. Sekalipun belum pernah perempuan tua itu melihat Senja membawa temannya ke dalam kamar. Jangankan pacar, teman sejenisnya pun tak ada yang pernah singgah. Ah, jangankan dibawa ke kamar, main ke rumah pun belum pernah.
Sesampainya di meja makan perempuan tua dengan tenaganya yang sudah payah segera menyiapkan sarapan untuk Senja. Dua butir telur balado, nasi sepiring penuh, dua potong ayam goreng, dan segelas susu. Sekilas menu sarapan pagi yang disiapkan untuk Senja layaknya makanan untuk anak kecil yang sedang masa pertumbuhan. Selera makan Senja memang luar biasa. Berbeda dengan kedua kakak kembarnya yang sangat berhati-hati memasukkan makanan ke mulutnya.
Menurut Purnama dan Kejora, memasukkan makanan yang digoreng ke mulut itu sama saja menenggak racun. Jelas ucapan itu dialamatkan untuk Senja yang pemakan segalanya. Semuanya dilahapnya tanpa pandang bulu, makanan apa saja dihajarnya sampai tandas.
Terlebih jika sudah lapar, ia akan makan seperti orang kesurupan. Menjadi wajar jika bentuk tubuh Senja seperti beduk di masjid: bulat dan besar. Barangkali karena selera makannya yang tak kenal aturan membuat tubuhnya jauh lebih besar ketimbang usianya saat ini.
Karena bentuk tubuhnya yang gendut, kedua kakaknya kerap mengejeknya. Setiap hari Senja habis dibulinya. Neneknya sampai bingung dengan Purnama dan Kejora, yang kelewat jahat dan jahil. Bagaimana mungkin seorang kakak yang seharusnya menjaga dan menyayangi adiknya justru bersikap sebaliknya: memusuhinya. Itulah pertanyaan neneknya jika melihat kejahilan Purnama dan Kejora pada si bungsu, Senja.
Aneh memang. Padahal, ketiga cucunya dilahirkan dari rahim yang sama. Purnama dan Kejora merupakan bayi kembar yang disambut dengan kegembiraan saat dilahirkan ke dunia. Saat keduanya berusia lima tahun, ibunya kembali melahirkan seorang anak perempuan dengan susah payah, hingga nyaris menyerah. Saat akan diambil tindakan operasi, perempuan itu berhasil mengeluarkan Senja dengan entakkan kuat sampai napasnya tersengal-sengal. Bayi perempuan lahir dengan selamat, tetapi tidak dengan ibunya. Ya, si ibu keburu meninggal, bahkan sebelum melihat dan menciumnya. Kurang dari dua pekan giliran suaminya yang mengikuti jejak istrinya ke surga. Sejak saat itulah Senja dan kedua kakaknya—Purnama dan Kejora—dirawat oleh neneknya.
Betapa sialnya nasib Senja. Ia dilemparkan Tuhan ke dunia dengan nasib yang kurang baik. Tidak di rumah maupun di sekolah, semua orang melihatnya dengan tatapan jijik. Senja selalu mengingat tatapan kedua mata saudara perempuannya yang penuh kebencian. Udara pagi yang dingin tak mampu meredakan hawa panas yang menguap di tubuhnya tiap kali kedua kakaknya melirik dengan wajah judes. Sialnya, di sekolah pun sama saja. Tatapan mata teman-temannya tak kalah menyeramkannya dengan lirikan kedua kakak perempuannya. Mengingat perlakukan teman-temannya, Senja tak bersemangat berangkat ke sekolah. Bisikan-bisikan tajam yang selalu mengiringinya saat pertama kali kakinya memasuki bus sekolah masih terngiang di telinganya.
Meski kerap mendapat perlakuan tak menyenangkan, di dunia yang penuh dengan ketidakadilan ini, tidak semua orang adalah iblis. Di mata Senja setidaknya ada dua orang berhati malaikat. Pertama, sang nenek yang selalu membelanya selama berada di rumah, terutama dari gangguan jahat kedua kakak kembarnya, Purnama dan Kejora. Sedangkan orang berhati malaikat lainnya ialah Langit—teman di sekolahnya. Langit tidak segan membela dan menolong Senja dari gangguan jahat teman-temannya. Misalnya, pernah suatu hari yang penuh sial, Langit mendadak muncul menolongnya saat sekelompok anak laki-laki mengepung Senja dan mulai melontarkan kata-kata kasar, Langit dengan berani maju dan berkata dengan suara pelan tetapi tegas, ‘Sudah cukup atau kalian akan berurusan dengan kepalan tanganku.’ Sepotong kalimat yang keluar dari mulut Langit sudah cukup meyakinkan Senja, dialah malaikat yang dikirim Tuhan untuk dirinya.