Semesta Senja dalam sekejap berubah. Lebih cepat dari kerlingan mata Nabi Sulaiman saat memindahkan singgasana Ratu Bilqis. Ya, begitulah Senja memindahkan dunianya ke semesta khayalnya yang terbentang luas di dalam benaknya.
Mula-mula Senja memutar waktunya berjalan mundur ke belakang. Memulainya di hari yang paling tidak ia senangi. Waktu itu nama hari bergulir begitu cepat. Hari libur sekolah terasa begitu singkat. Senja ingat baru semalam menikmati kebebasan akhir pekan, kini hari sudah kembali bernama Senin. Di atas ranjang tidurnya, Senja masih memeluk bantal guling kesayangannya dengan erat. Layaknya sepasang kekasih yang bertukar pelukan dan membenci tibanya perpisahan. Bagi Senja, bantal guling yang sedang dipeluknya itu bukan bantal guling biasa, ia memperlakukannya dengan istimewa, mendandaninya menyerupai boneka, bahkan mengenakannya baju tidur dan menyelipkan foto teman sekelasnya: Langit.
“Aku tak ingin berpisah denganmu, Langit,” ujarnya kemudian menciuminya.
Jarum jam berdetak melangkah dari detik ke menit. Tanpa disadari dari balik jendela kamarnya mentari sudah menyingsing. Cahayanya yang kuning kemerahan berpendar menerobos hordeng kamar Senja dan tumpah di wajahnya. Senja masih memeluk bantal guling kesayangannya itu dengan perasaan limbung. Tidak ada yang lebih menjengkelkan selain harus berangkat ke sekolah. Tidak ada tempat paling horor selain kelas sekolah. Membayangkan teman-temannya yang jahat sudah menunggunya di kelas, gadis remaja itu makin lemas dan malas. Bagaimana tidak cemas, perundungan yang dilakukan teman-temannya tidak mengenal hari. Tidak ada hari libur bagi kejahilan yang mereka lakukan.
Kali ini kejahilan teman-temannya makin menjadi. Mereka tidak hanya menyakiti Senja dengan kata, tetapi juga mulai menyerang fisik Senja. Disiram air saat buang hajat di toilet, ditiup trompet berjamaah saat ketiduran pada jam pelajaran, dipaksa main kartu dan sengaja dicurangi agar wajahnya dibedaki kapur tulis, hanya sekian dari banyaknya kejahatan yang diterima Senja. Tidak siswa laki-laki maupun siswi perempuan, mereka sama saja: jahat dan keparat.
Sambil memeluk guling, Senja membayangkan hujan badai turun pagi ini. Jika hujan badai tak jadi turun tak apa, asal penggantinya harus sepadan. Misalnya, gempa bumi atau gunung meletus. Biar lebih dramatis lagi Senja juga membayangkan mendadak mendapat pemberitahuan dari pihak sekolah yang dengan terpaksa meliburkan murid-muridnya karena angin puting beliung baru saja mengamuk merobohkan bangunan sekolah. Senja tersenyum lebar membayangkan kejadian itu andai menjadi nyata. Ia tersenyum puas akhirnya dapat tidur sampai pulas. Tidak ada panggilan “Gajah” yang membuat telinganya sakit. Tidak ada siksaan fisik yang membuat dirinya lebih memilih pasrah ketimbang marah. Mereka tidak tahu kalau gajah sudah mengamuk apa saja dapat dibuat remuk. Begitulah Senja menghibur diri sambil cengengesan di atas kasurnya yang empuk dan hangat seperti peluk—ya, peluk Langit yang legit. Sengit.
Baru saja Senja memejamkan matanya, hujan badai benar-benar datang dan menerjang masuk ke dalam kamar hingga banjir. Seperti kucing disiram air, Senja meloncat dari kasurnya dengan panik.
“Banjir... Badai... hujan badai,” teriak Senja berusaha menyelamatkan diri sebelum sadar itu ulah kedua kakaknya yang menyiramnya dengan dua ember berisi air hujan semalam. Kedua kakaknya, Purnama dan Kejora, cekikikan melihat kekonyolan adiknya seperti orang tak waras.
“Mana ada hujan badai Kuda Nil. Kamu enggak lihat matahari sudah panas begini mana ada hujan, apalagi hujan badai,” kata Purnama sambil memegangi perutnya yang sakit karena tawa.
“Cepat buatkan kami sarapan, kami berdua sudah kelaparan,” perintah Kejora memaksa.
“Eyang ke mana?” balas Senja.
“Eyang sudah pergi ke toko sebelum matahari terbit. Cepat buatin sarapan,” kata Kejora menambahkan sambil menjambak rambut Senja sebelum menendang bokongnya yang besar.
“Sekalian rapikan kamar kami berdua,” kali ini giliran Purnama yang memberi tugas tambahan untuk Senja. “Aduh, ini foto siapa?”
Senja yang gugup berusaha mengambil foto teman sekelasnya dari tangan Purnama. “Berikan foto itu,” pintanya.
Kedua kakaknya tidak peduli. Dengan cepat foto berukuran wajah orang dewasa itu berpindah dari tangan Purnama ke tangan Kejora tiap kali Senja berusaha merebutnya.
“Ah, jangan mengkhayal kamu dapat pacar seganteng ini,” Kejora meledek Senja dengan tawanya yang belum reda.
“Berikan foto itu atau aku tidak akan mengerjakan tugas dari kakak,” balas Senja merengek.
“Oh, begitu, kalau kamu tidak mau mengerjakannya, maka aku akan menyebar foto ini dan memberitahu teman-temanmu di sekolah,” ancam Kejora sambil melemparkan foto ke arah kembarannya, Purnama. “Tangkap ini.”
Siapa sangka lemparan Kejora tidak sampai ke tangan Purnama dan jatuh melayang ke lantai. Kesempatan itu tidak disia-siakan Senja untuk mengambil foto yang tiap malam menemani tidurnya.
Sial tangan Senja yang gempal kalah cepat dengan kaki kedua kakaknya yang panjang. Tepat di depan matanya, kedua kakaknya langsung menginjak foto yang sedang diperebutkan itu. Senja diam melongo melihat wajah pria idamannya di bawah kaki kakaknya. Ia berusaha untuk tidak menangis tetapi air mata yang tidak bisa diperintahnya tetap saja keluar dari matanya. Ia tidak menyangka kakaknya tega menginjak foto yang sudah berbulan-bulan lamanya menemani malam-malamnya yang kemarau—yang bikin risau.
“Apa yang sebenarnya kakak mau dariku? Belum cukupkah semua kesedihan yang aku alami membuat kalian berdua puas menyakitiku,” ujar Senja meraung dalam tangis.
“Malah menangis lagi. Asal kamu tahu di rumah ini kami hanya menganggapmu pembantu—tidak lebih. Sekarang cepat siapkan kami berdua sarapan,” balas Purnama sambil berkacak-pinggang di hadapan Senja.
“Pagi ini aku ada tugas upacara di sekolah,” sahut Senja pelan tanpa berani memandangi wajah kedua kakak perempuannya.
“Aku tidak peduli. Jangankan menjadi petugas upacara di sekolah, menjadi petugas Paskibraka di Istana Merdeka pun tidak akan aku izinkan jika belum menyelesaikan pekerjaan yang aku perintahkan. Di rumah ini kami berdua lebih berkuasa dari kepala sekolah atau presiden sekalipun,” hardik Kejora di depan hidung Senja yang kembang-kempis seperti menahan pipis.
Purnama yang sudah tidak tahan lagi akhirnya memuntahkan kalimat pendek yang membuat Senja tersentak kaget.
“Gegara kamu ibu pergi untuk selamanya...” ujarnya dengan nada keras.
Senja bersimpuh. Kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Purnama itu bagai panah yang menghunjam ke ulu hatinya. Ia tak sanggup lagi berkata-kata, hanya lukisan sedih yang membayang di wajahnya. Matanya mendadak mendung, kemudian menumpahkan cucuran air yang jatuh ke pipi menyeberangi bibirnya sebelum jatuh ke lantai.
“Eyang... Eyang...” Senja berujar lirih bersimpuh dilantai dengan rambut yang menjuntai. Dipegangi dadanya yang sakit mendengar ucapan kakaknya yang kelewat pahit.
Puas melihat Senja menangis histeris, kedua kakaknya meninggalkannya begitu saja sambil mengingatkan: “Waktumu menyiapkan sarapan dan merapikan kamar hanya tiga puluh menit. Jika belum selesai juga aku tak segan mengulitimu dan menjual dagingmu ke pasar Jatinegara. Jika tidak ada yang mau membelinya tak apa, anjing liar di depan rumah sudah menunggunya.”
Senja tak berdaya. Ia menerima saja perlakuan kedua kakaknya yang menurutnya sama jahatnya dengan perbuatan teman-temannya sekelasnya yang bejat. Ia punya alasan mengenai penilaiannya itu. Sambil mengusap air matanya, Senja mulai mengerjakan apa yang diperintahkan kedua kakaknya. Ia baru bernapas lega sebelum menyelesaikan pekerjaan di dapur, menyiapkan sarapan untuk kedua kakaknya dan merapikan kamar tidurnya sebelum diakhiri mengepel lantai rumah.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh lebih tiga puluh. Senja belum mandi dan belum mengurusi dirinya sendiri. Seperti kucing dilemparkan di tengah kerumunan anjing liar, Senja panik setengah mati meloncat ke sana kemari. Demi menghemat waktu Senja memilih mengelap wajahnya dengan sabun batangan ketimbang harus mandi yang membuang banyak waktu, kemudian mengoleskan deodoran ke ketiaknya dan sedikit menyemprot parfum ke tubuhnya yang bau apek. Barulah setelah itu ia meluncur ke sekolah. Bagai orang kesurupan Senja berlari sekuat tenaga. Semua orang yang ada di jalan dibuat ngeri melihat gadis berubuh besar berlari menyeruduk siapa saja yang berani menghalangi jalannya. Semua orang mempersilakan Senja berlari tanpa ada yang berani melerai apalagi menghentikannya meski hanya sekadar basa-basi.
Setelah berjuang dengan susah payah, Senja akhirnya sampai di gerbang sekolah. Napasnya naik turun, keringatnya bercucuran membasahi seragam sekolah yang dikenakannya.
“Ya, Tuhan,” ujarnya setelah melihat jam yang melingkar di tangannya menunjukkan pukul delapan lebih sepuluh menit. Setelah mengusap keringat di wajah, leher, dan ketiaknya, gadis tambun itu celingukan memastikan tidak ada yang memergokinya. Dengan gerakan pelan ia mendekati gerbang sekolah berharap tidak dikunci agar bisa menyelinap masuk. Sial gerbang pintu sekolah sudah digembok. Senja meringis kecewa. Usaha ekstranya berangkat ke sekolah seperti sia-sia. Dengan wajah lemas nyaris putus asa Senja balik badan berniat pulang. Baru lima langkah meninggalkan gerbang sekolah, terdengar letupan suara diiringi batuk yang menggelegar: Senja...
Mendengar namanya dipanggil Senja menghentikan langkahnya. Suara yang tidak asing di telinganya, Senja mengenal betul pemilik suara itu. Siapa lagi kalau bukan Pak Salim, guru olahraga yang dikenal killer. Perasaan Senja mulai tak karuan. Cemas dan takut kini meliputi perasaannya. Benar saja, baru saja Senja melirik ke arahnya, guru olahraga berbadan kurus kerempeng itu langsung mengomel: kamu mau bolos sekolah?
Mendengar ucapan guru yang paling ditakuti itu mendadak wajah Senja menjadi pasi bagai mayat yang mati kemarin pagi. Kata-kata untuk membela diri sirna begitu saja dari pikirannya. Senja menjadi gugup bercampur takut. Keberaniannya longsor di hadapan guru yang terkenal kejam menyiksa murid-muridnya.
“Aku telat datang, Pak...” balas Senja dengan suara bergetar. Saat mengucapkan kalimat pendek itu ia tidak berani menatap wajah Pak Salim yang sangar sekaligus seram. Kumisnya lebat, matanya yang besar ditutupi kacamata. Meski badannya kurus tetapi tenaganya besar. Senin kemarin Senja melihat sendiri Pak Salim mengamuk mengajar tiga siswa laki-laki yang ketahuan merokok di toilet. Ketiganya diseret ke lapangan halaman sekolah kemudian bokongnya ditendang sampai ketiganya terjungkal. Untunglah kemarahan Pak Salim dapat diredam oleh guru lainnya. Jika tidak, tiga siswa badung itu sudah digantung di tiang bendera secara bergantian. Begitulah Senja membayangkan kengerian Pak Salim yang gemar berbuat zalim kepada murid-muridnya.
“Ah, bohong. Bapak lihat kamu mau kabur,” tukas Pak Salim sambil melinting kumisnya yang lebat seperti kumis Nietzsche. “Cepat masuk kelas, mau jadi apa kamu, sudah kelas tiga masih suka bolos.”
“Aku tidak bisa masuk, Pak.”
“Kenapa?”
“Gerbang pintunya kan digembok.”
“Lalu bagaimana caranya kamu bisa keluar?”
“Aku belum masuk, Pak.”
“Sudah tidak usah banyak alasan. Naiki pagar gerbang.”
“Naik pagar? Aku kan perempuan Pak, mana bisa,” kali ini Senja lancar menjawab perintah gurunya meski rasa takut belum padam di hatinya.
“Bisa. Keluar saja bisa. Cepat,” bentak Pak Salim.
Dengan susah payah Senja menaiki gerbang. Tubuhnya yang besar tidak hanya membuatnya susah bergerak, tetapi sukses membuat pagar sekolah roboh jatuh bersama Senja. Braaak.
“Aduh, bagaimana ini, “ kata Pak Salim memegangi kepalanya melihat pagar gerbang sekolah roboh tidak kuat menahan beban tubuh Senja.
“Maaf, Pak,” ujar Senja pelan setelah berhasil masuk ke halaman sekolah dengan susah payah. Senja melirik wajah Pak Salim yang merah, sudah jelas ia sedang marah. Kepalanya berasap dibakar api emosi yang menyala di dadanya.