Akhir pekan di penghujung bulan Desember. Senja yang sudah bertekad akan menurunkan berat badannya belum berhenti berlari meski napasnya sudah tidak karuan. Lintasan sepeda sepanjang satu kilometer berhasil dilaluinya dengan susah payah. Di dekat pos ronda tidak jauh dari area taman, di mana anak-anak kecil terlihat sedang bermain, Senja memutuskan menepi sebentar untuk meluruskan otot kakinya yang terasa kaku dan tulang-tulangnya terasa linu. Kakinya yang besar seperti tiang listrik terasa pegal saat diluruskan.
Sudah tiga bulan ini ia rajin berolahraga saban sore setelah pulang sekolah. Dan, joging adalah olahraga yang dipilihnya, selain murah meriah, juga tidak ada pilihan lain yang cocok untuk dirinya. Sebelumnya Senja pernah mencoba olahraga renang. Kebetulan ada tempat renang yang lokasinya tidak jauh dari sekolahnya. Ia bisa menghemat waktu, setidaknya tidak perlu mengeluarkan ongkos lagi, cukup berjalan kaki lima ratus meter dari sekolahnya. Dengan percaya dirinya Senja memilih berenang di kolam yang dalamnya dua meter. Sial tubuhnya yang besar tidak bisa diajak berenang. Ia tenggelam dan butuh tiga orang dewasa untuk mengangkat tubuhnya naik ke permukaan. Setelah berhasil mengangkat tubuh Senja ke tepi, penjaga kolam renang menyarankan olahraga lainnya yang cocok untuk Senja.
“Baru kali ini aku melihat kuda nil tidak bisa berenang. Sebaiknya kamu cari kubangan di sawah jika ingin berendam. Kamu tidak cocok bermain di air, Nak,” ujarnya dengan napas terengah-engah.
Tidak putus asa, Senja mencari tempat olahraga lainnya. Maka dipilihlah tempat gym dengan harapan akan mendapat pelatih yang dapat membantunya menurunkan berat badannya. Namun, apa hendak di kata, di tempat gym yang jaraknya lumayan jauh ditempuh ia bertemu dengan Gerhana—teman sekelasnya yang paling bengis menjahilinya. Si bengis itu tidak sendiri, melainkan bersama kawanannya berjumlah lima orang.
Sebagaimana yang kerap Gerhana lakukan terhadap Senja saat di kelas: mengolok-oloknya. Kali ini ia pun mengolok-oloknya. Tidak puas menyakiti Senja dengan kata, ide jahat pun muncul di kepalanya yang besar seperti bola lampu di taman. Mula-mula si bengis Gerhana mengamati Senja yang sedang sibuk mengangkat beban. Melihat Senja sedang lengkah, ia dan teman-temannya segera menyelinap ke tempat ruang ganti. Setelah menemukan barang bawaan Senja, ia mengganti air mineral yang dibawa Senja dengan minuman yang sudah dicampur sambal setan.
Setengah jam kemudian Senja berniat pulang lebih cepat setelah lengan tangannya terasa sakit tidak terbiasa mengangkat beban yang berat. Ia meluncur mengemasi barang bawaannya di ruang ganti. Karena kehausan ia mencomot botol air minumnya dan menenggaknya. Dari kejauhan Gerhana dan teman-temannya tak bisa menahan tawa melihat Senja kelojotan setelah menenggak botol air minum berisi sambal pedas setan yang biasa ia beli di warung pecel langganannya.
“Mampus...” teriaknya puas melihat Senja hilir mudik ke toilet sambil memegangi perutnya.
Tiga hari lamanya Senja berbaring di rumah sakit. Usus dan anusnya panas seperti terbakar. Setelah kejadian itu ia tidak lagi mendatangi tempat fitnes yang membuatnya ngenes. Lemes. Senja baru mengetahui jika semua itu ulah Gerhana dan teman-temannya. Di kelas Senja menjadi bahan tertawaan mendengar cerita Gerhana di hadapan teman-temannya. Senja hanya diam. Ia tidak berani melawan Gerhana dan temannya. Sejak saat itulah cerita Senja yang berubah menjadi monster menakutkan saat sedang marah hanyalah mitos belaka. Kini, teman-teman sekelasnya tidak takut lagi menjahili dan menjahati Senja—sebagaimana yang kerap dilakukannya dulu.
Senja sendiri sadar tidak ada yang lebih berbahaya selain bertemu dengan teman-teman sekelasnya, terutama Gerhana dan gerombolannya. Pemuda begajulan itu sepertinya sengaja dibiarkan Tuhan ke hidup di bumi memainkan peran antagonis dengan sempurna. Dari mulut Gerhana yang pedas itulah, julukan 'Gajah' pertama kali melekat pada diri Senja
Kata gajah menjadi populer yang kerap diucapkan semua orang di sekolah terutama sekali saat melihat Senja.
Senja masih mengingatnya. Ya, bisa dikatakan itulah hari paling buruk dalam hidupnya. Sebuah hari yang selamanya akan diingat, bahkan dicatat oleh tangan waktu, saat anak manusia dihinakan serendah-rendahnya dengan panggilan dehumanisasi: Gajah. Kelak Senja mengerti itulah sebutan seksisme yang gemar diumbar dari mulut lelaki. Meski Kamerad Fajar berulang kali memberi pencerahan pada murid-muridnya yang jahil: Sejatinya perempuan sama, tetapi mata lelakilah yang memandangnya berbeda.
Pagi sebelum upacara sekolah dimulai, si bengis Gerhana diam-diam menempelkan secarik kertas di punggung Senja. Perbuatan jahat Gerhana sukses membuat satu sekolah tertawa terpingkal-pingkal melihat tulisan di secarik kertas yang menempel di punggung Senja: Gajah.
Sejak saat itulah Senja dipanggil gajah. Senja berserah menerima perlakuan jahat itu. Kepada siapa ia hendak mengadu—apalagi melawan? Tidak ada teman yang membelanya, kedua kakaknya sudah lama memusuhinya. Neneknya? Ah, tidak mungkin mengadu kepada orangtua yang untuk berjalan saja susah. Maklum sudah tua dan renta. Itu sebabnya dalam banyak hal neneknya tidak mengetahui kejadian apes bin buruk yang menimpa cucu kesayangannya itu.
Perlakuan si bengis Gerhana kepada Senja begitu membekas. Seperti luka yang meninggalkan belang. Mengingat semua itu, air mata Senja berlinang, menggenang di matanya bercampur keringat sebesar biji jagung yang mengembun. Tidak mau menjadi tontonan orang yang kebetulan lewat, Senja mengusap air matanya dan mencuci wajahnya dengan air mineral yang dibawanya dari rumah.
“Aku tidak boleh menyerah,” ujarnya menyemangati dirinya sendiri.
Ditatapnya langit sore, awan putih yang menggantung baru saja disapu pesawat yang melintas. Tiap kali menatap langit, Senja selalu teringat Langit. Pemuda tampan dan baik yang sudah menarik perhatian Senja seluruhnya. Setiap pesan yang disampaikannya selalu ia dengar dan diam-diam dilakukan, betapa pun berat dan pahit Senja akan tetap melakukannya.
Sambil menikmati semilir angin sore, Senja kembali teringat ucapan Langit yang sudah beberapa bulan ini terus terngiang di telinganya: Jika kamu mau berjuang untuk menurunkan berat badanmu, mungkin semua orang akan memperlakukanmu bagai ratu—bagai Dewi Ayu—tokoh fiksi idolamu itu.
Segera saja Senja bangkit. Ia bertekad akan menurunkan berat badannya. Bagaimana pun caranya ia harus bisa tampil cantik layaknya Gemintang. Siswi kelas tiga yang kecantikannya bagai pualam. Tubuhnya bohay pokoknya aduhai. Pemuda mana saja yang melihat kecantikannya akan dibuat menelan air ludahnya sendiri yang asin.
Semangat Senja, teriaknya menyemangati diri sendiri sebelum kembali berlari membelah kerumunan di tepi jalan dan semua orang memberikan jalan sambil menggelengkan kepala melihat gadis besar berlari menerjang apa saja di depannya.
“Awas ada gajah mengamuk, nanti kena seruduk,” kata seorang ibu yang sedang menggendong anaknya.
Senja pura-pura tidak mendengar ucapan menyakitkan itu. Ia terus berlari hingga hari berganti nama menjadi senjakala. Barulah di depan toko baju tidak jauh dari rumahnya Senja menghentikan langkah kakinya. Ia diam memandangi gaun merah muda yang wah. Cukup lama ia memandangi gaun merah itu. Pemilik toko baju kemudian menghampirinya. “Baju itu sepertinya masih belum pas untuk ukuran tubuhmu,” ujarnya sambil tersenyum ramah. “Kembalilah tiga bulan lagi, semoga belum ada yang membeli gaun cantik ini.”
Ucapan pemilik toko baju itu membuat Senja malu. Tiga bulan yang lalu orang tua itu juga mengatakan hal sama saat Senja menanyakan ukuran gaun mewah itu. Melihat tubuh senja yang kelewat besar, Pak Tua itu menyarankan agar Senja menurunkan berat badannya. Katanya, gaun mewah ini didesain untuk gadis muda dengan berat badan antara lima puluh lima hingga enam puluh kilogram. Mendengar jawaban pemilik toko Senja sempat berputus asa. “Mulailah berolahraga dan datanglah enam bulan lagi,” begitu kurang lebih ucapan pemilik toko menyemangati Senja.
Senja masih mematung di depan toko. Kemudian menghampiri sebuah cermin. Betapa kagetnya Senja melihat tubuhnya, perutnya, lengan tangannya yang masih utuh dipenuhi lemak. Ia menggenggam perutnya yang menggelimbir. Kesedihan tidak dapat disembunyikan dari wajahnya. Sudah tiga bulan ini ia berjuang keras menurunkan berat badannya, tetapi usahanya tidak membuahkan hasil. Selain rajin berolahraga, berbagai program diet sudah dijalaninya. Tidak itu saja, semua pekerjaan berat di rumah dengan senang hati ia lakukan, termasuk melayani kedua kakaknya, membersihkan kamar tidurnya, kamar mandinya, memasak, memotong rumput, mengepel, membersihkan halaman hingga pekarangan, sampai halaman rumah tetangganya juga ia bersihkan. Namun, semua itu seperti sia-sia. Tidak ada perubahan berarti pada tubuhnya. Lemak di tubuhnya masih di sana-sini. Slogan usaha tak membohongi hasil seperti tidak berlaku bagi Senja yang berat badannya barangkali belum turun sedikit pun.
“Apa ini mau-Mu, Tuhan?” tanyanya sambil mendengakkan kepalanya ke atas langit dan hujan air mata membasahi wajahnya yang kusam dibedaki debu dan daki. Seekor burung melintas dan membuang kotoran ke wajah Senja.
“Asem,” kata Senja sambil mengusap wajahnya dengan tisu bekas yang memenuhi kantong keresek yang dibawanya.
Senja makin sedih jika teringat ucapan Langit tiga bulan lalu saat mengatarnya pulang. “Aku ingin sekali melihatmu mengenakan gaun terbuka, pasti kamu cantik sekali, Senja. Ya, meski harus menurunkan berat badanmu. Tidak ada yang murah dan mudah untuk menebus harga sebuah keindahan. Kecantikan. Perempuan cantik dan seksi yang sering nongol di beranda media sosial, apa kamu pernah bertanya kenapa mereka memiliki tubuh seindah itu? jawabannya, butuh pengorbanan besar untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal seperti itu. Kamu mengenal Gemintang, selain rajin berolahraga ia tidak memasukkan olahan tepung, makan berminyak, dan makanan tinggi gula ke dalam perutnya. Itu sebabnya ia putih, langsing, dan mata lelaki yang melihatnya dibuat pening.”