Matahari sudah longsor saat Senja menghabiskan separuh harinya hanya untuk mencoba beberapa pakaian yang pas untuk tubuhnya— terutama perutnya. Isi lemari sudah dikurasnya, tetapi tidak ada satu pun pakaian yang ramah untuk ukuran tubuhnya. Sambil memegangi kepalanya Senja melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia pusing setengah mati.
Menghitung mundur tiga jam lagi pesta kembang api akan dimulai. Dan Senja belum menemukan pakaian yang cocok untuk tubuhnya. Ya, tepat pukul sepuluh malam pesta kembang api akan dimulai. Semua siswa-siswi pastilah sudah memenuhi area lapangan sekolah, duduk rapi di bangku yang sudah disiapkan panitia. Tidak sendiri, mereka datang membawa pasangan duduk mesra bergandengan tangan. Beberapa guru sekolah juga banyak yang ikut menghadiri pesta kembang api dengan agenda terselubungnya. Nantinya akan banyak hiburan mulai dari panggung drama, musikalisasi puisi, hingga pentas musik. Tahun kemarin The Rain tampil mengisi puncak acara dengan lagu-lagu andalannya, tahun ini giliran Hindia yang diundang untuk tampilan memberi hiburan.
Senja sudah membulatkan tekad untuk mengumumkan cintanya kepada Langit sebelum pergantian tahun, sebagaimana yang diminta lelaki pujaannya untuk membuktikan kesungguhannya. Menyatakan cinta itu mudah, namun mengumumkannya di depan banyak orang adalah ujian keberanian seorang pecinta sejati.
Demi mendukung tekadnya itu, maka harus ditunjang dengan penampilan yang menawan. Senja ingin sekali memberi kejutan kepada Langit, bahwa dirinya bisa tampil seksi dan cantik seperti gadis-gadis lainnya. Sialnya, setelah mencoba gaun ke enam, ia sadar tubuhnya seperti takdir yang tidak dapat diubah. Lekukan anak gunung yang menonjol di sana-sini tidak bisa ditutupi.
Huuffft... Senja menghela napas. Ia lemas. Pikirannya kacau. “Oh, Tuhan apa yang harus aku lakukan,” rintihnya.
Stres memikirkan pakaian apa yang akan dikenakannya untuk acara nanti malam, Senja sampai lupa makan dan buang air besar. Jam dinding yang baru dibelinya dua minggu lalu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Detik terus melangkah melewati menit ke menit yang lain dan Senja tak sadar waktunya dihabiskan hanya untuk mengobrak-abrik isi lemari tanpa menemukan pakaian yang diinginkannya.
“Benarkah ini tubuhku?” pikir Senja di hadapan seorang gadis gembrot sambil menggenggam segumpal lemak di perutnya di depan cermin. “Oh, tidak...”
Setelahnya, hanya terdengar raungan tangis. Ya, seperti bom waktu, tangisnya meledak. Barangkali tikus, kecoak, dan cecak pun kabur tak tahan mendengar tangis gadis bertubuh tambun itu.
Seorang berhati mulia yang kasih sayangnya layaknya seorang ibu muncul di hadapan Senja. Siapa lagi kalau bukan neneknya. Dipeluk cucu kesayangannya sambil berbisik: “Ada apa sayang? Kamu tidak jadi pergi ke acara tahun baru di sekolahmu?”
“Aku harus pergi dengan pakaian apa Eyang? Lihat tidak ada pakaian yang cocok dan pas untuk ukuran tubuhku—perutku.”
Neneknya menggeleng kemudian menghela napas.
“Nilai seseorang tidak ditentukan pakaian yang dikenakannya, tetapi pada harga dirinya. Dirimu lebih tinggi nilainya daripada pakaian yang kamu kenakan. Apa kamu tahu siapa saja yang menghina bentuk tubuh seseorang, maka ia telah menghina Tuhan.”
“Benarkah?”
“Ya. Sekarang pakailah pakaianmu yang menurutmu cocok. Yang menurutmu nyaman dengan tubuhmu. Sekarang pilih pakaianmu dan bersenang-senanglah dengan teman-temanmu yang memandangmu dengan hati, bukan dari mata yang kerap tertipu oleh penampilan belaka. Satu lagi, jangan ukur kebahagiaanmu dengan kebahagiaan orang lain. Jangan samakan dirimu dengan orang lain. Semua makhluk diciptakan berbeda agar kita saling menghargai dan menghormati. Ayo sekarang bersiap nanti keburu telat.”
Ucapan neneknya seperti vitamin yang disuntikkan ke tubuh Senja, sontak saja gadis itu menjadi bersemangat usai mendengar tausiah neneknya. Setelah mengusap air matanya ia mulai bersiap. “Terima kasih Eyang Putri,” ujarnya.
“Eyang tunggu di bawah.”
Setelah setengah jam berdandan Senja sudah siap ke sekolah untuk menjemput cintanya. Merayakan malam bersama pemuda yang kerap mengganggu tidurnya: Langit. Di benaknya, bayangan kata-kata neneknya kembali terngiang, memberinya sedikit kekuatan untuk melangkah keluar rumah.
Senja tersenyum semringah membayangkan malam yang indah akan dilaluinya bersama Langit, ia tidak peduli meski hari-hari yang dilalui teramat sengit. Namun, senyum itu sedikit goyah saat ia melihat dirinya di cermin sekali lagi, menyadari bahwa ia akan memasuki keramaian dengan tubuh yang selalu menjadi bahan ejekan.
Untunglah neneknya menyuntikkan pujian pada Senja saat menyaksikan cucunya keluar dari kandangnya mengenakan gaun hitam: cantik sekali cucu Eyang.
Di ruang tamu si kembar Purnama dan Kejora menyeletuk yang membuat telinga Senja sakit: jelek sekali adikku ini.
“Tidak usah didengarkan,” kata neneknya berdiri menjadi tameng untuk cucu kesayangannya.
“Sampai kapan Eyang terus membohongi Senja?” seru Kejora setengah berteriak.
“Eyang telah mengajarkan kepada kami tentang ketidakjujuran. Apa mata Eyang sudah rabun? Bagaimana mungkin gajah dibilang semut, lautan dikatakan sungai, dan gunung dibilang bukit!” Kali ini giliran Purnama menyambut ucapan Kejora.
Senja diam, bulir-bulir air di matanya nyaris tumpah.
“Diam kalian berdua,” bentak neneknya, “Senja bukan Cinderella yang bisa kalian perlakukan seenaknya di rumah ini.
“Asal Eyang tahu Cinderella pun tidak sudi disamakan dengan Senja,” balas Purnama kesal dengan sikap neneknya yang kerap membela Senja di segala medan dan cuaca. “Setidaknya Cinderella langsing dan cantik hingga pangeran pun bersujud di bawah gaunnya. Sedangkan Senja, pangeran mana yang sudi menjadi kekasihnya, pangeran kodok?”
“Sebagai seorang kakak pantaskah kata-kata seperti itu keluar dari mulutmu? Apa kalian pikir selama ini Eyang tidak tahu apa yang kalian berdua lakukan terhadap Senja?”
“Bagus kalau Eyang sudah tahu. Dengan begitu aku dan Kejora tidak perlu memberitahu kepada Eyang atas sikap kami kepada cucu gembrot kesayangan Eyang itu.”
Nenek tua itu naik pitam hingga nyaris menabok mulut Kejora dan Purnama yang kotor seperti comberan lantaran yang keluar kata-kata sampah.
“Sudah cukup,” teriak Senja kemudian berlari keluar rumah meninggalkan kedua kakaknya dan neneknya. Ia terus berlari membawa tangisnya yang berceceran setidaknya sampai teriakan neneknya yang memanggil namanya tidak lagi terdengar.
Di tikungan perempatan jalan Senja menghentikan langkah kakinya. Di bawah lampu jalan di dekat tiang listrik, gadis gembrot itu sesenggukan. Dihapus keringat yang bercampur air mata di wajahnya. Ingusnya juga tidak luput dari sapuan tangannya. Sedikit pun Senja tidak menyadari gincu di bibirnya sudah pindah ke pipi, celak di alisnya yang tebal terusir ke hidung, bedaknya yang tebal sudah separuh hilang dari wajahnya. Siapa saja yang melihat Senja malam ini akan dibuat cekikikan.
Senja mencoba menenangkan diri meski ulu hatinya terasa begitu sakit tak terperikan mendengar ucapan kedua kakak perempuannya yang tanpa tedeng aling-aling. Begitu sadis seperti penjahat perang. Kata-kata yang terlontar keluar dari mulut kedua kakaknya bukan lagi berasa seperti beling yang mengiris kulitnya, tetapi belati yang ditancapkan ke dadanya dengan sekeras-kerasnya.
Di bawah langit tak berbintang Senja menyandarkan tubuhnya ke tiang listrik. Dilihatnya jam yang melingkar di tangannya, yang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat. Kini niatnya datang ke pesta kembang api di sekolahnya timbul dan tenggelam. Ia mulai ragu, nyali untuk mengutarakan cinta kepada Langit mendadak redup.
Angin malam berembus kencang menyapu jalanan. Segala debu, kerikil, dan sampah menerjang Senja yang tepat duduk di pinggir jalan. Malam makin tua, tinggi dan sunyi. Seberkas cahaya menyorot ke arah Senja. Klakson mobil berbunyi tiga kali. Seorang gadis keluar dari mobilnya. Terlihat kakinya begitu mulus dan bening. Sepatu hak tinggi yang dikenakannya berjalan berirama ke arah Senja. Dengan perlahan Senja memperhatikannya ujung kakinya kemudian memandangi pahanya yang putih, mata Senja nyaris keluar melihat tubuhnya yang langsing, ia seperti gadis idiot saat melotot melihat buah dadanya yang besar dan sudah pasti kenyal. “Oh, cantik sekali,” kata Senja dalam hatinya melihat Gemintang teman satu sekolahnya tepat berdiri di hadapannya. “Pantaslah jika ia dipuja-puji oleh para lelaki di sekolah.”
“Sedang apa di tempat seperti ini?” tanya Gemintang ramah.
Senja menggeleng dengan wajah menyedihkan. “Apa kamu butuh tumpangan Senja?”
Senja meringis.
“Ayo naik sebentar lagi pesta kembang api segera dimulai,” ajak Gemintang.
Di dalam mobil Senja kehabisan kata. Ia diam kecuali pikirannya yang berkicau memuji kecantikan Gemintang. Senja sudah teramat sering mendengar cerita rekan lelakinya di sekolah yang kerap berpikiran mesum saat membicarakan Gemintang yang kecantikannya tidak lagi diragukan. Ia bagai putri dari kayangan dalam cerita dongeng. Tak heran jika kecantikannya menjadi pengantar tidur bagi kawula muda—para perjaka di kelasnya—sekolahnya.
Kurang dari setengah jam mereka sudah sampai di gerbang sekolah. Sebelum turun keluar dari mobil, Senja mengucapkan terima kasih kepada Gemintang yang memberi tumpangan. Baru saja kakinya melangkah menginjakkan tanah. Anak-anak yang sudah memenuhi halaman sekolah dibuat riuh melihat Senja. Sorakan berhamburan dari mulut mereka. Gulungan kertas beterbangan ke arahnya.
“Minggir Gajah,” teriak salah seorang lelaki yang sudah siap dengan kameranya.
“Awas Kuda Nil,” teriak lelaki di sampingnya.
Senja segera minggir mundur ke belakang. Dan betapa kagetnya saat ia melihat Langit membawa seikat bunga berjalan ke arahnya. Jantung Senja berdebar kencang seperti akan meletus keluar. Wajah Senja mendadak menjadi merah merona. Pemuda yang selama ini hanya bisa disentuhnya dalam angan, sebentar lagi akan menjadi miliknya. Langit pasti akan memberikan bunga cantik itu untukku kemudian tangannya akan membimbing tanganku naik ke atas panggung, pikir Senja tersipu malu bagai seorang bocah yang bertingkah aneh.
Senja tak kuasa menahan diri, ia segera menyambut Langit yang tampak begitu gagah mengenakan setelan jas hitam. Namun, seketika Senja menghentikan langkahnya saat Langit berbelok arah kemudian berlutut di hadapan Gemintang.
“Salam mesra teriring penuh cinta,” kata Langit menyerahkan seikat bunga kepada Gemintang. Lampu kilat menyala di sana-sini mengabadikan kecantikan Gemintang yang begitu cemerlang. Gadis cantik itu berjalan beriringan dengan Langit menuju ke atas panggung. Rekan-rekannya bersorak-sorai seperti menyambut raja dan ratu yang baru naik takhta.
Di belakang mobil Senja terdiam. Kakinya begitu kaku seperti dipaku ke dasar bumi. Batok kepalanya dipenuhi tanda tanya. Apa yang sebenarnya terjadi. Sesekali ia mengeruk lemak di perutnya dengan jemari tangannya hanya untuk memastikan apakah ini mimpi atau nyata.
Senja baru melangkah saat mobil di sampingnya mengasapi tubuhnya. Alhasil wajah Senja coreng-moreng dibedaki asap knalpot.
Di atas panggung Langit berdiri di samping Gemintang. Setelah petugas MC memberikan mikrofon, pemuda tampan yang digilai banyak perempuan itu berujar yang membuat dada Senja berdenyar:
“Malam ini akan menjadi malam yang tidak terlupakan. Tidak mudah bagi saya mendapatkan cinta seorang gadis yang sudah lama saya cintai. Dan, malam ini kalian semua akan menjadi saksi perjuanganku mendapatkan cinta dari gadis yang kecantikannya tidak ada duanya. Rekan-rekan semuanya mari kita panggil Senja.”
Semua orang terbelalak mendengar pidato singkat Langit. Bagi sebagian anak-anak perempuan yang mendengarkan pidato Langit dengan seksama terasa pahit untuk dimamah. Dikunyah mentah-mentah.
“Bagaimana mungkin Langit jatuh cinta dengan Kuda Nil,” kata seorang gadis sebelum jatuh pingsan.
“Ini tidak bisa dipercaya, aku yakin Langit telah diguna-guna oleh Senja, tidak oleh Gajah, maaf aku salah menyebut nama,” teriak salah seorang perempuan kelas dua sebelum asam lambungnya kumat.
“Ini seperti cerita dalam dongeng,” kata guru bahasa Indonesia sebelum berteriak histeris. Kemudian bagai orang linglung berjalan mondar-mandir di ruang kelas seorang diri.
Senja nyaris gila mendengar pengakuan Langit. Ia mematung matanya melotot, jantungnya berdetak lebih kencang. Apa ini mimpi? Pikirnya.
Melihat Senja seorang diri, gerombolan geng si bengis Gerhana menghampirinya dan menyiramkan seember air bekas cucian piring yang ia ambil dari penjual mie ayam yang sedari sore sudah nongkrong di depan sekolah.
“Buruan naik panggung. Aku sudah gatal mau main gitar,” bentaknya. Seketika kesadaran Senja pulih. Ia segera berlari naik ke atas panggung dengan tubuh basah kuyup. Saking bahagianya ia tidak menyadari sisa mie berleleran di kepalanya.
Melihat penampilan Senja begitu payah, Langit memejamkan matanya. Ia tidak sanggup melihat makhluk menyeramkan di depan matanya. Ia ingin muntah tetapi menahannya. Berbeda dengan Gemintang yang nyaris pingsan melihat Senja seperti melihat dedemit. Ia heran hanya dalam hitungan menit penampilannya sudah berubah seratus kali lebih menakutkan ketimbang saat bertemu di pinggir jalan barusan.
“Selamat malam semuanya,” Senja membuka pidatonya.
Tidak ada yang menyahut. Hening. Entah, apakah semua orang menginginkan Senja segera mengakhiri pidatonya? Atau sebaliknya penasaran kenapa ia bisa membuat pemuda paling tampan jatuh cinta kepada dirinya?