Di kamar mandi, Senja merendam tubuhnya, mencoba menghapus remah-remah debu dan air liur Kamerad Fajar yang semalam memberinya ciuman pertamanya. Namun, pikirannya justru melayang pada Langit, penyebab kepedihan yang membuatnya tenggelam tak berdaya.
Sehabis mandi, Senja melemparkan tubuhnya ke tempat tidur dan gempa kecil pun terjadi di ranjang. Buku Sejarah Estetika yang tebalnya bukan main sampai terangkat dari kasur. Senja memandangi buku filsafat itu dengan perasaan menyesal, ia lupa kapan terakhir membelai buku filsafat hadiah dari Kamerad Fajar setahun lalu. Senja hanya mengingat baru menyelesaikan kurang dari 20 halaman. Setelahnya buku filsafat itu menggeletak begitu saja, seolah pasrah pada takdirnya yang malang: menjadi barang pajangan.
Nasib buku tebal itu sama persis dengan buku-buku lainnya yang dibiarkan tercecer. Selain di kasur, ada juga beberapa buku yang menggeletak di lantai, sofa, meja belajar, hingga di samping meja rias. Malahan ada buku yang tertinggal di luar jendela. Melihat buku-buku yang berserakan, maka dapat disimpulkan jika gadis bertubuh besar itu membaca buku secara sembarangan, tidak peduli ruang dan waktu. Kemungkinan lainnya ia tidak setia pada satu buku. Belum selesai satu buku dibacanya, ia sudah beralih ke buku lainnya. Pagi ini ia membaca sajak Rendra, sorenya Nukila, dan malamnya Budi Darma. Begitulah siklus Senja dalam mengakrabi buku.
Alih-alih memungut buku yang berantakan di atas kasur, Senja memilih memeluk bantal guling kesayangan. Ia tidak sedang berselera menyentuh buku, pikirannya sedang gentayangan memikirkan ciuman pertama yang baru saja dirasakannya. Betapa mahal harga sebuah ciuman dan pelukan, sampai ia harus menukarnya dengan kepedihan tak terperikan. Sebuah sakit yang tak ada tetas darahnya, dan itulah sakit yang tak terkira, yang kadang hingga butuh waktu bertahun-tahun lamanya untuk menyembuhkannya. Andai malam itu Senja tak datang menemui Langit, mungkin ia tidak akan merasakan hangatnya sebuah pelukan, dan juga tidak akan merasakan sakitnya dipermainkan, dibohongi, bahkan ditikam dengan cara yang paling kejam.
Jarum jam dinding terus melangkah dari menit ke menit yang lain dan Senja belum berhenti menyengir. Seperti kesambet ia berbincang dengan dirinya sendiri sambil mengingat ciuman pertama yang penuh rahasia. Wajah Kamerad Fajar, guru keseniannya, mendadak terbayang di sudut-sudut ruangan. Meski belum sepenuhnya bisa melupakan Langit, tetapi kehadiran Kamerad Fajar setidaknya cukup untuk menyelamatkan dirinya dari putus asa yang bisa saja membuat nyawanya melayang. Barangkali sudah kehendak Tuhan, Kamerad Fajar datang di saat waktu yang tepat.
Senja yakin jika guru keseniannya itu mencintai dirinya. Ciuman ganas yang ia lakukan ialah kenyataan yang sulit ditolak kebenarannya. Sebuah pengalaman eksistensial, yang belum pernah ia rasakan dengan siapa pun. Tidak pula dilakukan bersama Langit. Ah, jangankan mencium atau melumat bibirnya, memegang tangannya pun Langit tak pernah. Ia baru tahu bahwa Langit bukan tidak mau, tetapi jijik. Ya, jijik dengan tubuhnya yang gendut, gempal, tambun, dan subur dipenuhi lemak, hingga banyak lelaki yang muak. Mual dan muntah. Jangankan merabanya, barangkali membayangkannya saja sudah mereka membuat bergidik.
Senja lekas membuang wajah Langit yang melintas di pikirannya. Ia tidak sudi remah-remah kebahagiaannya yang baru merekah diganggu oleh wajah pemuda yang telah mengiris hatinya dengan sadis. Sambil memandangi lampu lampion di kamarnya, pandangan mata Senja perlahan redup kemudian gelap dalam lelap. Tidak sampai lima belas menit ia sudah mengorok, sesekali terengah-engah. Keringat membasahi tubuhnya. Ia mengigau: “Di mana aku? Apakah ada orang di sini?”
Sisa malam yang nyaris padam telah memberikan mimpi untuk Senja. Di dalam mimpinya yang aneh itu, ia tersesat di sebuah tempat tak bernama. Sambil memegangi novel favoritnya, gadis itu berjalan mondar-mandir menyusuri sebuah lembah yang teramat indah. Di hamparan rerumputan hijau yang diapit sungai kecil yang mengalir jernih, Senja berlari-lari kecil bersama kupu-kupu yang beterbangan ke sana ke mari seperti menuntunnya untuk menemukan jalan setapak.
Di atas kepalanya sepasang burung terbang meliuk-liuk. Garis pelangi memanjang bagai jembatan yang menghubungkan hutan dan telaga. Di bawah lembah yang belum pernah dilihat dan namanya tidak pernah didengar, Senja merasa langit dan bumi bertemu dalam kesempurnaan. Birunya langit seperti bertemu dengan deretan birunya gunung yang menjulang tinggi.
Angin berembus mengibarkan rambut Senja yang berantakan. Padang rumput hijau tak berjejak seperti karpet yang digelar untuk menyambut kedatangannya. Di seberang utara di dekat sungai yang mengalir indah, berjejer pepohonan menawarkan buah yang sudah masak. Senja berputar-berputar seperti seorang bocah. Tanpa ragu Senja mendekati pohon rindang yang menarik perhatiannya lalu ia memetik buahnya dan memakannya hingga habis. “Oh, Tuhan, aku sedang tersesat di alam mana?” tanyanya setelah menelan habis buah yang amat manis itu sebelum kembali berlari-lari sambil berputar-putar kemudian meluncur membentangkan kedua tangannya seperti pesawat terbang yang hendak mendarat. Setelah puas bermain-main, Senja merebahkan tubuhnya di atas rerumputan. Ditatapnya birunya langit, sekonyong-konyong wajah Langit dan Kamerad Fajar muncul bersamaan. Senja segera bangkit. “Ya Tuhan, mana yang harus kupilih. Ah, betapa bodohnya aku jika masih mengharap Langit. Bukankah Kamerad Fajar telah menyelamatkanku dari ambang kehancuran?” Senja masih bertanya-tanya. Namun, yang membuat heran kedua lelaki itu muncul bagai hantu; di mana saja dan kapan saja.
Satu jam telah berlalu, Senja mulai bosan. Ia mengayunkan langkahnya mengikuti sepasang kupu-kupu yang sedari tadi seperti mengawasi. Sepasang kupu-kupu itu terbang rendah, seolah hendak menunjukkan sesuatu. “Tunggu,” teriak Senja setengah berlari.
Dari kejauhan terdengar suara rintihan orang minta tolong. Senja celingukan memastikan suara itu bukan dari suara iblis atau pun setan.
“Tolong... Tolong.”
Makin lama Senja memperhatikan suara itu, makin jelas di telinganya, bahwa itu suara manusia bukan jin atau binatang. Segera saja Senja berlari kecil mencari sumber suara. Barulah di sebuah tanah lapang di balik tumpukan berbatuan, Senja melihat seorang lelaki sedang dipukuli oleh dua orang bertubuh kekar.
“Tolong,” teriak orang itu dengan suara parau."
“Teriaklah sekencang-kencangnya,” balas salah seorang bertubuh kekar sambil meninju laki-laki kerempeng yang sudah tak berdaya di bawah kakinya.
“Tidak akan ada yang menolongmu. Bahkan Dewa sekali pun,” kata orang bertubuh kekar satunya lagi kemudian meninju perutnya berulang kali.
Senja masih memperhatikannya. Siapa orang itu? Senja bertanya-tanya. Ada perasaan ragu dalam hatinya. Dilihat dari sisi mana pun orang yang sedang dipukuli dan yang memukuli berbeda dengan penampilan Senja. Tidak hanya bajunya tetapi aksesoris yang dipakainya. Ketiga orang itu memakai jubah layaknya orang Arab di zaman jahiliah.
Akhirnya Senja memberanikan diri setelah perikemanusiaannya terpanggil. Senja lantas berteriak lantang, “Hai begundal lepaskan pemuda itu!”
Dua lelaki berjanggut lebat dan bertubuh kekar itu saling tatap. Keduanya heran melihat seorang gadis bertubuh besar muncul begitu saja di hadapannya.
“Siapa kamu?” tanyanya penasaran, “beraninya kamu mengganggu pekerjaanku.”
“Aku malaikat penolong yang dikirim Tuhan untuk menyelamatkan pemuda kerempeng itu,” balas Senja. Berkat keberaniannya, kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Senja sendiri heran kenapa bisa menjawab sedemikian hebat seperti super hero yang ditontonnya di bioskop.
Kedua lelaki itu tertawa berjamaah mendengar jawaban Senja.
“Aku tidak sedang melawak,” kata Senja tegas dan diucapkan dengan suara yang amat jelas.
“Kalau aku tidak mau melepaskan, kamu mau apa bocah?”
“Aku akan menghajarmu.”
“Biarpun aku preman sewaan, aku tidak sudi melawan perempuan, apalagi seorang bocah sepertimu,” kata orang bertubuh kekar itu kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Aku bukan bocah,” bentak Senja tak sudi dipanggil bocah. “Lima bulan lagi usiaku genap 18 tahun. Empat bulan lagi aku lulus sekolah. Aku sudah pernah ciuman, artinya aku sudah dewasa. Camkan itu baik-baik!”
“Dewasa? Ha-ha-ha.. Lalu kamu pikir aku akan memperkosamu? Asal kamu tahu tubuhmu sepertinya lebih lezat jika dicincang untuk makanan anjing daripada diperkosa.”
Betapa marahnya Senja mendapat kekerasan verbal Dengan satu ayunan, ia melemparkan buku di tangan kanannya dan tepat mengenai batok kepala orang yang sudah berkata kasar padanya.
Bruuug. Sontak saja orang tersebut terhuyung-huyung dan jatuh.
Pemuda kerempeng yang sedari tadi diam segera memanfaatkan keadaan dengan melepaskan diri dari cengkeraman lelaki bertubuh kekar yang sedang melongo melihat temannya ambruk.
“Tolong aku Nona,” kata pemuda kerempeng bersembunyi di kaki Senja yang besar bagai kaki gajah.
“Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa dua orang itu memukulimu?” tanya Senja penasaran.
“Ceritanya panjang, Nona.”
“Ceritakan dengan tempo yang sesingkat-singkatnya.”
Pemuda kerempeng itu mengembuskan napas, dan kalimat pendek keluar dari mulutnya. “Aku baru saja membunuh seorang lelaki yang berselingkuh dengan istriku.”
“Cukup,” kata Senja. “Sekarang kamu mundur. Aku akan menghajar lelaki itu agar tidak mengganggumu lagi.”
Senja maju ke depan dengan gagah. “Ayo maju lawan aku,” teriak Senja.
Orang bertubuh kekar itu segera menyeruduk Senja dengan kepalanya yang besar. Namun, dengan satu sepakan, Senja berhasil menahan kepala plontos itu dengan kakinya yang besar. Dengan sekali sepak orang itu terhuyung-huyung jatuh tak sadarkan diri.
Pemuda kerempeng bermata besar dan berambut ikal itu segera menghampiri Senja kemudian menarik lengannya. “Ayo cepat lari,” ujarnya.
“Kamu mau ajak aku ke mana?” tanya Senja kaget.
“Suatu tempat yang aman,” balas pemuda kerempeng itu.
Setelah setengah jam berlari Senja dan pemuda kerempeng itu berhenti di suatu gubuk. Napas keduanya berhamburan. Senja menyandarkan tubuh di tumpukan batu besar. Setelah napasnya kembali teratur, Senja menginterogasi pemuda kerempeng itu.
“Apa yang sebenarnya terjadi denganmu?”
“Bukankah aku sudah menjawabnya.”
“Lantas aku sekarang berada di mana?”
“Maksudmu?” pemuda itu balik bertanya.
Senja diam sesaat kemudian berujar, “Aku tidak ingat persisnya. Saat membuka mata aku sudah berada di tempat asing ini. Aku pikir ini surga. Dan aku kira diriku sudah mati.”
“Kamu belum mati, kamu berada di alam mimpi. Namaku Awan. Siapa namamu?” pemuda itu memperkenalkan diri. “Senja.” Keduanya berjabatan tangan.
“Baik akan aku jelaskan. Ini adalah negeri mimpi. Sudah banyak orang sepertimu yang tersesat di negeri kami.”
“Negeri mimpi?”
“Ya.”
“Aku baru mendengarnya.”
“Aku sudah beberapa kali menjumpai orang yang tersesat ke negeri mimpi. Tidak usah takut, jika sudah terbangun kamu akan kembali ke duniamu.”
“Duniaku?”
“Ya, dunia nyatamu.”
“Jadi ini hanya mimpi?”
“Ya, mimpi bagimu dan nyata bagiku.”
“Sungguh aku belum mengerti. Kamu menjelaskan dengan kalimat yang membingungkan. Asap berselubung kabut.”
“Ah, pikiranmu saja yang tidak encer. Jadi, apa yang kamu alami saat ini hanya mimpi belaka. Setelah kamu terbangun, kamu akan kembali ke duniamu,” pemuda mencoba menjelaskan sekali lagi dengan sabar meski napasnya tak karuan dan pikirannya belum tenang.
“Seandainya aku tidak terbangun?”
“Ah, tidak mungkin. Tapi kemungkinan terburuknya, kamu akan menjadi penghuni negeri mimpi. Kamu akan tinggal di sini selamanya.”
“Betapa menyenangkannya bisa tinggal di sini.”
Pemuda kerempeng itu bengong mendengar ucapan Senja. “Kenapa ingin tinggal di sini? Bukankah duniamu lebih menyenangkan?”
“Tidak. Duniaku seperti neraka yang dihuni oleh iblis dan setan. Orang gendut sepertiku selalu dipandang sebelah mata. Diperlakukan tidak adil. Disiksa layaknya para pendosa saat menerima hukuman di neraka. Yang lebih menyakitkan dari siksaan itu ialah dijauhi. Seperti seorang yang punya penyakit menular dan semua orang enggan mendekatinya—lari saat melihatnya.”
“Diasingkan maksudmu?”
“Tepatnya disingkirkan. Kalau boleh aku ingin tinggal di sini lebih lama lagi.”
Pemuda yang bernama Awan itu diam. Ia menundukkan matanya.
“Kamu tidak mau aku tinggal di sini?”
“Bukan itu. Jika kamu tinggal di sini bagaimana dengan orang-orang yang kamu cintai?”
Pertanyaan itu membuat Senja tersentak. Ia segera teringat neneknya. Juga Kamerad Fajar yang sudah melumat bibirnya.
Senja segera berdiri. “Andai tidak ada dua orang yang aku rindukan sungguh aku tak ingin kembali ke duniaku,” kata Senja.
“Apakah semua orang membencimu?”
“Tepatnya memperlakukanku dengan buruk.”
“Kita masih punya banyak waktu. Aku siap mendengar ceritamu yang mengerikan itu. Orang-orang di duniamu yang menakutkan itu.”
“Apakah aku harus percaya dengan orang yang baru aku kenal?”
Pemuda itu kemudian mengajak Senja melanjutkan perjalanan yang belum diketahui tujuannya. Seperti terhipnotis Senja menurut saja.
“Tuhan menciptakan manusia untuk saling mengenal,” kata pemuda itu menjawab pertanyaan Senja, kemudian melirik dan melanjutkan ucapnya, “Dan perkenalan dibangun atas dasar kepercayaan. Kenapa kamu menolongku, padahal kita tidak saling mengenal? Aku percaya ini kehendak Tuhan. Ceritakanlah barangkali kita dipertemukan atas dasar persamaan nasib. Barangkali pula beginilah cara Tuhan menjawab doa-doa kita yang kelewat panjang dan membosankan!.”
Mendengar kalimat Awan yang bercahaya, Senja terpana—terpesona. Seketika ia teringat dengan Kamerad Fajar yang bijak dan berapi-api. Tidak hanya susunan kalimatnya, tetapi juga perawakannya. Ia makin percaya jika pemuda kerempeng di hadapannya ini tidak lain dan tidak bukan ialah Kamerad Fajar di masa depan. Dengan kata lain Senja sedang melakukan perjalanan masa depan. Mungkinkah demikian? Sebab, sebelum memeluk guling, sebelum pejam memadamkan pandangan, ia sedang memikirkan Kamerad Fajar. Mengingat ciumannya yang basah.
Senja dan pemuda yang baru dikenalnya terus berbincang sambil berjalan tanpa tujuan pasti. Sesekali keduanya berhenti di suatu tempat untuk mengatur napas sebelum kembali berjalan menyusuri jalan setapak yang mengarah ke masuk dalam lebat hutan. Di setiap tempat yang disinggahi Senja selalu mengajukan tanya, nama dan sejarah tempat itu jika memang mempunyai sejarah untuk diceritakan. Pemuda itu dengan sabar menjelaskan, katanya tidak semua tempat mempunyai nama dan sejarahnya. Namun, yang membuat Senja tertegun mendengar jawaban Awan ialah cara ia menjelaskannya dengan bahasa dan tatanan kalimat yang hanya ada dalam dialog novel.
“Sejarah diciptakan oleh bahasa manusia,” kata Awan dengan tenang, “sekali pun aku belum pernah mendengar mengani asal usul hutan ini. Hutan ini seperti ada dengan sendirinya. Mungkin saja Tuhan menciptakannya dan musim yang merawat dan memusnahkannya. Tetapi, kita bisa saja memberi nama hutan ini dan menciptakan kenangan setelah kita meninggalkannya—sesudah waktu yang kejam menggilasnya.”
“Maksudnya?” Senja makin penasaran dengan pemuda yang aneh di hadapannya. Meski begitu ia sudah tidak merasa asing. Sebaliknya ia nyaman bahkan seperti sudah lama saling mengenal.
Pemuda itu mendekati Senja dan menggenggam tangannya. “Lelaki adalah jenis manusia yang gemar merencanakan hal romantis, bahkan secara tiba-tiba.”
Senja tersenyum masih menunggu pemuda itu menjelaskan ucapannya.