Senja telah berubah. Semua orang yang mengenalnya menyangkanya demikian. Gadis manis itu tidak lagi menghindari keramaian, tidak lagi takut berbaur di tengah kerumunan dan keramaian. Pagi langit terlihat begitu cerah saat Senja duduk manis di halte menunggu metromini yang akan mengangkutnya ke sekolah. Meski kotor dan tak nyaman, Senja lebih senang naik angkutan umum ketimbang bus jemputan sekolah. Katanya, jemputan sekolah membosankan bertemu dengan orang sama dan melewati jalan yang sama. Sangat berbeda dengan angkutan umum yang lebih menantang; terjebak kemacetan, berebut kursi dengan penumpang, mendengar lagu kehidupan dari pengamen jalanan, dan yang tak kalah asyik yakni aromanya—yang menguji kesabaran. Setelah menunggu sepuluh menit metromini berwarna merah trayek Blok M – Cileduk akhirnya datang.
Senja segera naik dan memilih duduk di kursi paling depan—tepat di belakang sopir. Pilihan yang belum pernah dilakukan Senja selama ini. padahal dulu ia selalu mengincar kursi kosong di belakang—menghindari tatapan para penumpang.
Abang sopir yang sudah hafal wajah Senja ternyata belum menurunkan ongkosnya: tiga kali lipat dari harga normal yang sudah ditetapkan pemerintah daerah. Alasannya masih sama, pantat Senja tiga kali lebih besar dari pantat gadis seusianya, yang berarti butuh tiga kursi untuk dapat didudukinya. Itu sebabnya Abang Sopir tidak mau rugi dan Senja sama sekali tidak peduli. Ia tetap bayar berapa pun tarif atau ongkos yang dimintanya.
Pagi itu metromini yang sudah rombeng dan tidak layak beroperasi di jalan raya membawa Senja dan penumpang lainnya ke rute yang sudah ditentukan: halte sepanjang Jalan Raya Cileduk, Pasar Cipulir, dan terakhir Sekolah SMA Galaksi.
Senja duduk di kursi depan dengan tenang sambil menikmati kemacetan yang bagi sebagian pengguna jalan sangat menyebalkan. Penumpang yang turun-naik sesekali memandangi Senja dengan tatapan sinis, curiga, dan judes. Senja tidak peduli. “Aku juga bayar, bahkan tiga kali lipat kenapa mesti takut,” gumam Senja sambil lalu.
Sudah setengah bulan ini Senja begitu bahagia. Pertemuannya dengan Awan di dalam mimpi telah mengubah segalanya. Terlebih kata cinta yang keluar dari mulut Awan, sampai detik ini masih terngiang-ngiang di kepala Senja. Bagai bunyi gong yang menggema; menggetarkan dan mengagetkan. Senja tak menyangka sepata kata ‘aku mencintaimu’ yang dikecupkan Awan seperti sihir yang dapat mengubah segalanya. Kalimat pendek yang memberikan dampak panjang bagi Senja.
Sambil mendengarkan lagu Skid Row I Remember You yang terus diputar berulang-ulang, Senja ikut bersenandung kecil sambil menggerakkan jempolnya. Ia tidak peduli dengan penumpang lain yang sedari tadi memperhatikannya.
Setelah merapikan rambutnya, memupuri wajahnya dengan bedak, dan menyemprotkan parfum ke ketiaknya yang basah, Senja segera turun kemudian berujar pada abang sopir yang memandangnya dengan tidak ramah. “Kenapa melihatku seperti itu, ya aku tahu wajahku memang cantik,” ujarnya dengan lantang.
Sopir itu menggeleng-gelengkan kepala meski perutnya mual ingin muntah mendengar ucapan gadis gembrot yang sering dilihatnya saban pagi itu.
“Ambil saja kembaliannya,” kata Senja lagi kemudian melenggang pergi sambil bersenandung menuju gerbang sekolah.
Dari kejauhan satpam sekolah lari terbirit-birit bersiap membukakan gerbang pintu untuk Senja. Dengan badan tegap dan sigap ia memberi hormat. “Silakan.”
“Terima kasih,” balas Senja kemudian kembali bersenandung lagu cinta.
“Sudah dua pekan ini kamu tidak telat. Ini tidak normal,” kata satpam penjaga sekolah. Senja yang mendengar omongan pak tua itu langsung menjawab dengan mantap. “Aku bosan menjadi orang Indonesia. Asal Pak Tua tahu, tugas terberat umat manusia ialah mempertahankan tradisi dan kebiasaan lapuk. Terlambat dalam berbagai hal ialah kebiasaan kita orang Indonesia yang sudah mendarah daging. Dan, aku sudah bosan.”
“Tapi...” kata satpam masih penasaran. “Apa yang membuatmu berubah? Sungguh ini bukan Senja yang aku kenal.”
“Sejak bertemu kekasihku yang turun dari rembulan. Sudahlah Pak Tua tidak akan mengerti.” Senja melenggang pergi dan tak peduli apa yang dikatakan satpam tua itu yang terdengar di telinganya: bukankah selama ini tidak ada orang yang mengerti apa yang kamu bicarakan.
Baru saja Senja membuka pintu kelas, dua buah ember berisi air comberan menyambutnya dari atas pintu: byurrrr.
Dengan sigap Senja membuka payung yang sudah disiapkannya untuk melindungi tubuhnya dari air comberan yang baunya minta ampun.
“Pagi semuanya,” sapa Senja kepada teman-temannya yang melihatnya dengan wajah idiot. Mereka masih melongo tidak percaya apa yang baru saja dilihatnya. Sudah ketiga kalinya gadis yang kerap diolok-olok gembrot ternyata berhasil menghindari jebakan yang tidak mudah dihindari—apalagi ditaklukkan. Dua hari yang lalu Senja juga berhasil menghindari kejahatan teman-teman sekelasnya. Tidak tanggung-tanggung dua buah sarang tawon berhasil dipukulnya dengan satu gerakan memutar. Alhasil, dua rumah sarang tawon balik menyerang mereka hingga lari kocar-kacir. Senja tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah si bengis dan kawan-kawannya dibuat bengap oleh serbuan tawon yang mengamuk.
“Terima kasih Eka Kurniawan,” kata Senja melirik novel Cantik Itu Luka yang sukses melumpuhkan dua buah sarang tawon dengan satu pukul ngawur ala Jackie Chan.
Si bengis Gerhana menghampiri Senja yang sedang sibuk menyiapkan buku pelajaran. Ia penasaran kenapa gadis yang sering dijahatinya itu mendadak berubah sedemikian drastis. Banyak yang mengira ia telah mempelajari jurus kanuragan sepulang dari pesta kembang api. Tujuannya satu menghajar Langit yang telah mempermalukannya di hadapan banyak orang. Hipotesis tidak ilmiah itu dibantah oleh si bengis, ia tidak percaya gadis gembrot dapat mempelajari jurus silat dalam waktu cepat. Singkat.
“Hey Gajah gembrot apa yang sebenarnya kamu pelajari. Jurus apa yang barusan aku lihat? Apa benar kamu mempelajari jurus kanuragan untuk balas dendam?” tanya si bengis Gerhana dengan mata mendelik. Meski tidak percaya ia ingin memastikan dengan mendengar jawaban langsung dari mulut Senja.
Dengan enteng Senja menjawab, “Untuk apa belajar seperti itu. Aku bukan hidup di zaman Mataram.”
“Semua orang membicarakan perubahanmu. Sungguh ini tidak normal. Selamanya yang lemah harus di bawah,” kata Gerhana sambil menempelkan telapak tangannya yang besar ke kening Senja. “Katakan apa yang membuatmu berubah?”
“Apa kamu pikir aku takut? Jangan coba-coba mengintimidasiku,” balas Senja kemudian memelintir lengan tangan Gerhana sampai siswa itu dibuat meringis kesakitan.
“Ampun Gajah. Ampun Kuda Nil,” teriaknya, “lepaskan tanganku gembrot...”
Senja tidak melepaskannya masih memelintir lengan begundal itu bahkan lebih keras lagi.
“Ampun Kuda Nil...”
Semua orang yang berada di dalam kelas melihatnya dengan panik.
“Ampun Kuda Nil. Lepaskan tanganku,” kata Gerhana memohon untuk ke sekian kalinya.
“Panggil namaku dengan benar. Senja. S-e-n-j-a.”
“Lepaskan tanganku t-i-n-j-a...”
Senja terus memelintir tangan musuhnya sampai ia menjerit tak karuan. “Ampun Senja... Senja... S-e-n-j-a.”
Senja melepaskan tangan begundal itu dan semua mata masih tertuju padanya dengan tatapan penuh ketakutan.
“Senja telah berubah menjadi monster,” kata seorang gadis sambil memeluk tasnya dengan perasaan ngeri.
“Benar seperti ada kuda nil pada tubuh Senja,” kata yang lainnya menyahut.
“Diam kalian semua,” teriak Gerhana usai merasa dipermalukan. “Dasar bodoh kamu Kuda Nil. Sekarang terima tendangan mautku.”
Wussss. Si bengis melayangkan kakinya, Senja dengan tenang menangkapnya lalu membantingnya.
Brurrggg.
Aaaahhh... Si bengis berteriak menahan sakit. Ia tersungkur di lantai. Belum sempat berdiri, Senja sudah memitingnya. Hanya dalam hitungan detik wajah si bengis dibuat pucat. Mereka yang melihat adegan mengerikan itu mengira Gerhana sebentar lagi akan menjadi mayat.
“Aaa... Mpun, Senjaaa...”
Senja tidak peduli. Ia tidak lagi iba. Semua orang berhamburan, ada menjerit ketakutan, ada pula yang melolong minta tolong.