“Awan, di mana kamu? Apa yang terjadi denganmu? Apakah kamu sudah melupakanku atau kamu hanya mempermainkanku? Jika benar demikian, sungguh kamu tak ada bedanya dengan lelaki di bumi yang semuanya brengsek. Mereka seperti maling yang gemar mencuri seonggok gumpalan daging mentah di bawah pusar perempuan. Lihatlah betapa rakusnya mereka saat mengisap selangkangan perempuan seperti mengisap kerang rebus,” teriak Senja di antara bukit dan gundukan batu besar yang menjulang. “Aku mohon jangan tinggalkan diriku, sebab tanpamu aku bagai si buta yang kehilangan tongkat. Seumpama pengemis yang merindukan sepotong roti dan segelas kopi. Laksana seorang bocah yang merindukan puting susu ibunya. ”
Senja terus berteriak sampai serak memanggil kekasihnya yang tak kunjung menampakkan keningnya yang licin. Teriakan Senja makin lama makin sendu. Siapa saja yang mendengarnya akan merasa teriris. Betapa tragis sekaligus miris seorang gadis menangisi seorang lelaki yang telah mencampakkannya begitu saja. Seperti tebu habis manis sepah dibuang. Senja terus memanggil nama kekasihnya di atas bukit bagai lolongan serigala memanggil kawanannya di bawah bulan purnama.
“Awaaaaan...”
Lelah berteriak, Senja menyandarkan kepalanya di bongkahan batu, tempat pertama kali ia membiarkan bibirnya dilahap masuk ke dalam mulut lelaki yang kini dirindukannya—yang menghilang begitu saja bagai jin penunggu pohon palem di dekat rumahnya yang iseng mengganggu pedagang sate keliling sampai dibuat pingsan hingga kapok tidak berani melewati tempat angker itu lagi.
Di saat Senja sedang sedih gundah gulana, seperti ada bola api raksasa yang terbit dari matanya. Seketika Senja merasakan perih seperti ada debu yang menyangkut di matanya. Perlahan-lahan ia membuka matanya dan cahaya matahari tumpah di wajahnya. Senja begitu kaget mendapati dirinya sedang di atas ranjang tidurnya. Setelah sekian detik ia baru menyadari ada seorang perempuan tua sedang berdiri di depan jendela kaca yang sudah terbuka.
“Eyang,” kata Senja kemudian duduk dan menyandarkan kepalanya ke tumpukan tiga bantal yang sudah disusun.
“Mimpi buruk lagi?” tanya neneknya.
Senja diam.
“Akhir-akhir ini kamu kerap mengigau memanggil nama Awan. Jujur Eyang khawatir denganmu Senja. Bukan hanya Eyang yang dibuat khawatir, tetapi kedua kakakmu juga mengkhawatirkanmu. Apa yang sebenarnya terjadi denganmu? Awan siapa dia? Baru kali ini Eyang mendengar nama Awan.”
“Purnama dan Kejora mengkhawatirkanku? Ah, itu tidak mungkin. Itu mustahil,” balas Senja.
“Sejak kapan Eyang berbohong? Bagaimana pun mereka berdua kakakmu. Mereka secara bergantian menceritakan keganjilan tentangmu pada Eyang.”
“Apa yang mereka ceritakan?”
“Katanya, kamu kerap bertingkah aneh. Kadang tersenyum sendiri seperti orang yang baru pacaran. Kadang larut dalam kesedihan layaknya seorang yang baru putus cinta. Yang membuat kedua kakakmu bertambah heran, kamu bertingkah tidak seperti biasanya.”
“Ah, itu perasaan mereka saja.”
“Apa benar kamu pergi ke dukun?”
“Dukun?”
“Ya, kata kedua kakakmu kamu pergi ke dukun.”
“Untuk apa aku pergi ke dukun?”
“Kata Kejora ada harimau betina dalam dirimu yang kerap mengaum seperti hendak menerkam mangsanya.”
“Hmmm. Purnama dan Kejora yang aneh.”
“Lho, kok malah menuduh kedua kakakmu aneh.”
“Ya, jelas dong. Kemarin dia bilang padaku ada serigala, giliran sama Eyang mereka bilang ada harimau dalam diriku. Ah, sudahlah jangan hiraukan mereka. Eyang sudah tahu bagaimana Kejora dan Purnama memperlakukanku selama ini ‘kan?”
“Tetapi karena sifat dan tingkahmu yang aneh, membuat kedua kakakmu juga berbuat aneh.”
“Aneh apalagi?”
“Mereka memakai kalung yang dihiasi bawang. Sebelum tidur mereka menyalakan kemenyan di depan kamar. Katanya, penolak bala, suatu waktu harimau dalam tubuhmu akan bangkit dan mencari mangsa.”
Senja ingin ketawa mendengar cerita neneknya. “Pantas saja sudah beberapa hari ini mereka berdua kerap merapal mantra jika berpapasan denganku. Ataukah karena alasan ini mereka tidak lagi menyuruhku sesuka hati? Tapi baguslah.”
“Ada apa sayang ceritakanlah,” pinta neneknya menahan Senja yang hendak ke kamar mandi.
“Tidak ada apa-apa Eyang. Aku baik-baik saja, lihat tubuhku masih sediakala, juga berat badanku tidak berkurang sedikit pun,” balas Senja kemudian meluncur ke kamar mandi. “Sudah Eyang jangan berpikir yang aneh-aneh. Sebaiknya Eyang menyiapkan telur rebus dan jus untuk sarapan pagiku. Aku mau berangkat sekolah. Satu lagi, harimau tidak makan telur dan jus.”
Sambil merendam tubuhnya dengan air hangat Senja menangis tersedu-sedu di kamar mandi. Bukan karena pertanyaan neneknya yang dianggap ganjil—juga bukan karena kedua kakaknya yang sekarang bertingkah aneh. Tidak lain ialah karena Awan. Ia masih tidak percaya Awan sampai tega hati meninggalkannya. Padahal, baru sebulan yang lalu ia merasakan manisnya cinta, lezatnya sebuah ciuman yang menggetarkan hatinya. Tidak disangka kini ia harus menerima kenyataan pahit. Setelah Langit, Kamerad Fajar, kini giliran Awan yang pergi meninggalkannya tanpa pamit. Mempermainkannya. Tanpa alasan yang jelas dan masuk akal. Memang seperti itukah watak dan tabiat lelaki?
Benarlah apa yang dikatakan perempuan yang sedang sakit hati, pada akhirnya semua lelaki sama. Mendekati jika ada maunya, kemudian pergi setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, ujar Senja dalam hatinya.
Di luar tepatnya di depan pintu kamar mandi, neneknya hanya mengelus dada mendengar Senja menangis sambil berbincang sendiri. Neneknya hanya ingin memastikan apakah cucu kesayangannya masih waras—sepertinya ada yang tidak beres. Sesuatu telah terjadi pada cucunya itu. Ada yang disembunyikan. Sambil mengeluyur ke luar kamar, perempuan tua itu berujar pelan: “Cucuku sudah gila.”
Sejak saat itulah ia memutuskan untuk libur berdagang. Ia ingin memastikan apakah cucunya, Senja, benar-benar gila atau kedua kakaknya yang justru gila. Sejak sebulan lalu, ketiga cucu perempuannya mendadak menjadi aneh. Kejora dan Purnama yang keras dan galak seperti macan lapar, mendadak menjadi penakut dan paranoid. Malahan sering berhalusinasi.
Selain itu ada kerisauan yang membuat perempuan tua itu mendadak cemas dan lemas, yakni saat ia mendapati kondom yang bercecer di dekat tong sampah di samping rumahnya. Saat menanyakan benda tabu itu pada Purnama dan Kejora, keduanya kompak mengatakan jika kondom bekas pakai itu mereka temukan di kamar Senja. Neneknya tidak percaya begitu saja mendengar ucapan kedua cucunya itu.
“Siapa yang mau bercinta dengan Senja?” tanyanya waktu itu kepadai Purnama dan Kejora.
“Jin,” balas Kejora dengan gugup.
“Genderuwo,” kata Purnama menambahi. “Mungkin Eyang tidak akan percaya apa yang kami berdua lihat di kamar Senja.”
“Kalian ngomong apa. Jangan aneh-aneh. Akui saja jika kondom itu punya kalian berdua."
"Sumpah, Eyang!" Kejora mencoba meyakinkan neneknya. "Sekali ini saja percayalah pada kami."
"Emang apa yang kalian berdua lihat? Harimau atau serigala?”
“Bukan keduanya, Eyang.”
“Lalu?”
“Kami mendengar sendiri Senja mendesah seperti sedang orgasme. Tapi tidak ada lelaki di ranjang saat aku mengintip dari balik lubang kunci pintu kamarnya. Senja menggeliat seperti sedang dijamah.”
“Diremas payudaranya,” Purnama meyakinkan neneknya.
“Dari mana kamu tahu itu ekspresi semacam itu?”
“Kami berdua kan punya pacar, Eyang.”
“Tidak mungkin Genderuwo memakai kondom, benarkan Purnama?”
“Ya. Eyang harus percaya apa yang kami berdua katakan.”
Mendengar cerita kedua cucunya, neneknya terdiam. Tenggorokannya tersekat. Setelah menandas habis dua gelas teh, barulah neneknya dapat bernapas lega. Ia sadar jika ketiga cucunya sudah dewasa. Mereka berhak atas tubuhnya dan keinginan reaksi biologisnya. Tetapi Senja tidak mungkin melakukannya dengan jin. Jika pun nanti terus menjomlo, neneknya sudah mempunyai rencana akan menjodohkannya dengan seorang duda berusia 50 tahun kenalannya di Pasar Tanah Abang.
Berbekal informasi dari kedua cucunya itulah nenek tua itu berencana mengintip Senja. Ia ingin membuktikan apakah yang diucapkan Purnama dan Kejora benar adanya atau cerita fiksi belaka alias bohong yang sudah direncanakan.
Tepat pukul sepuluh malam perempuan berusia 65 tahun itu mengendap-endap mendekati kamar Senja. Semenjak pulang sekolah sore tadi, Senja tak menampakkan dirinya. Ia betah di kamar, entah apa yang dilakukan. Padahal, jika sudah waktunya jam makan malam, dialah orang pertama yang duduk menghadapi makanan yang sudah disiapkan di meja makan: jengkol, tempe gorengan, ketimun, ayam opor, ikan bawal, dan menu lainnya semua masuk ke mulutnya. Sebelum kedua kakaknya datang Senja sudah menghabiskan dua piring, ia tak mau makan bersama dengan kedua kakaknya yang kerap membulinya.
Tepat di depan engsel pintu kamar Senja, perempuan tua yang matanya sudah rabun itu memaksakan bola matanya mengintip dari lubang pintu yang sedikit terbuka. Tidak ada apa pun selain makhluk bertubuh besar yang sedang mendengkur.
Melihat Senja tidur dengan pulasnya neneknya lega. Artinya apa yang dikatakan kedua kakaknya tidak benar adanya. Lalu kondom yang ia temukan milik siapa? Pertanyaan itu jelas mengganggunya. Meski ketiga cucunya sudah berhak untuk bercinta, tetapi akan lebih baik jika dilakukan setelah menikah, setelah selesai kuliah.
Keesokan harinya Senja menjalani pagi seperti biasa. Sarapan dan berangkat sekolah. Sebelum meninggalkan rumah, neneknya bertanya, “Kenapa akhir-akhir ini kamu terlihat murung dan menyendiri?”
“Tidak apa-apa Eyang. Malas saja kalau masih pagi langit sudah mendung,” balas Senja melihat langit yang kebetulan memang sedang mendung. “Aku berangkat sekolah dulu Eyang.”
Senja berjalan dengan lesu seperti memanggul beban berat di pundaknya. Dari jauh neneknya memperhatikannya. Tak lama setelahnya si kembar Kejora dan Purnama muncul dan menyalami neneknya kemudian melongos pergi.
“Kalian berdua,” kata neneknya, “setelah lulus kuliah segera menikah.”
Betapa kagetnya Kejora dan Purnama mendengar ucapan neneknya.
“Menikah,” balas keduanya kompak.
“Ya. Eyang tidak mau ada cucu nenek yang hamil sebelum menikah.”
“Jika itu terjadi?”
“Akan aku penggal kepala kalian. Ini peringatan bukan ancaman.”
Mendengar ucapan neneknya, wajah si kembar Kejora dan Purnama tampak panik. Keduanya segera pergi sebelum mendapat pertanyaan aneh-aneh dari neneknya. Di depan gerbang rumah, dua mobil sudah menunggumu mereka. Ya, keduanya sudah ditunggu pacarnya masing-masing.
“Pagi kembar, ada apa kok cemberut begitu,” tanya pacar Kejora.
“Setelah lulus kuliah Eyang menyuruhku menikah,” balas Kejora tanpa basa-basi.
“Ah, aku hanya ingin kawin tidak mau menikah,” balas lelaki itu bingung mendengar ucapan Kejora yang mendadak minta dinikahi.
“Sebelum Eyang memotong kepalaku, aku akan memotong burungmu jika tidak mau menikahiku.”
Pemuda itu seketika ciut memegangi burungnya dengan wajah panik.
Sementara di halte kurang lebih setengah kilometer jarak dari rumahnya, Senja sedang duduk melamun. Angkutan umum pergi dan datang dan Senja hanya memandanginya dengan tatapan kosong seperti tak melihat apa-apa kecuali wajah Awan. Wajah lelaki itu tampak di mana-mana. Di sudut kota, di gang, hingga di gedung jalan raya.
Teeeeet... “Neng sudah jam tujuh, mau sekolah apa bolos?” tanya Abang Sopir metromini langganannya. “Mumpung sepi ini, ayo naik.”
Seperti dihipnotis Senja menuruti si Abang Sopir angkot. Dengan kecepatan penuh mobil yang ditumpangi Senja sudah tiba di depan sekolah SMA Galaksi lebih cepat dari biasanya.
“Ambil saja kembaliannya,” kata Senja.
“Terima kasih, Neng. Nanti pulang tak jemput, ya?”
“Ya.”
Di dalam kelas suasana terasa tenang. Kondusif. Setelah kejadian pencekikan yang dilakukan Senja pada Langit, membuat para siswa lainnya berpikir dua kali jika ingin mengganggu Senja. Mereka tidak mau menjadi korban berikutnya. Geng begundal si bengis dan komplotannya juga sudah insaf. Malahan ada satu anggotanya yang sudah meminta maaf sambil mencium kaki Senja. Dia berjanji tidak akan lagi mengganggunya. Melihat salah satu anggotanya taubat, si bengis tidak terima, untuk mempertahankan reputasinya, kehormatannya sebagai ketua geng paling ditakuti di sekolah, ia memerintahkan para jongosnya menyebar narasi dengan mengatakan ada makhluk gaib yang melindungi Senja.
Makhluk itu muncul saat Senja sedang marah. Ada yang mengatakan jin kuda nil penunggu sungai Cisadane, ada pula yang mengatakan badak hutan belantara Riau, ada juga yang lebih percaya makhluk yang mendiami tubuh Senja ialah genderuwo penunggu toilet sekolah. Katanya, genderuwo setan yang menyukai perempuan, bahkan tak segan berhubungan badan layaknya suami istri. Dengan kata lain jin menyeramkan itu telah kawin dengan Senja dan sekarang mendiami tubuhnya.
Cerita itu tersebar dari satu mulut ke mulut lainnya. Langit yang mendengar cerita ganjil itu bersyukur akhirnya ada yang mau menjadi kekasihnya Senja. Meskipun yang mencintainya jin. Ia tidak peduli, mau jin, dedemit, bahkan anjing sekalipun. Dengan begitu, Senja tidak lagi kesepian. Sementara kekasih Langit, Gemintang, sedari awal tidak percaya mendengar cerita picisan semacam itu. Ia ingin sekali menemui Senja, tetapi niatnya itu selalu ditolak oleh Langit yang masih trauma.
Di dalam kelas, di bangku belakang Senja duduk sendirian. Sedari awal masuk sekolah tidak ada yang mau duduk sebangku dengan Senja—setidaknya sampai dengan hari ini. Menyedihkan. Siang itu jam pelajaran terakhir, Kamerad Fajar yang mengampu pelajaran kesenian, sudah dua jam tak berkutik. Ia duduk di kursi seperti patung. Ia tidak berani menatap Senja. Ada perasaan bersalah dan menyesal telah mengajarinya perbuatan mesum—cabul saat pesta kembang api. Senja pastilah masih mengingatnya. Namun, anehnya Senja tidak mencari tahu kenapa guru cabul itu mendadak menjauhinya. Sebagai seorang guru yang melahap banyak buku, ia menduga sikap diam dan acuh Senja terhadap dirinya merupakan sikap kemarahan dan kebencian tertinggi yang tidak perlu lagi dibahasakan dengan bahasa lisan.
Sikap kaku dan ragu itulah yang membuat Kamerad Fajar mengajar layaknya guru lainnya: formal. Padahal, itu bukan gayanya mengajarnya. Dalam hati ia menggerutu kesal. “Apa jadinya seandainya John Keating[1] tahu betapa kaku dan formalnya aku mengajar. Ah, ia pasti muntah dan muak di alam kubur sana.”
Dilihat jam yang melingkar di lengan tangannya: pukul satu siang. Sudah waktunya pulang, pikirnya. Ia sudah tidak tahan ingin bebas dari perasaan bersalah yang membelenggunya.
“Oke anak-anak Selasa depan kumpulkan tugas yang aku berikan. Masih ingatkan apa tugasnya?”
“Ya,” jawab siswa serempak.
“Senja masih ingat PR nya?” Kamerad Fajar menanyakan kepada Senja dengan terpaksa.
“Ya,” balas Senja kaget.
“Apa?”
“Menggambar orang berciuman.”
Seisi kelas tertawa. Kamerad Fajar jatuh terjungkal. Namun, itu hanya berlangsung sebentar saat Senja menggebrak meja. “Kamu tidak tahu betapa sakitnya dikhianati. Dibohongi. Ditinggalkan begitu saja seperti sepah. Katakan kepadaku adakah satu kebahagiaan yang melebihi dari kebahagiaan cinta?”[2]
Semua diam tak mampu menjawab. Tidak terkecuali Kamerad Fajar yang dibuat diam seribu bahasa. Ia tahu kata-kata itu bagai peluru yang ditembakkan ke jidatnya. Mendadak Kamerad Fajar bertingkah seperti orang linglung—bingung. Ah, dari mana dia mendapatkan pertanyaan itu, pikir Kamerad Fajar yang tenggelam oleh kacamatanya yang besar.
Seketika suasana hening. Saat lonceng berbunyi barulah mereka berhamburan seperti laron. Di dalam kelas kini hanya ada Senja dan Kamerad Fajar. Keduanya saling tatap. Senja berdiri dan berjalan mendekati Kamerad Fajar, guru yang pernah mengajarinya ciuman.
“Ada apa Senja?” Kamerad Fajar panik. Ia setengah takut, benarkah ada genderuwo yang melindungi Senja—yang menguasai tubuhnya. “Tidak, itu tidak mungkin.”
Senja melangkah mendekati Kamerad Fajar, dan guru kerempeng itu mundur hingga terpojok di sudut ruangan. Senja makin dekat dan kini tepat di depan kening Kamerad Fajar.
“Senja aku bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi,” kata Kamerad Fajar dengan wajah pucat. Rasa takut dan ngeri timbul begitu saja saat melihat Senja menunjukkan gelagat aneh. Ia mengira Senja kesurupan. Aura mistis begitu kuat, suasana dalam kelas mendadak horor. Ia berusa tenang meski merasa ada yang meneror. Entah siapa, yang jelas bukan dari hawa manusia.
Benar saja mendadak Senja meremas tangan Kamerad Fajar kemudian berujar, “Awan aku merindukanmu. Ini tubuhku, peluk aku, cium aku sesuka hatimu.”
“Tidak Senja... Aku bukan Awan, aku kakakmu,” itulah ucapan terakhir Kamerad Fajar sebelum bibirnya dilahap Senja dengan ganasnya.
“Aku merindukanmu, Awan. Perkosalah aku...”
*