Semesta Senja

Ade Mulyono
Chapter #8

Senjakala & Tiga Dukun Sakti

Malam telah sepenuhnya jatuh saat Senja membuka mata. Di dalam kamarnya yang berukuran setengah lapangan bola voli, ia menggeletak tak bergerak seperti batu; diam dan bisu. Tidak ada aktivitas yang dikerjakannya selain berak, makan, dan rebahan mengukur ranjang dengan tubuhnya. Ia kembali tidur dan saat terbangun berharap ada sesuatu yang dapat menggembirakan hatinya. Terutama takdir cintanya yang selama ini sial. Ia ingin cinta yang langgeng dan bahagia. Bukan sekadar dan sebentar.

Membayangkan cinta yang bahagia membangkitkan rasa rindunya pada kekasihnya, Awan. Ia rindu bau tubuh kekasihnya yang semerbak bagai wangi bunga setaman. Ia kangen tatapan mata Awan yang tajam dalam dan diam. Juga rindu bahasanya yang lembutnya tertata indah bagai dawai.

Pagi itu Senja baru selesai sarapan menghabiskan semangkuk bubur yang dibawakan neneknya sebelum kembali ke sangkarnya: kasur. Sudah sebulan lamanya Senja tidak masuk sekolah. Dan, gadis gembrot itu sama sekali tidak memedulikannya. Tidak ada yang dirindukan baik pelajarannya, gurunya, apalagi kawan-kawannya. Senja bahkan sudah melupakan semuanya—ingatan buruk yang dialaminya di sekolah tidak layak untuk dirawat—dikenang dalam angan.

Neneknya, yang peduli dengan pendidikan cucunya, terutama cucu ketiganya, Senja, dibuat pusing tujuh keliling. Sebentar lagi Ujian Nasional akan diadakan, tetapi cucunya tidak memungkinkan mengikuti mata pelajaran. Segera saja ia bergegas pergi ke sekolah untuk memberitahu kepala sekolah dan guru-guru lainnya jika cucunya, Senja, tidak sedang baik-baik saja. Ia tidak sampai hati mengatakan cucunya tidak waras akibat kerasukan roh jahat bernama Awan. Ia takut jika cucunya masuk sekolah roh jahat itu akan kembali mengganggunya.

Tanpa memberitahu keadaan Senja yang sebenarnya, pihak sekolah sudah tahu jika gadis gembrot itu sedang tidak waras, sinting, gebleg, gila, pendeknya edan. Menjadi wajar jika sudah sebulan ini semua orang di sekolah membicarakannya. Kepala sekolah memaklumi. Ia berjanji akan tetap menerima Senja kembali jika sudah sehat dan normal seperti sediakala. Ringkasnya, sembuh dari penyakit gilanya. Mendengar jawaban kepala sekolah, nenek Senja pulang ke rumah dengan hati tenang—tenteram.

Gosip perihal Senja yang tidak waras tidak hanya dibicarakan di kelas-kelas, tetapi juga di ruang guru. Seperti siang itu, nama Senja tidak pernah tergelincir dari bibir para guru yang asyik merumpi. Di pojok ruangan Kamerad Fajar menenggelamkan wajahnya pada sebuah buku The Interpretation of Dreams.

Setelah lelah membaca Sigmund Freud, guru cungkring itu merenung memikirkan keadaan Senja. Keyakinannya mengenai kejiwaan Senja yang baik-baik saja mulai mengeras. Ia berkesimpulan jika gadis yang sudah lama absen dari pelajarannya itu tidak dalam pengaruh roh jahat, semata-mata hanya tekanan mentalnya saja. Terlebih selama ini Kamerad Fajar sering mendapati Senja kerap melamun—berkhayal. Sampai-sampai khayalannya itu masuk ke dalam mimpinya dan merusak kehidupannya yang nyata. Semua itu diketahui Kamerad Fajar usai membaca buku harian Senja yang ia curi saat mengunjungi rumahnya Minggu lalu. Saat itu Senja belum terbangun dari tidur panjangnya. Ia sempat menengok Senja yang terlelap. Ia sempat menengok Senja yang terlelap. Ia menyaksikan sendiri mulut Senja yang mungil serta bibirnya yang tipis dan manis bergerak aneh seperti orang berciuman. Tubuhnya mengerang, desahan keluar dari mulutnya. Ia tahu Senja sedang bercinta dalam mimpinya. Gerak bibir Senja itu mengingatkannya persis pada saat ia berciuman dengan Senja. Kejadian itu tidak akan pernah bisa ia lupakan. Pengalaman liar yang membuatnya merasa berdosa seumur hidup: berbuat mesum dengan muridnya. Sampai dengan hari ini perbuatan bejat itu tidak ia ceritakan kepada siapa pun.

 “Tidak apa, Nek. Itu normal, natural, dan wajar. Aku juga mengalaminya saat berumur 12 tahun. Itulah pertama kalinya spermaku keluar,” kata Kamerad Fajar kala itu tanpa perasaan malu secuil pun.

“Tetapi cucuku perempuan,” balas nenek Senja. “Perempuan tidak mimpi basah, bukan?”

“Lalu dengan siapa Senja bercinta?”

“Roh jahat,” kata seorang dukun muncul tiba-tiba dari belakang.

Kamerad Fajar tidak percaya ucapan sang dukun. Sebagaimana ia tidak percaya ucapan peronda yang menjual kisahnya—ceritanya yang muskil. Cerita itu hanya ada di dalam novel realisme magis. Tidak ada di dunia nyata; kuda bersayap—pegasus turun dari rembulan berputar-putar di atas rumah Senja, ah itu omong kosong. Seratus persen itu fiksi, tidak lain dan tidak bukan hanya karangan belaka. Begitu geramnya mendengar cerita itu, Kamerad Fajar berniat menyewa polisi untuk menginterogasi peronda penjual cerita mistis. Apa yang Kamerad Fajar ragukan mengenai cerita horor kuda bersayap akhirnya terbukti. Tiga peronda memberi testimoni jika kawannya itu yang sesama peronda (penjual cerita mistis) otaknya sedeng alias tidak waras. Sebenarnya ia bukan peronda, ia kerap datang menemani peronda jika perutnya kelaparan dan mulutnya asem ingin merokok. Selebihnya, ia orang tak waras yang kerap mengoceh tak jelas. Mendengar pengakuan tiga peronda itu Kamerad Fajar dibuat geram. Bagaimana bisa seorang sarjana terdidik yang membaca buku-buku sastra dan filsafat tertipu oleh orang sinting.

“Tidak, Senja tidak dalam pengaruh roh jahat,” pikir Kamerad Fajar sambil menggebrak meja yang membuat guru-guru lainnya dibuat jantungan. Dilemparkannya buku Sigmund Freud. “Saat ini yang dibutuhkan Senja seorang psikiater, bukan dukun. Aku menjadi curiga jangan-jangan Senja Halusinasi belaka,” gumamnya dalam hati lalu mengeluyur pergi meninggalkan ruangan—meninggalkan guru-guru lainnya yang sedang asyik merumpi membicarakan Senja dan kekasihnya yang kerap datang tepat pada waktu senjakala: genderuwo.

Sesampainya di kantin ia memesan kopi pahit, tak lama setelahnya Langit dan kekasihnya Gemintang datang dan bergabung duduk di sebelah guru keseniannya itu.

“Terima kasih sudah meluangkan waktu kalian,” kata Kamerad Fajar pada sejoli Gemintang dan Langit.

“Ada perlu apa Kamerad Fajar meminta kami berdua datang ke sini,” balas Langit sedikit dongkol sejak tadi pagi belum mencium kekasihnya. Siang tadi ia berniat mencium bibir kekasihnya di toilet. Baru saja memeras payudara kekasihnya, Kamerad Fajar nongol dan meminta keduanya menunda perbuatan mesumnya.

Sambil mengisap sebatang rokok Kamerad Fajar mengajukan tanya yang membuat Langit bengong. “Apa kamu pernah memanfaatkan tubuh Senja?”

Langit dan Gemintang saling tatap.

“Jawab!”

“Memanfaatkan dalam rangka apa?” jawab Langit.

“Imajinasi liarmu barangkali.”

“Aku tidak menyentuh gadis selain kekasihku ini,” kata Langit lagi.

Gemintang tersenyum mendengar jawaban kekasihnya. Ia tidak mau jika dirinya, tubuhnya, dianggap seperti tebu: habis manis sepah dibuang.

“Akan kupotong lontongmu bila berani berselingkuh. Lebih baik aku membusuk di penjara ketimbang membiarkanmu hidup bersenang-senang dengan banyak perempuan,” Gemintang menyambar ucapan kekasihnya yang membuat Langit melempem.

“Tidak, bukan itu maksudku,” kata Kamerad Fajar. “Urusan privatmu itu urusan kalian. Aku sedang membicarakan Senja yang saat ini mentalnya sedang goyah—payah.”

“Ya, aku sudah dengar, katanya Senja edan—tak waras,” kata Langit kembali tenang.

“Gila, sayang,” balas kekasihnya, Gemintang menjadi tenang mendengar penjelasan guru keseniannya.

“Sama saja apa bedanya sinting dan tak waras.”

“Langit,” kata Kamerad Fajar.

“Ya.”

“Di antara lelaki lain yang ada di sekolah ini kamu yang paling mengenal Senja. Setidaknya kamu pernah memanfaatkan Senja untuk misi nafsu liarmu mendapatkan Gemintang. Tetapi yang ingin aku tanyakan, apa kamu pernah melihat hal aneh tentang Senja?”

Langit terdiam. Ia mencoba mengingatkan kembali masa-masa pahitnya bersama Senja yang sama sekali tidak ingin diulanginya.

“Ya, aku mengingatnya.”

“Apa itu tolong ceritakan.”

“Senja kerap melamun.”

“Semua orang juga tahu kalau dia gemar melamun.”

Lihat selengkapnya