Entah pukul berapa saat Senja menangis tersedu-sedu saat menonton film India. Inilah pertama kalinya Senja diizinkan keluar kamar meski tidak diperkenan beraktivitas di luar rumah. Senja sempat memprotes neneknya yang bersikap otoriter berlebihan. Neneknya tidak peduli, biarpun Senja mengatakannya otoriter. Ia tetap pada pendiriannya. Sebelum sembuh Senja dilarang keluyuran.
Meski kesal akhirnya Senja bisa berdamai dan hal pertama yang dilakukan ialah menonton televisi. Sudah lama ia kangen film India. Biar pun anak sekarang tidak menyukai film India, tetapi tidak dengan Senja yang jatuh hati pada film India. Terlebih jika adegan menari dan menyanyi yang bikin lupa segalanya.
Dan benar saja saat adegan menyanyi berlangsung Senja tak kuasa menahan tangisnya. Neneknya yang takut cucunya kumat segera menghampirinya dan menepuk jidat saat tahu cucunya menangis karena nyanyian India yang katanya menyayat hati.
“Film yang aneh, di abad 21 masih berlaku perjodohan. Mengapa si gadisnya malah menyanyi di saat kekasihnya di luar sana merindukannya setengah mati?” kata neneknya geli melihat film drama India yang menganggap segala permasalahan dapat diselesaikan dengan bernyanyi dan menari.
Senja tidak menggubrisnya. Ia menganggap neneknya tidak tahu dunia percintaan. Sebenarnya ia ingin menjelaskan kepada neneknya jika di India kasta masih lekat dalam kehidupan. Sebuah kisah cinta yang dipisahkan oleh harta dan kekuasaan. Pemuda miskin yang mencintai gadis anak juragan kaya raya di kampungnya. Belum juga Senja mengutarakan hal itu neneknya sudah kembali berkomentar seakan-akan tahu pikiran cucunya.
“Bukankah normal orang tua yang akan menikahkan anak gadisnya menimbang calon suaminya: bibit, bebet, dan bobotnya. Seperti apa latar belakang pemuda yang akan menikahi anak gadisnya, apa pekerjaannya, siapa orang tuanya, dan bagaimana sifatnya, juga apa agamanya.”
Senja yang tidak suka dengan pendapat neneknya langsung memotong. “Apakah setiap orang tua yang akan menikahkan anak gadisnya harus menghitung untung ruginya layaknya seorang pedagang? Apakah Eyang juga begitu saat menikahkan ibu?”
Neneknya tertawa. “Eyang orang Jawa, tetapi sudah lama hilang kejawaannya. Eyang cukup menerima perubahan sosial. Asal ibumu bahagia, hanya itu pertimbangan Eyang. Cinta tidak dapat dikapitalisasikan. Meski pada akhirnya Eyang kecolongan.”
“Kecolongan?”
“Ya, suami pertama ibumu bukankah lelaki baik. Tapi sudahlah tidak baik mengungkit sesuatu yang sudah lalu. Selain penyesalan hanya rasa sakit yang tersisa.”
Sedang asyik mengobrol kedua kakak Senja, Purnama dan Kejora nongol. Seperti biasa keduanya masuk rumah tanpa salam. Layaknya serigala betina yang kelaparan keduanya mengeram saat tak mendapati makanan di dapur.
“Eyang dari tadi ngapain saja kenapa tidak ada makanan?” tanya Kejora kesal.
“Ya ampun, Eyang lupa.”
“Ini sudah sore kenapa sampai lupa,” Purnama menambahi dengan wajah ditekuk.
Senja yang tidak senang dengan ucapan kedua kakaknya yang terdengar seperti orang memarahi langsung menghampiri kedua kakaknya dengan mata melotot. Purnama dan Kejora dibuat ciut—takut. Sontak saja keduanya lari dan segera masuk kamar kemudian menguncinya. Senja cekikikan melihat kedua kakaknya lari tunggang langgang saling tubruk. Entah kapan persisnya, yang jelas semenjak Senja dituding mempunyai kekasih dari alam jin, kedua kakaknya mendadak berubah takut. Keduanya tidak lagi berani berbuat semena-mena pada Senja. Malahan sebaliknya Senja kerap memerintahkan keduanya untuk melayaninya.
Televisi masih menyala menonton dirinya sendiri. Satu adegan sukses menarik perhatian Senja. Terutama adegan tokoh utamanya, seorang gadis, yang kabur dari rumahnya melalui jendela kamar menggunakan tali yang dijulurkan dari dalam. Usaha itu berhasil gadis pun lari meninggalkan rumahnya yang dijaga ketat oleh ayah dan keluarganya. Gadis itu terus berlari tanpa pernah menengok ke belakang. Di sebuah gubuk di dalam hutan seorang pemuda sudah menunggunya. Demi pemuda tampan yang dicintainya gadis cantik itu rela meninggalkan rumahnya—keluarganya.
Sebuah pertemuan yang mengharukan pun tak terhindarkan. Kedua tokoh muda-mudi itu berpelukan dan berciuman. Satu kalimat yang dibisikan tokoh laki-laki di telinga kekasihnya mengingatkan Senja pada janji seseorang: seperti janjiku, aku akan menunggumu saat musim semi telah tiba.
Senja segera berlari keluar rumah. Sial pintu rumahnya terkunci dan kunci pintu disimpan di saku neneknya. Senja yang bingung kemudian masuk ke kamarnya dan membuka hordeng jendela. Betapa terkejutnya Senja saat melihat daun-daun sudah berwarna cokelat kemerahan, tidak sedikit juga yang sudah menguning di halaman rumahnya yang dihiasi berbagai tanaman. Beberapa bunga yang dihias sedemikian rupa juga sudah mekar. Di jalan raya pohon-pohon berbunga lebat. Di langit sekawanan burung terbang meliuk-liuk ke sana ke mari.
Terlintas di benak Senja jika musim semi telah tiba. Sebuah janji yang pernah diucapkan seseorang memenuhi batok kepalanya: aku akan menemuimu di musim semi.
Itulah kalimat terakhir yang Awan ucapkan pada Senja. “Benarkah kamu akan datang, Awan?”
Senja berpikir keras bagaimana caranya bisa keluar rumah untuk menemui Awan yang pasti sudah menunggunya di taman, sebagaimana yang ia janjikan. “Di sebuah taman tempat kamu biasa menerbangkan khayal aku akan menunggumu di situ. Jika kamu melihat seorang pemuda duduk seorang diri sambil memegangi bunga maka itulah aku yang sudah menunggumu.” Begitulah janji Awan kepada Senja sebelum ia dibanting oleh dua preman bertubuh kekar.
Senja berjalan mondar-mandir bingung apa yang harus dilakukan. Ia berpikir keras bagaimana caranya bisa keluar rumah tanpa sepengetahuan neneknya. Sialnya semua pintu sudah terkunci rapat. Tidak hanya dikunci, semua pintu juga sudah ditaburi aneka sesajen oleh dukun. Bagi Senja itu bukan halangan karena dirinya tidak gila juga tidak kesambet.
Neneknya dan kedua kakak perempuannya percaya begitu saja saat dukun itu mengoceh jika sesajen yang diletakan di tiap-tiap pintu dapat menghalau, bahkan mengusir genderuwo yang mencoba mendekati Senja. Pertanyaannya sampai kapan? Seumur hidupkah Senja harus dikurung di rumahnya? Senja mengingat jawaban si dukun. Sampai musim semi lewat.
Senja tidak mungkin menunggu sebegitu lamanya agar dirinya dapat kembali bebas keluar masuk rumah menjalankan aktivitasnya sebagaimana biasanya sebelum dituduh sinting.
Ia harus secepatnya menemui Awan, bahkan jika perlu detik ini. Saat Senja sedang memikirkan hal itu, tiba-tiba muncul sepasang kupu-kupu masuk ke dalam kamar Senja melalui sela-sela jendela yang setengah terbuka.
Dua kupu-kupu cantik itu mendekati Senja kemudian hinggap ke lengannya. “Apa kamu masih mengingat kami?” tanya kupu-kupu itu yang membuat Senja tersentak kaget.
Apa aku sudah gila, pikir Senja kemudian mengucek matanya, mencubit perutnya yang besar, dan menjambak rambutnya untuk memastikan apa yang dialaminya bukan mimpi.
“Ini nyata Senja,” kata kupu-kupu satunya lagi. “Kami kupu-kupu yang sering bermain denganmu saat di taman—rembulan.”
“Benarkah?”
“Ya, sekarang coba kamu ingat baik-baik.”
“Lalu ada perlu apa kamu datang menemuimu,” tanya Senja setelah menguasai dirinya dan mengusir rasa takutnya.
“Aku diperintah kekasihmu, Awan, untuk memberitahu jika ia sudah menunggumu di sebuah taman—tempat yang ia janjikan.”
“Awan. Benarkah?”
“Ya. Jika kamu melihat seorang pemuda duduk di bangku taman dan seikat bunga di pangkuannya, maka pemuda itu kekasihmu yang sudah lama menunggumu.”
Senja tersenyum bahagia kekasihnya benar-benar menepati janjinya. Namun, senyum Senja hanya sebentar sebelum wajahnya kembali ditekuk. Dengan perasaan lemas Senja berjalan lemah menuju ranjang tidurnya. Ia merebahkan tubuhnya kemudian mencuci sepasang matanya dengan tangis.
“Senja,” kata kupu-kupu berwarna biru terbang ke arahnya dan Senja diam tak menggubrisnya.
“Senja,” kata kupu-kupu berwarna merah satunya lagi, “tak inginkah kamu menemui kekasihmu?”
Senja diam. Suara tangis terdengar seperti guntur.
“Senja apa kamu baik-baik saja?” kupu-kupu merah terbang dan hinggap di depan wajah Senja yang berlinang air mata.
“Katakan padaku apa yang harus kami bantu?” tanya kupu-kupu satunya lagi.
“Tidak,” balas Senja, “Kalian berdua pergilah. Aku ingin sendiri.”
“Lalu bagaimana dengan kekasihmu, dia sudah lama menunggumu.”
“Katakan padanya aku tak dapat menemuinya. Mungkin seperti inilah takdir cinta kita.”
“Ah, ucapan perpisahan macam apa itu,” protes kupu-kupu berwarna biru. “Kamu masih muda tetapi semangatmu seperti orang jompo.”
“Benar,” kata kupu-kupu satunya lagi, “begini saja perjuanganmu? Selamanya kamu tidak akan menemukan cinta sejati jika kamu tidak mau berjuang untuk mendapatkannya.”
“Kalau begitu pinjamkanlah sayapmu agar aku bisa terbang menemui kekasihku,” balas Senja kemudian duduk dan menyandarkan kepalanya.
“Apa maksudnya?” kata kupu-kupu itu berbarengan.
“Eyang mengunci semua pintu dan aku tidak diizinkan keluar rumah sampai musim semi berakhir.”
Setelah Senja mengatakan satu alasan yang membuat dirinya tidak dapat menemui kekasihnya, kedua kupu-kupu diam. Ia kehabisan kata, sambil terbang ke sana ke mari kedua kupu-kupu berusaha mencari cara agar bisa mengeluarkan Senja dari rumahnya.
Di kedai kopi yang jaraknya kira-kira setengah kilometer dari rumah Senja, Kamerad Fajar dan sejoli Langit dan Gemintang sedang menyusun siasat. Mereka bertiga berencana menculik Senja untuk memastikan apakah ia benar-benar gila atau tidak. Untuk memastikan itu mereka bertiga berencana akan membawa Senja ke dokter kejiwaan.