Semesta Senja

Ade Mulyono
Chapter #10

Epilog

Waktu mulai mengeja sore saat Senja duduk seorang diri di bangku taman yang lengang—tidak ada seorang pun yang terlihat—selain bayangnya sendiri yang memanjang. Di bawah pelupul matanya, cahaya matahari jingga yang keemasan mulai luruh nyaris jatuh ke tanah, sesaat sebelum padam dan terbenam. Senja masih setia memandanginya dengan mata berbinar. Dan benar saja tak lama setelahnya, lampu-lampu di jalan satu per satu mulai menyala. Cahaya senja seperti tidak punya kata untuk mengucapkan sampai jumpa.

Senja menundukkan kepalanya. Hati kecilnya mulai berbicara, segala yang indah akan ada akhirnya. Seperti fajar, senja hanyalah penanda waktu; ada yang tumbuh dan patah, bangkit dan tenggelam, memberi dan melepas, mengejar dan menerima... akhir dan awal.

“Kenapa aku takut kehilangan sesuatu yang tidak pernah aku miliki,” pikir Senja dalam renungannya. “Senja adalah sebuah pelepasan, bukan kalah tetapi mengalah, memberi kesempatan pada malam yang bercahaya tenang, sebelum melahirkan fajar yang berpijar terang—bagi pagi untuk mereka yang tidak berhenti mengejar. Meraih dan memberi, memiliki dan melepas kembali.”

Dari kejauhan terdengar suara mobil dan angkutan umum berderum menelan dan memuntahkan orang-orang kota yang terjebak oleh aturan. Orang-orang tangguh yang barangkali sepertiga sepanjang hidupnya dihabiskan di jalan.

Senja memejamkan matanya. Memikirkan atas apa yang terjadi dalam semesta khayalannya—yang ternyata tetap saja tak seindah yang diinginkan dan dibayangkan. Segalanya seperti nyata, kesedihan yang dialaminya seperti tak ada bedanya. Sambil merenungi hidup yang sudah dijalaninya selama tujuh belas tahun usianya ini membuat Senja ingin menangis, namun sebelum terjadi ia segera menepis perasaannya saat mendengar derit langkah pengamen dengan secarik kertas di tangannya. Mungkin saja ia diutus Tuhan untuk menghibur dirinya, pikir Senja.

Setelah memperkenalkan diri pengamen itu mulai beraksi, bukan untuk menyanyi, tetapi membacakan puisi:

Ketika kurasakan bibirmu masih tersimpan di mulutku

Ketika suaramu masih memenuhi telinga dan pikiranku

Kutulis puisi sambil mengingat-ingat warna sepatu

Celana dalam, kutang serta ingat pinggangmu

Yang dulu kautinggalkan di bawah ranjang

Sebagai ucapan selamat tinggal[1]

 

Senja terbelalak. Bukan karena suaranya yang menggelar tetapi sajak yang dibacakan begitu berkesan. Sebagai ucapan selamat tinggal, sebaris sajak itu mengingatkannya pada seseorang yang setiap saat ia rindukan.

“Sangat indah,” kata Senja sambil memberikan dua lembar uang kertas pada seniman jalanan itu.

“Terima kasih, Puan. Kebahagiaan akan menjadi milikmu,” kata penyair itu sebelum pergi.

Awan, ujarnya pelan. Itulah nama pertama yang diucapkan Senja setelah separuh harinya dihabiskan untuk melamun—berkhayal.

Apakah kamu nyata atau mimpi belaka? Apakah benar apa yang dikatakan semua orang; aku sudah gila, sinting, gendeng dan tak waras. Jika itu benar, maka aku gila karena merindukan lelaki sepertimu, Awan. Seorang yang mencintaiku dengan sebenar-benarnya cinta. Cinta yang tidak menghamba pada kecantikan dan tunduk pada keindahan tubuh semata. Di dunia ini tidak ada yang menginginkanku, bahkan ibuku meninggalkanku sesudah melahirkanku. Setelahnya semua yang aku cintai juga demikian; meninggalkanku dan menjauhiku. Tidak Langit, tidak juga Kamerad Fajar, keduanya balik badan meninggalkanku seorang diri yang entah kapan akan mati ditikam sepi ini.

Awan, apakah kamu tahu? Seorang seniman jalanan membacakan sajak yang amat indah dan sajak itu seolah-olah ditulis oleh pengarangnya untuk merayakan kerinduan yang tak pernah terungkap. Untuk orang-orang seperti kitalah puisi Menjadi Penyair Lagi diciptakan, bukan?

Perlahan Senja bangkit dari tempat duduknya. Dimasukkan novel Cantik Itu Luka ke dalam tas gendongnya yang besar. Senja berjalan sempoyongan seperti orang mabuk. Baru lima langkah ia jatuh tersungkur di semak-semak yang tumbuh liar.

Lihat selengkapnya