Semestinya Pulang Meredam Kecemasan

Aksan Taqwin Embe
Chapter #2

Dua

Hari ini tepat tiga tahun peristiwa perempuan bisu yang dianggap gila diperkosa tiga lelaki hingga pingsan di atas tanjung yang tak jauh dari pelabuhan. Jika kamu datang di kota ini kamu akan menemukan tanjung-tanjung yang beriringan. Ada yang tinggi, ada juga yang rendah. Banyak sekali! Peristiwa ini menjadi pengingat bagi perempuan-perempuan agar tidak keluar malam tanpa pendampingan. Bukan mereka—perempuan-perempuan yang ketakutan, justru orang tuanyalah yang khawatir. Peristiwa seperti ini tidak hanya terjadi sekali, dua kali, atau tiga kali. Peristiwa ini sudah kerap terjadi tanpa penyelidikan atau penanganan lebih lanjut. Pernah suatu kali dari kepolisian melakukan penyelidikan, namun ternyata hanya berhenti di penyelidikan. Tanpa ada keputusan atau pencerahan lebih lanjut.

Malam itu ada suara burung yang saling bersautan. Burung yang sangat asing di telinga orang-orang. Burung bertubuh hitam, bermata hitam biasanya bertengger di pohon, di pucuk tanjung, tanaman kaktus, dan genting rumah-rumah atau pelabuhan.

“Suara burung itu, seperti kudengar sebelum kakekku meninggal lima belas tahun yang lalu.” ucap Sloki.

“Burung apa itu?” ucap Japran

“Aku tidak tahu betul nama burung itu. Antara gagak atau kedasih” ucap Sloki.

Konon burung itu dipercaya sebagai burung pencium mayat, memprediksi kematian, atau burung yang memberikan kabar buruk atau malapetaka. Jika sudah terdengar suara burung itu, suasana mendadak sangat sepi dan mencekam. Sejak pagi orang-orang dibuat kelelahan setelah membantu tim SAR—search and rescue mencari anak kecil berusia 8 tahun yang hilang tenggelam. Padahal sudah ada himbauan dan tanda peringatan pelarangan berenang di musim seperti ini. Masih ada saja yang melanggar, dan mereka merasa kecolongan. Tim SAR memutuskan agar pencarian dilakukan kembali esok hari. Namun peristiwa lain yang lebih kelam datang lagi, silih berganti.

Malam itu adalah malam paling sial bagi perempuan bisu. Tidak ada yang mengetahui sebermula dari mana datangnya perempuan itu; asalnya dari mana, dan siapa keluarganya, kecuali Mak Ti, dukun bayi. Mak Ti pernah mendapati perempuan ini berjalan seorang diri di pasar tanpa alas kaki. Kata orang-orang pasar, perempuan ini tinggal di gubuk sisi sawah lojok tetangga kampung ini. Memang banyak orang-orang asing; perempuan-perempuan seperti ini, dengan wajah yang hampir serupa kerap masuk-keluar di kampung ini. Perihal orang gila, biasanya tidak akan bertahan lama singgah di kampung ini. Di kampung ini hanya orang-orang yang mencari keuntunganlah yang akan jenak tinggal di sini. Mereka datang untuk mengeruk seluruh sumber daya alam di kampung ini. Ikan-ikan dari pelabuhan bisa diangkut ratusan, dan bahkan ribuan ton setiap harinya, pasir pantai, karang-karang, pohon kaktus, dan buah-buah siwalan dari petani yang dibeli dengan harga yang sangat murah. Habis sudah! Mereka memang bajingan-bajingan yang menjelma menjadi orang baik dengan dalih membantu perekonomian.

Peristiwa itu menanggalkan luka yang perih, getir, dan mendalam. Masih dalam bayang-bayang dan kecemasan bagi orang-orang di sekitar kampung yang diserbu berbagai persoalan. Anak-anak muda pemabuk bisa melakukan apa saja tanpa ada yang mampu menghentikannya. Bagi mereka, berani menghentikannya adalah siap bertaruh nyawa. Biasanya pemuda-pemuda yang leluasa, yang bisa melakukan apa saja seperti ini adalah anak-anak orang yang kaya, berduit, dan atau memiliki jabatan di perangkat desa atau daerah. Apa yang mereka lakukan memang sangat biadab. Bagaimana mungkin mereka bisa melakukan perbuatan sehina dan sekeji itu terhadap perempuan yang tidak berdaya. Otak mesum yang tak bisa dibendung dan dikendalikan sedikit pun. Ia tidak berpikir sama sekali bahwa semesta, tanah, dan laut akan murka, hidupnya akan sengsara. Bukankah karma selalu berlaku?

Sewaktu itu, perempuan bisu yang dianggap gila tidak berdaya, yang menderita sejak meninggalnya neneknya berjalan pelan-pelan memasuki pintu lorong pelabuhan. Ia masih harus menanggung derita yang cukup parah setelah ia tahu sudah tidak memiliki siapa-siapa. Entah dosa apa yang dilakukan orang tuanya atau keluarganya terdahulu, sehingga ia mesti merasakan karma dan kesakitan yang tak berkesudahan.

Perempuan bisu itu digeret secara paksa, naik menuju tanjung. Perempuan itu berteriak sekuat tenaga namun suaranya tenggelam dengan suara gemuruh ombak. Ia meronta, menendang-nendang, namun tenaga tiga lelaki biadab lebih kuat ketimbang perempuan bisu itu. Perempuan itu seperti tidak memiliki tenaga. Ia dipaksa terlentang di atas tanah terjal. Padahal sekeliling tanjung di sisi bebatuan yang melingkar ditumbuhi tanaman-tanaman kaktus pantai, dan penuh dengan bebatuan curam. Jika sampai terperosok sedikit saja, tubuh akan terbentur batu yang menonjol runcing di atas lautan, atau tercebur ke lautan yang entah seberapa kedalamannya. Sebelumnya Japran tak terbesit sekali pun harus mengikuti ide Sloki, Yadi, dan Rio. Minum arak oplosan yang membuat pikiran mereka liar ke mana-mana, lantas bisa ada keinginan memperkosa perempuan bisu.

“Memang dasar tolol kalian. Emang kalian doyan dengan perempuan gila bisu dengan tubuh dan wajah kotor begini?”

Wajah Japran padam. Ia tak habis pikir dengan ide teman-temannya.

“Apakah kalian tidak ada lintasan bayangan perempuan-perempuan di rumah kalian, keluarga kalian, ibu kalian?” sambungnya.

Japran semakin murka. Ia membayangkan bahwa perempuan itu adalah istrinya di rumah yang selalu mengharapkan kehadiran jabang bayi. Japran menarik napas panjang. Kesedihannya menderas, sebab sudah dua tahun menikah belum juga dikaruniai anak. Tiba-tiba kesedihan itu berubah menjadi emosi yang menyerang, mendesak-desak dadanya. Ia merasa dikepung bisikan-bisikan setan yang berputar-putar di cangkir bambu berisi arak yang siap menusuk-nusuk kepalanya, kemudian mengeraskan kemaluannya.

“Pran, kamu tahu? Perempuan gila itu masih gadis. Men. Tentu kamu akan merasakan bagaimana rintihannya dan sensasi pertama kali kita lakukan juga. Biasanya kamu hanya bisa membayangkan dengan pikiran-pikiran mesummu melalui film porno, bukan? Atau hanya bersama istrimu yang sudah kamu gauli bertahun-tahun itu. Ini wujud gadis sudah ada di depan mata. Mau gila atau tidak, rasanya tetap sama saja tentunya. Tujuannya hanya melampiaskan birahi.” ucap Sloki yang menjadi dalang perbuatan jahanam.

“Tidak. Tolol kalian!”

“Hei, kenapa? Kamu tidak penasaran? Rasa penasaranmu agar segera tuntas.” Yadi menimpali.

Lihat selengkapnya