Langit terlihat sangat muram dan angin barat menerpa pohon-pohon di awal Januari 1998. Orang-orang sudah hafal dan menganggap hal itu sangat lumrah. Mereka sangat mudah menenung turun hujan di tahun baru. Entah dengan intensitas lebat, atau hanya sekadar gerimisi-gerimis kecil yang membuat orang-orang malas keluar rumah. Tapi sebenarnya malas keluar rumah hanyalah sesaat atau di sebagian masyarakat saja. Malamnya perayaan-perayaan, pesta, syukuran di tahun baru seperti ini tetap dilaksanakan dengan gembira ria. Sebenarnya tahun ini menjadi waswas bagi masyarakat keluar malam pasca terjadinya pembunuhan Ki Said setelah pulang salat subuh di akhir Desember 1997. Sebelumnya sudah ada tanda-tanda pembobolan dan pengacak-acakan rumah Ki Said dan tanda silang merah di depan pintu. Ada pula tanda silang di tembok belakang dan samping dengan cat merah.
Di rumah Habsahab—anaknya Japran terlihat sangat hening. Tepat di sela-sela atap beranda rumah—di bawah rangka penyangga genteng paling kiri menggelantung tempurung kelapa kering yang dilubangi selingkar batang paku, kemudian dikait dari tengah dengan ganjal lima lapis potongan kawat sepanjang setengah jari telunjuk, di sisi lingkarnya menggantung empat kaleng bekas yang warnanya pudar dan tepiannya sudah berkarat. Setiap kali angin kencang dari arah laut, kaleng-kaleng itu saling bergesekan sehingga mengeluarkan bunyi yang nyaring. Anak-anak kecil bergembira, berlarian menuju sumber suara. Mereka akan melihat sambil loncat-loncat bersorakan. Apalagi ketika bulan purnama melingkar dengan sempurna. Mereka berlarian membentuk lingkaran, saling berkejaran, bersorak nyanyian-nyanyian dengan iringan alunan gemerincing kaleng-kaleng itu.
Jika angin sedang kencang, suara kaleng inilah menjadi petanda musim sedang tidak baik, dan atau sekaligus menjadi pelipur lara bagi orang-orang pantura. Mereka akan istirahat lebih lama di rumah. Duduk bersama di depan rumah atau gardu, berbicara bagaimana harga-harga ikan yang naik-turun, orang-orang berduit yang mengelabui masyarakat kecil, cara mudah menangkap ikan, persiapan perbekalan, kondisi perkampungan, sampai pada persoalan rumah tangga yang bahagia dan atau tidak baik-baik saja. Kadang tali pengait kaleng-kaleng ini berputar hingga melilit kecil, kemudian kembali berputar ke kondisi awal. Pada putaran kembali ke awal itulah biasanya mengeluarkan bunyi yang cukup lama. Sehingga anak-anak terlihat sangat gembira dengan loncatan-loncatan kecilnya. Kaleng-kaleng itu gemerincing bertalu-talu, mengentak-entakan dada di tengah-tengah angin yang yang terus mendera.
“Sepertinya monster itu datang kembali, Sal,” ucap Habsahab.
Orang-orang menyebut angin barat yang menciptakan gelombang menggelung-gelung karang sebagai monster yang sangat menakutkan. Orang-orang kembali percaya bahwa kilatan-kilatan puluhan tahun lalu yang kerap dilihat masyarakat—termasuk Japran dan Sloki adalah sebagai petanda angin barat yang mesti dihentikan. Di musim angin barat inilah selalu menyerang dan menelan korban yang tak berkesudahan. Pemikiran logis kini kembali dipatahkan dengan takhayul-takhayul yang mau tidak mau masyarakat wajib percaya. Sebab jika tidak, laut akan semakin murka. Sudah tidak terhitung orang-orang di kampung ini hilang, mati karena tenggelam, kapalnya pecah berkeping-keping. Perempuan-perempuan yang sudah menanti kedatangan suaminya, berharap datang membawa kabar bahagia, justru yang datang hanyalah duka dan luka yang mendalam.
“Iya, monster angin barat datang kembali.” sambungnya dengan nada penekanan.
“Banaspati?” ucap Salimah lirih.
“Iya. Orang-orang menyebutnya begitu. Kamu lihat perahu-perahu yang terombang-ambing itu?” sambil menunjuk ke arah laut yang bisa dilihat dengan jelas dari jendela ruang tamu, “Perahu yang terguling itu pun, pemiliknya sudah tidak peduli lagi. Perahu-perahu yang lain pun sampai terjungkir balik seperti itu, setengah tenggelam begitu tak satu pun awak kapal mau datang menengok menyelamatkan.”
“Apa mereka sudah merasa berkecukupan sehingga tak lagi perlu alat itu, perahu itu untuk mencari penghidupan?”
“Entahlah. Bisa iya atau bisa tidak. Padahal seharusnya benar perahu itu sebagai alat mencari nafkah mereka. Kondisi seperti ini, masa mereka ikhlas begitu saja perahu tenggelam? Harga perahu itu tidak murah. Seharusnya lebih baik memperbaiki dari pada merelakan begitu saja.”
“Betul katamu.”
“Mau kerja apalagi mereka selain melaut, bernelayan? Bukankah belakangan ini mencari pekerjaan sangat sulit, kan? Pengangguran di mana-mana, biaya pangan sangat mahal. Aku sangat yakin mereka takut mati. Mereka ketakutan dengan monster yang bisa saja menyerang dirinya atau keluarganya sewaktu-waktu.”
“Sampai kapan musim seperti ini reda, Hab.”
“Aku tidak tahu. Pun tidak bisa diramal. Lihat saja, perahu-perahu itu terbawa ombak hingga ke tengah karena jangkar dan tali pengikatnya lepas. Itu artinya ombak dan angin semakin ganas. Rasanya baru kali ini musim yang semakin parah.”
“Sangat menyedihkan.”
“Ah, kesedihan itu pasti ada. Bahkan keresahan pasti tumbuh, Sal. Begitulah nasib menjadi istri pelaut. Kamu mesti ikhlas dan jangan pernah berhenti berdoa! Bukankah itu sudah menjadi tekadmu menjadi istriku?”
“Itu pastilah. Benar ini sudah menjadi tekad dan keputusanku, Hab. Tak perlu lagi kamu bahas soal itu rela atau tidak rela. Masalahnya kondisi seperti ini selalu bisa datang kapan saja, membuat dadaku semakin cemas meskipun sudah rela.”
“Aku memahamimu, sayang.”
“Lantas bagaimana nasib orang-orang yang ditinggalkan?”
“Entahlah, aku pun tak bisa membayangkan. Seharusnya mereka sudah mempersiapkan mental dan pikirannya sejak awal.”