Habsahab dan Salimah berpelukan. Mereka tinggal di rumah yang tidak begitu besar. Rumah di sekitar tepian pantai sisi kanan jalan beraspal. Jalan beraspal ini naik turun melintasi tanjung yang bentuknya tak beraturan. Menjorok ke bawah ada tanah lapang yang biasanya digunakan sekumpulan orang-orang duduk melingkar, atau anak-anak berkejaran. Jika musim sedang baik, tanah lapang itu juga untuk menjemur ikan-ikan kering. Di belakang tanah itu ada kampung kecil yang padat penduduk. Setiap kelok tepi jalan ada rumah-rumah, toko kelontong, pos kamling, dan musala.
Salimah dan Habsahab pasangan yang mabuk asmara hasil perjodohan. Mereka tidak banyak drama ketika dipertemukan pertama kali oleh kedua orang tuanya. Waktu itu akhir November 1996, langit cerah, laut tenang, ikan-ikan berkecipak di permukaan, menjadi hari paling mengesankan bagi Habsahab dan Salimah. Orang tua masing-masing memiliki hubungan baik dalam perdagangan di tempat pelelangan ikan, juga dalam pencarian ikan-ikan sewaktu itu. Kini Japran—Ayah Habsahab sebagai kepala desa, sementara ayah Salimah tetap bergantung dengan ikan-ikan sekaligus sebagai tetuah di kampung itu. Keduanya sama-sama memiliki kepentingan, keduanya selalu diuntungkan.
Habsahab tanpa pikir berulang atau butuh pertimbangan panjang soal perjodohan. Ia langsung mengiyakan di saat Salimah dituntun keluar bersama ibu untuk menemuinya, juga keluarganya saat prosesi lamaran. Salimah berjalan pelan-pelan kemudian duduk melipat kaki ke belakang di samping Habsahab. Tubuhnya tegap, dan tangan terbuka di atas paha. Dengan sikap yang santun, kulit sawo matang, wajah bersih, dan senyum manis membuat Habsahab langsung terpikat. Apalagi ia melihat lingkar sepasang mata sipit dengan bulu mata yang tipis. Ketenangan dan kedamaian mengalir di dada Habsahab saat melihat Salimah tersenyum kepadanya. Senyum yang manis dari bibir merah. Seketika lenyap masalah-masalah. Tubuhnya berasa lemas, jantungnya berdegup kencang. Mendadak tubuhnya gemetar. Ia merasa sangat bahagia.
“Ah, rasanya mereka sudah sama-sama suka. Kalau begitu kita nyatakan perjodohan ini sah dan berlanjut, ya.” ucap Japran memutuskan sepihak.
Sekumpulan sepasang keluarga sontak mengiyakan dan bahagia. Bibir Ayah Salimah mengembang, wajahnya cerah sekali. Ada kebahagiaan yang terpancar dari sudut mata dan bibir Salimah. Ia menganggap Habsahab bisa membahagiakan putri semata wayangnya, dan minimal nama baik keluarga segera terbentuk.
Iya, nama baik keluarga! Tidak bisa dipungkiri lagi, orang-orang yang egois hanya mementingkan perut, nama baik, harta, dan derajat—harga diri.
Sebenarnya apa yang ingin dicari oleh Salimah dalam perjodohan itu? Padahal ia bisa saja menolak jika dirasa tidak cinta atau tidak sesuai dengan harapannya. Apalagi ia sangat ketakutan dengan nelayan dan laut yang kerap membawa kematian. Apalagi perjodohan itu hanya mengelolah nama baik keluarga. Naif sekali keputusan Salimah yang tak sekali pun pernah berbicara dengan Habsahab, namun dengan mudah ia menerima cinta begitu saja.
Suatu kali pascaupacara tunangan itu; bertukar cincin, melekatkan perasaan, Japran bertanya kepada Salimah mengapa ia dengan mudah menerima Habsahab tanpa berpikir panjang? Ia mengatakan ingin membahagiakan ayah dan ibunya. Ah, omong kosong!
Rupanya Salimah sudah lama diam-diam menyukai Habsahab. Meski kadang ia sedikit kesal, mengapa tidak dari dulu Habsahab mendekat lebih awal sehingga Salimah bisa dengan bangga menunjukkan ke teman-temannya bahwa Habsahab telah menyukainya tanpa harus mengejar-ngejar seperti kawan-kawannya yang menggilai Habsahab. Ah, mau diletakkan di mana harga diri seorang perempuan yang rela mempermalukan diri sendiri di depan umum atau lelaki hanya perkara cinta?
Lagi-lagi yang kerap disampaikan adalah soal harga diri dan nama baik! Tidak ayahnya, tidak Salimah, semuanya sama. Ingin diakui oleh masyarakat bahwa dirinya tergolong orang yang terpandang. Hanya itulah sebagai kebanggaan yang ingin ditonjolkan. Bodoh sekali!
“Habsahab, kamu tidak perlu berpura-pura bodoh. Rasanya aku tahu kamu kerap mengamati aku sejak dulu. Jangan beranggapan dirimu merasa dipaksa dan terancam dengan bungkus perjodohan ini, apalagi pura-pura tidak mengetahui perihal ini.” ketus Salimah.
Salimah berpura-pura memasang wajah kesal. Habsahab menatap wajah Salimah kemudian tersenyum. Ia ingin tertawa, tapi malu dengan orang tua dan tamu keluarga yang hadir pada perjamuan itu. Habsahab berkulit putih, tubuh tinggi, tegap berisi, rambut ikal, berewok tipis yang membuat perempuan kerap histeris ketika bertemu atau berjalan di depannya. Salimah tidak berat hati mengiyakan tawaran untuk dipersunting Habsahab. Ia tahu betul bagaimana situasi perkampungan—teman-teman sebayanya—gadis-gadis ketika melihat Habsahab melintas di jalanan. Sehingga ia merasa menjadi pemenang, tanpa mengejar lelaki idaman para teman-temannya pun sudah mendekat dengan sendirinya.
“Apa aku pernah menggodamu?”
“Aku rasa tidak pernah. Namun kamu ada dalam lingkar persekongkolan teman-temanmu ketika nongkrong di tepian jembatan atau pos kamling, bukan?”