Semestinya Pulang Meredam Kecemasan

Aksan Taqwin Embe
Chapter #5

Lima

Sebenarnya sudah lama Japran mengidam-idamkan sosok bayi yang terlahir dari rahim istrinya. Istri yang paling ia cintai dan kagumi sejak dulu. Bertahun-tahun menikah belum juga dikaruniai anak. Mereka merasa bahwa dirinya lemah dan mandul. Tapi bukan soal lemah atau mandul yang menjadi pikiran mereka, tapi yang selalu mengecewakan dan menyakitkan adalah mulut tetangga. Pertanyaan-pertanyaan tetangga yang terus berulang membuat Japran dan istrinya malas menjawab. Selain malas menjawab, tentu saja kesedihan terus menyerbu mereka. Pernah sekali waktu Japran ingin membunuh seorang perempuan istri temannya sendiri hanya perkara mengatakan istrinya mandul.

“Tenanglah, kita bersabar dan terus berusaha. Kita tidak mungkin mati dalam kesepian.” ucap Japran.

Istrinya mengangguk dan tersenyum menguatkan. Mereka saling menggengam tangan, kemudian berpelukan sangat erat. Mental dan hati istri Japran kadang rapuh ketika tetangga selalu bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang berulang perihal keturunan. Memang goblok mereka! Tidak bisa menjaga perasaan hati, padahal sesama perempuan.

“Mulut mereka sangat menyakitkan, Pran.” ucap Istri Japran. Matanya berkaca-kaca.

“Sudahlah tidak perlu dihiraukan.” ucap Japran.

Hujan sangat deras di tengah musim kemarau yang belum tuntas. Orang-orang dibuat kebingungan, harus dengan cara bagaimana lagi menujum perhitungan musim yang tak selesai dan berubah-ubah. Mereka sudah pasrah, dan menerbangkan doa-doa. Hari itu Japran dan istrinya sudah berencana ingin pergi ke klinik desa. Mereka ingin mencoba mengecek kembali kesehatannya di bidan desa. Mereka ingin mengecek soal rencana program memiliki keturunan. Doa-doa diterbangkan ke semesta agar mereka baik-baik saja tanpa kendala apapun. Setelah dicek dokter, keduanya sehat tanpa kendala.

“Bersabarlah terlebih dahulu. Coba lagi, jangan patah semangat.” ucap dokter desa.

Lihat selengkapnya