Sebenarnya, Habsahab juga sudah muak dengan kehidupan yang selalu diatur dan dikekang oleh ayahnya. Keinginan Japran agar Habsahab menjadi guru agama ia tanamkan sejak kecil sudah pudar. Tidak bisa diharapkan! Japran merasa gagal mendidiknya. Habsahab turut serta kawan-kawannya yang seharusnya Habsahab sendirilah memiliki andil membinasakan itu semua. Habsahab menyadari mereka lelah setelah berlayar dalam waktu yang lama. Iya, mereka berlayar bisa berminggu-minggu, bisa berbulan-bulan menetap di sebuah pulau menunggu ikan-ikan terkumpul dari nelayan ke nelayan. Nelayan di desa ini tidak hanya menangkap ikan, tapi juga membeli ikan lebih murah dari nelayan lain, dari pulau ke pulau.
“Kalau sampai kamu kembali ikut-ikutan mereka, lebih baik keluar dari rumah ini!” ucap Japran.
Habsahab mewarisi sikap Japran! Japran sebagai kepala desa merasa dipermalukan oleh anaknya sendiri, pasca tetangganya melaporkan Habsahab tersungkur di tepi selokan dengan tubuh penuh muntahan. Ah, bukankah itu juga pernah dilakukan Japran berpuluh tahun silam? Sikap yang memalukan, dan pastri Japran masih mengingat kejadian itu. Esok paginya setelah Habsahab sadar dari tidur lelap, Japran semakin marah besar dan nyaris dihantam barang pecah belah. Menjadi nelayan adalah murni keputusan Habsahab. Ia tidak sekali pun mau memanfaatkan jabatan ayahnya sebagai kepala desa.
“Runtuh sudah harapan kami agar kelak kamu menjadi orang yang mengerti agama, Hab. Untuk apa kamu 6 tahun menuntut ilmu di pesantren, jika ini yang kamu berikan kepada kami, menjadi berandalan seperti ini. Untuk apa kamu kuliah sampai 5 tahun jurusan ekonomi islam jika seperti ini yang kamu berikan kepadaku. Ini balasan yang kamu berikan kepada kami? Semestinya kamu cari pekerjaan yang benar. Bukan menjadi nelayan ikut-ikut seperti kakekmu, sepertiku, atau teman-temanmu itu. Cukup kami saja yang merasakan perih garam lautan.”
“Mau kerja apa, Pak? Aku sudah berusaha, namun terus gagal.”
“Yasudah, kamu bantu saja aku di kantor desa.”
“Tidak, untuk apa? Apa kata orang nanti kalau anaknya hanya memanfaatkan jabatan anaknya?”
“Yasudah, hentikan mabuk-mabukanmu itu.”
“Aku mewarisi sikap ayah!”
“Kurang ajar kamu!”