Dalam bayangan Salimah sebelum adanya perjodohan itu; sewaktu-waktu ia yakin bisa kenal dan berbicara langsung dengan Habsahab. Tuhan maha baik, ia tidak hanya sebatas kenal. Ia berikan Habsahab sebagai jodohnya. Salimah dan Habsahab usianya sama. Bagi Salimah tidak masalah, ia ingin mendapatkan lelaki yang bisa membimbingnya menjadi lebih baik. Bagi Habsahab pun tidak masalah, ia sudah terlanjur mencintai wajah cantik Salimah.
Sudah tidak bisa ditebak kapan musim baik, atau musim buruk angin barat. Inilah waktu paling tepat bagi orang-orang nelayan untuk beristirahat—tidak bekerja dalam waktu beberapa hari, menunggu musim membaik dan benar-benar pulih. Tentu saja mereka takut dengan kematian. Bisa dibayangkan bagaimana terombang-ambing di atas hamparan laut dengan gelombang tinggi dan angin yang kencang tidak beraturan. Perempuan-perempuan yang berani mengambil keputusan bertaruh nasib di dada para lelaki nelayan adalah perempuan yang siap kehilangan. Kecemasan kerap mendidih selepas para suami selangkah keluar dari bibir pintu dengan membawa perbekalan untuk melaut.
“Kamu mau ke mana?” ucap Salimah kepada Habsahab.
“Aku mau lihat ke pelabuhan. Apakah ada perahu atau kapal besar datang. Barangkali aku bisa membeli ikan-ikannya, kemudian aku bisa jual kembali dengan harga yang lebih tinggi.”
“Larut seperti ini?”
“Iya, memang jam-jam seperti inilah mereka datang.”
“Kamu harus hati-hati, Habsahab. Suasana sedang tidak baik-baik saja.”
“Ah, tenang saja. Kamu tidurlah. Aku hanya sebentar.”
“Tapi aku takut.” Salimah merajuk.
“Tenang saja. Kalau aku tidak datang lebih awal, akan ada orang lain yang datang lebih dulu dan merebut jatah kita. Musim seperti ini kalau ada perahu yang datang, orang-orang pasti rebutan membeli ikan.”
Menderas sepasang bundar mata sipit Salimah. Setelah menikah, paceklik datang dan pergi. Kali ini Habsahab mencoba mencari peruntungan, kali saja ada kapal dari pulau datang membawa ikan-ikan. Kali ini kilatan-kilatan itu sudah tidak lagi tampak. Permukaan laut yang melingkar itu tampak semakin tenang. Tidak mendidih seperti biasanya. Namun angin masih terus menerus kencang, tak henti-henti.
Sebenarnya sangat berat bagi Habsahab menjadi nelayan, juga menjadi pedagang ikan-ikan. Di musim seperti ini adalah hari-hari paling berbahaya. Sementara dapur mesti mengepul setiap waktu. Habsahab tidak lagi bujang yang menggantungkan hidup di pundak Japran. Ia sudah berkeluarga dan mesti membahagiakan Salimah. Bukankah memang sejak awal Habsahab tidak pernah mau bergantung dengan ayahnya?
Sesampai pelabuhan, bulu kuduk Habsahab berdiri. Tubuhnya gemetar dan merinding. Pelabuhan sangat sepi, tidak ada perahu-perahu yang datang. Lautan tampak menghitam, menyeramkan. Dengan langkah pelan-pelan, Habsahab kembali pulang.
“Mengapa kembali?”
“Angin barat semakin parah, Salimah. Perahu Pak Torus pecah terbentur tanggul tepian laut. Terbelah menjadi dua.”
Pelan-pelan sudah ada tanggul yang hampir melingkar menutupi wajah pelabuhan dari arah lautan.
“Hah? Tanggul? Sejak kapan ada tanggul di pelabuhan?” ucap Salimah.
Habsahab menggelengkan kepala. Ia pun terkejut, bagaimana mungkin ada tanggul yang melingkar di laut yang tidak jauh dari pelabuhan? Bagaimana mungkin tanggul sudah berdiri dalam waktu tiga hari di saat orang-orang beringsut di dalam rumah? Siapa yang mendalagi? Belum ketahui secara jelas akan didirikan bangunan apa, dan siapa pelakunya. Tanggul-tanggul menjulang itu kokoh dan sangat kuat. Batu-batu besar yang menggunung. Pantai ini semakin hilang, yang ada laut semakin ke tengah dan semakin menengah.
“Ya, Tuhan. Tidak ada korban, kan?”