Semestinya Pulang Meredam Kecemasan

Aksan Taqwin Embe
Chapter #8

Delapan

Wak Lim—Ayah Salimah kerap memandangi langit yang perlahan muram. Ia sangat betah duduk di teras rumah hingga langit semakin tampak gelap. Ia bisa melakukan hal itu berhari-hari sendirian dan secara berulang-ulang. Ya, kadang istrinya turut menemani sebentar setelah ia menaruh kopi dan kue atau gorengan di atas meja. Mereka sudah semakin menua, dan hanya hidup berdua menjalani masa-masa lansia.

Akhir-akhir ini Wak Lim diburu kegelisahan. Setiap malam ia tidak bisa tidur, atau hanya tidur dua jam. Setelah itu ia akan memikirkan bagaimana kondisi dan suasana laut yang semakin lama semakin memburuk. Pelabuhan semakin sepi. Ia pandangi dari kejauhan perahu orang-orang yang terombang-ambing gelombang lautan bercampur angin. Ia teringat dengan menantu dan anaknya. Dari beranda rumahnya, ia bisa melihat sangat jelas hamparan laut. Ia melihat langit yang muram seperti menyatu dengan laut yang menghitam. Akhir-akhir ini ia menjadi pendiam dan selalu murung. Barangkali musim timbul dan tenggelam ini memang menebar kegelisahan ke seluruh warga. Ia duduk menatap laut hingga jauh, jauh sekali. Ia teringat ketika ia dan kawan-kawannya hampir mati ditelan ombak. Beruntungnya ia masih hidup, sehingga perahunya bisa sampai menuju ke pelabuhan. Setelah itu ia urungkan dan matangkan niat sebelum memulai berlayar di musim-musim pancaroba dan paceklik.

Sayup-sayup azan magrib terdengar berkejaran di kejauhan dari kampung sebelah. Ia teringat dua puluh delapan tahun yang lalu, ketika ia ditemani Japran—kepala desa terpaksa menerobos hutan, jalan terjal menuju kota dengan mobil operasional kecamatan. Rumah sakit hanya ada di kota itu. Jarak dari kampung ini ke kota memakan waktu 1 sampai 2 jam. Menerobos hutan belantara, jalan-jalan berlubang, rumah-rumah dinas pemerintahan yang kosong ditinggalkan. Di sekitaran rumah inilah di setiap malam kerap terjadi kejahatan—begal, rampok, dan pembunuhan yang tidak diketahui asal muasalnya dan tidak pernah tertangkap siapa pelakunya. Sehingga rumah-rumah dinas itu tak lagi dihuni, dan ditinggalkan begitu saja. Penembak-penembak yang misterius, tubuh-tubuh bertato yang mati secara mendadak dengan mulut berbusa, muka lebam, pelipis berdarah menjadikan suasana semakin mencekam. Tubuh-tubuh yang bergelimpangan dalam kondisi yang bermacam-macam. Sudah tidak ada lagi orang-orang bertato keliaran di jalanan. Bahkan sudah tidak ada lagi orang-orang yang dengan gagah-gagahnya menunjukkan tatonya di sekujur tubuh. Tapi jalanan itu masih sepi, masih sangat sepi… .

Semula orang-orang berpikir mungkin ada pemburu hewan-hewan buas yang salah sasaran menggunakan senapan. Ternyata tidak! Itu memang pembunuhan yang sangat direncanakan. Membunuh orang-orang yang dianggap meresahkan dan berbuat kejahatan. Tidak ada tanda-tanda terlebih dahulu, atau peringatan. Sehingga mereka tanpa mempersiapkan dan tanpa ada penghindaran.

“Semestinya perjalanan kita aman, Pran.” ucap Wak Lim.

“Semoga saja.” Japran menjawab.

Wak Lim dan Japran menerobos hutan dengan wajah muram, melawan ketakutan. Ia terpaksa membawa istrinya ke kota, sebab bidan rumahan bahkan dukun bayi sudah tidak sanggup, katanya. Harus operasi, sebab ketuban sudah pecah. Betapa paniknya Wak Lim ketika istrinya sudah lemas dengan ketuban yang berceceran di atas kursi, merembes ke tanah. Ia langsung membopong ke atas dipan, kemudian berteriak meminta tolong kepada warga. Siapa pun yang mendengar, ia tak peduli. Terpenting ia mendapatkan pertolongan.

Langit sudah sangat pekat. Kali ini Wak Lim tidak menjadi imam di musala. Ia memandang langit-langit atap rumah, ia membayangkan bagaimana rupa anaknya nanti ketika lahir. hidup atau mati ia sudah pasrah. Dalam bayangan itu pula ia merapal doa dalam-dalam agar anaknya lahir tanpa kekurangan apapun. Menjadi kiai, guru ngaji, bagi Wak Lim tentu sangat berat rasanya. Ia membayangkan bagaimana anaknya lahir nanti, kemudian tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan, atau menjadi omongan masyarakat. Melakukan hal-hal yang menyimpang. Ia takut suatu hari nanti anaknya tidak mampu mewarisi apa yang ia miliki; menjadi ahli agama dan memiliki martabat yang baik. Ah, pikirannya menderas ke mana-mana, bermacam-macam bentukannya.

“Kamu pakai mobil ini saja, Wak. Solar penuh, tak perlu kamu pikirkan. Aku ikut membantumu.”

“Apakah tidak merepotkanmu, Pran?”

“Tidak, Wak. Aku tahu betul apa yang Wak Lim rasakan. Meski kamu tahu bahwa kami tak kunjung dikaruniai anak, bukan?” ucap Japran mengangkat jidat dan mata.

Sewaktu itu, sebenarnya ia bisa saja menolak tawaran dari Japran untuk memakai mobil itu. Sebentar lagi jabatan ia sebagai kepala desa selesai, dan akan diadakan pemilihan kembali. Wak Lim sudah curiga sebenarnya, namun karena ia benar-benar membutuhkan pertolongan, maka dengan terpaksa ia menerima. Ah, lagi pula percuma jika ia terus curiga, bukankah menjadi kepala desa ini warisan dan tidak akan tergantikan sampai kapan pun? Japran menjadi kepala desa warisan dari ayahnya sebelum meninggal. Meskipun sebenarnya di awal-awal menjadi nelayan hanyalah semacam topeng belaka. Di periode-periode berikutnya tentu Japran yang selalu menang dalam pemilihan kepala desa kembali. Tidak ada batasan, dan akan kekal sampai kapan pun. Pemilihan hanyalah normatif, dan pasti pemenangnya adalah dirinya. Tidak pernah terbuka, siapa pun yang bersuara dan memberontak, ia akan lenyap esok paginya.

“Aku tidak peduli siapa pun kepala desanya, yang penting hidup kami makmur. Semuanya tercukupi. Ketika laut diserang angin barat seperti ini, kami selalu mendapatkan bantuan dari koperasi unit desa.” ucap salah satu warga sambil mengikat benang dan kail, kemudian ia masukan ke dalam kaleng besar.

“Iya, benar. Rasa-rasanya Japran sudah sangat baik menjadi kepala desa. Desa kita menjadi aman dan tentram. Semua kebutuhan tercukupi. Meski pun ia keras ketika berbicara, atau bisa melakukan apa saja kepada siapa pun yang tidak ia sukai, namun segala kebutuhan kita tercukupi. Yang perlu kita lakukan adalah waspada dan jaga bicara. Kebaikannya ini sudah kami lihat semenjak ia mengangkat anak dari perempuan bisu hasil pemerkosaan itu.” ucap warga yang lain.

“Hush, tutup mulutmu. Sudah, jangan keras-keras. Bahaya! Kita tetap waspada. Terpenting bagaimana kita bisa menunjukkan kepada Japran bahwa kita berpihak kepadanya, dan selalu baik-baik saja dalam kepemimpinannya.”

“Iya, kamu benar.”

Wak Lim tahu betul bagaimana karakter Japran. Di balik kelicikan, Japran memiliki hati yang baik. Tentu kebaikan itu sangat tulus, dan Wak Lim bisa melihat dengan jelas. Kalau tidak, mana mungkin Japran menolongnya. Eh, tapi bukankah Wak Lim juga orang yang terpandang dan dihormati setelah Japran? Segala keputusan pun bermuara ke Wak Lim untuk meminta pertimbangan, bukan? Wak Lim menjadi tetuah yang sangat dihormati. Lantas apakah keduanya saling diuntungkan dan saling memiliki kepentingan?

Orang-orang menyayangkan kehidupan Wak Lim yang kerap kesepian bersama istrinya tanpa anak. Di saat orang-orang di usianya melakukan sesuatu dibantu anaknya, ia lakukan dengan sendirinya. Mangkanya, orang-orang menjadi heran dan tersentak, sekaligus bahagia ketika mendengar di usia Wak Lim ke 43, ia baru dikaruniai keturunan.

Mereka tiba di rumah sakit. Mendaftar di ruang registrasi, dan menunggu mendapatkan kamar. Istri Wak Lim sudah terbaring di atas dipan roda. Kasihan, ia sudah mengerang nyaris empat jam.

“Alhamdulillah, kita telah sampai, Imah.”

Istrinya mencoba meredam rintihannya. Pelan-pelan ia menarik napas, kemudian mengembuskan. Dalam hatinya sudah tumbuh bunga-bunga, dan siap merekah. Akan ia tanamkan di beranda rumah kemudian diberikan lampu yang menyala setiap malam. Wak Lim akan mendengar suara tangisan bayi setiap hari, membangunkan tidurnya, dan tentu hari-harinya tak akan kesepian lagi. Sebab sebentar lagi jabang bayi akan hadir dari rahim istrinya.

“Kita namai siapa anak kita, Lim?” tanya istrinya.

Wak Lim tak habis pikir, bisa-bisanya ia menanyakan itu kembali di saat ia merintih kesakitan. Padahal sebelumnya di trimester kedua sudah didiskusikan dan sepakat perihal nama anaknya. Perasaan Wak Lim sudah tidak enak, pasti akan ada pertengkaran kembali setelah ini.

Lihat selengkapnya