Tengah malam di saat orang-orang terlelap, warga kampung riuh menyebar. Kejadian seperti ini kerap terjadi berulang-ulang, hampir dua kali dalam setahun. Dua rumah yang jarakanya selisih sekira 50 meter terbakar. Beberapa rumah dilempari kotoran manusia, air seni, dan batu hingga beberapa kaca jendela pecah berkeping-keping. Orang-orang keluar dengan tubuh menantang. Bagi mereka dengan pasang badan menjadi sebuah pertaruhan nyawa masing-masing; antara hidup dan mati saat itu. Tapi sayang tidak diketemukan siapa pelakunya dan siapa menjadi dalangnya. Mereka beraksi di saat orang-orang terlelap. Setelah itu mereka hilang secepat kilat.
“Bajingan!” ucap Japran.
Sedari dulu Wak Lim selalu berpihak dengan warga, sebagai jembatan ke siapa pun, bahkan ke kepala desa sekali pun. Tujuannya adalah segala harapan masyarakat desa tercapai. Namun sayang, kadang beberapa warga termakan fitnah. Mereka justru menganggap apa yang dilakukan Wak Lim hanyalah sebuah kepentingan yang tak lain sebagai kebaikan dirinya. Alhasil masyarakat kadang melakukan hal-hal frontal dan menanggalkan rasa luka yang mendalam. Pandangan yang dilandasi kecurigaan-kecurigaan terhadapnya.
“Aku melihat ada orang memakai baju serba hitam, berlari ke arah utara, Wak.” ucap salah satu warga di antara sekumpulan warga.
“Berapa orang?”
“Dua orang.”
“Dua orang?”
“Iya, Wak.”