Malam minggu kedua di bulan Februari 1998 angin sedikit reda, tapi udara sangat dingin menusuk-nusuk, ngilu di sekujur tubuh sampai tulang. Ombak-ombak tidak sebesar hari-hari sebelumnya. Daun-daun kering pohon siwalan di belakang rumah yang jaraknya sekira seratus lima puluh meter di sisi kali kecil yang melingkar telah berguguran. Habsahab dan Salimah pun merasa bahwa malam itu jauh lebih dingin dibandingkan hari-hari biasanya. Sesekali burung hitam bermata hitam bertengger di pohon-pohon itu mengeluarkan bunyi yang sangat menakutkan. Suara burung-burung itu terkadang dipercaya sebagai penanda pembawa berita buruk; bencana atau kematian. Burung itu berbunyi secara berulang-ulang.
“Udara malam ini sangat dingin, Sal. Tapi coba kamu lihat, gelombang itu tak begitu besar dari biasanya. Ombak-ombak tak semencekam kemarin-kemarin. Sepertinya paceklik akan segera pulang ke peraduan. Tapi entah kapan. Rasanya aku ingin di rumah saja bersamamu, mendekapmu erat-erat.” Habsahab memanja, memegang tangan Salimah. Mereka berpelukan seerat-eratnya.
“Apakah kamu bahagia bersamaku, Hab?” lirih Salimah.
Kening Habsahab mengernyit, ia diam sejenak dengan menempelkan bibirnya di pundak Salimah. Perlahan ia memejamkan mata, dalam pejaman itu ia merasa tubuhnya terlepas dari ruhnya. Berputar-putar di kepala Salimah. Kemudian mencoba membaca kembali-menafsirkan kalimat Salimah, dan akan ada kalimat apalagi setelah ia menjawab. Ia mencoba diam sejenak, tidak ingin menjawab hingga akhirnya Salimah melepaskan pelukannya, kemudian mengulang kalimat yang sama.
“Tentu saja aku bahagia. Mengapa kamu mendadak mengatakan kalimat itu?” ucap Habsahab.
“Mengapa kamu tak langsung menjawab? Mengapa diam terlebih dahulu?”
“Aku kaget saja dengan pertanyaan-pertanyaanmu yang selalu mendadak.”
“Aku takut ketika kamu tidak di rumah. Aku selalu merasa panik dan cemas. Aku ingin kamu tak lagi menjadi nelayan. Laut sudah tidak baik-baik saja. Laut sering menelan korban. Laut sudah dikeruk, dikelilingi tanggul-tanggul. Mau dari mana lagi kamu berangkat berlayar? Turutilah kata-kataku. Turutilah!”
“Baiklah, Salimah. Bersabarlah, ya, sayang.”
“Sampai kapan mesti sabar terus-terusan begini?”
“Lantas mau bagaimana lagi?”
Salimah diam, ia menyimpan rapat-rapat kegelisahan melalui matanya. Setelahnya kepalanya mengangguk pelan. Seharian ini ia merasa kelelahan mengurusi jabang bayi yang masih berusia dua minggu. Rutinitas itu dilakukan setiap hari secara berulang-ulang. Habsahab tahu betul dan bisa merasakan apa yang dirasakan istrinya. Sebagai lelaki Habsahab tidak pernah menuntut menjadi suami yang selalu dilayani. Ia mampu memperlakukan istrinya dengan baik seperti ratu. Padahal percakapan-percakapan seperti ini sudah sering dilakukan oleh Salimah. Sudah disepakati bersama. Habsahab pun tidak pernah lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan dadakan yang dilontarkan istrinya dengan penuh kesabaran. Hem, kalimat-kalimat yang diucapkan istrinya itu biasanya muncul dan baru bisa diucapkan setelah anaknya terlelap. Ia merasa ingin disayang dan dimanja. Saat ini mereka memiliki waktu bicara hanya di saat anaknya sudah tidur. Selebihnya mereka disibukkan dengan tangisan-tangisan rewel anaknya yang membuat ruang kamar menjadi lebih hidup.
“Sudah terlelap dua jam yang lalu.” bisik Salimah.
Habsahab mengusap-usap rambut, kemudian mengecup kening Salimah. Habsahab memejamkan mata, di dalam bayangannya ia kembali ke masa lalu, bagaimana tubuhnya yang jatuh bangun, terbentur, terlempar pahitnya kehidupan dengan ombak-ombak yang mencekam. Terkoyak-koyak dan babak belur oleh karang.
***
Pelabuhan semakin sunyi, tak seramai biasanya. Gardu-gardu kosong, lampu-lampu padam. Barangkali orang-orang memang lebih memilih diam di rumah saja; tidur di samping istrinya, menemani anak-anaknya. Musim seperti ini memang tak pernah habis untuk diceritakan. Banyak cerita-cerita aneh dan mencekam datang secara tiba-tiba. Bagi orang-orang seperti mereka, yang tinggal di sekitaran pesisir dengan suguhan udara kencang, sudah lumrah dirasakan. Sebab mereka ingat dengan kata orang-orang pesisir pantura—menjadi nelayan harus siap berbantal ombak, berselimut angin, terbentur karang. Tidur di atas jaring, pukat, tanpa penutup kain di tubuh pun sudah menjadi biasa-biasa saja. Kulit tebal pada telapak tangan, kaki, dan tubuh sudah kebal ketika angin menerpa-nerpa. Jarang sekali ditemukan nelayan sakit masuk angin atau terserang jantung dan atau angin duduk.
Di tengah laut mereka bisa tahan kehujanan tanpa baju, kepanasan, meski mereka hanya mengenakan celana dalam dan telanjang dada. Pemandangan itu sudah biasa dilakukan orang-orang nelayan di pesisir ini. Mereka menyalakan musik dangdut koplo dengan sepiker besar dan volume sekencang-kencangnya sembari bekerja. Mereka bekerja sambil menggerak-gerakan tubuh mengikuti irama musik yang dar der dor. Di atas boks besar, mereka bisa manari-nari seperti biduan di atas panggung. Tak menghiraukan siapa pun.
Sudah lama kilatan-kilatan puluhan tahun yang kerap dilihat oleh Japran dan Sloki tidak bermunculan secara cepat seperti dulu. Paling-paling bisa dihitung dengan jari, setahun dua atau tiga kali. Tapi hari ini kilatan-kilatan itu muncul kembali dengan sangat cepat. Kilatan-kilatan ini lebih tajam dan tebal. Seperti biasa, setelah kemunculannya ia akan masuk ke dalam laut yang dilingkari tanda peringatan. Habsahab dan Loi merasa itu biasa saja, tidak takut sama sekali. Sebab ia sudah pernah mendengar cerita-cerita itu. Pada akhirnya mereka meyakini itu hal menjadi lumrah. Sudah tidak lagi menakutkan. Mereka sudah tidak menganggap lagi bahwa itu sebuah peringatan bencana atau malapetaka seperti keyakinan ayah atau kakeknya.
“Satu hal yang mengejutkanku, Hab, mengapa kamu memutuskan menjadi nelayan, Hab? Kamu satu-satunya anak yang sarjana di kampung ini, orang yang terpelajar. Bukankah itu mengecewakan ayahmu? Sudah bayar mahal, tetap saja jadi nelayan. Ditambah kamu anak kepala desa, mengapa tidak bekerja bersama ayahmu saja.” ucap Loi—kawan Habsahab.
Loi kawan nelayan yang cukup berani dan tangguh. Ia sangat murah hati. Ketika ada masalah datang, ia dengan cepat mampu menyelesaikan dan bijak dalam melakukannya secara perlahan. Loi tamatan SMA yang terpaksa bekerja sebagai nelayan. Memang sangat bedebah orang-orang yang memiliki kekuasaan di kampung ini. Pelabuhan yang sangat besar, kantor-kantor berdiri menjulang, ada pabrik pengemasan ikan, namun tak ada lapangan pekerjaan sedikit pun untuk pribumi. Sehingga orang-orang memutuskan menjadi nelayan. Para pekerja dipenuhi dari kota-kota lain.
Sejak kecil Loi hidup bersama ibunya. Ayahnya meninggal karena tenggelam di lautan. Konon ayahnya keturunan Tionghoa Gorontalo. Dulu ia datang ke kampung ini untuk menjual ikan-ikan. Ketemu ibunya Loi kemudian menikah. Pada akhirnya ayahnya memutuskan menetap di kampung ini, hingga memutuskan menjadi nelayan. Ah, tidak begitu jelas atau secara detail bagaimana ceritanya, namun di akhir Desember di usia Loi 3 tahun, ayahnya pergi meninggalkannya selama-lamanya. Sampai Loi dewasa, ibunya tidak mau menikah lagi.
“Aku tidak peduli.” Habsahab menahan emosi.
“Apa yang kamu harapkan?” nadanya meninggi sambil membuka telapak tangan.
“Dapurku perlu menyala, agar tetap mengepul. Kalau tidak inisiatif kerja seperti ini, lantas mau kerja apa? Anak dan istriku perlu makan kenyang. Hidup sehat. Membelikan baju yang pantas. Kamu lihat lapangan pekerjaan di kota ini? Sungguh sangat memprihatinkan. Sekali pun aku tak mendapatkan tempat kerja yang layak meski memiliki titel sarjana. Sudah berkali-kali aku melamar ke perkantoran pelabuhan, perusahaan pengepakan ikan, pabrik rokok, tak ada satu pun yang menerima.”
“Alasannya?”
“Tidak bisa membayar pegawai lulusan sarjana.”
“Bisa begitu, ya”
“Ya, bisa saja. Aku rasa mereka bohong. Justru yang kita lihat pegawai-pegawai itu dari luar kota. Lulusan SMA atau sarjana banyak sekali.”
“Brengsek sekali mereka. Bukankah awal mula mereka mendirikan perkantoran, pabrik, atau perusahaan itu dengan janji akan memperkerjakan orang-orang sekitar sini? Mereka sudah bohong. Sangat wajar kalau kita marah dan membakar kantor mereka.”
“Jangan gegabah. Semua itu tidak akan mungkin berjalan kalau tidak ada kesepakatan antara pejabat penting perusahaan dan pemangku kebijakan. Ah, itu mungkin janji puluhan tahun yang lalu. Itu sudah tidak berlaku.”
“Pemangku kebijakan? Siapa?”
“Siapa lagi kalau bukan perangkat desa, atau petinggi-petinggi daerah yang busuk.”
“Hah? Ayahmu dong? Aku heran dengan kerakusan dan kedunguan mereka.”
“Sejauh ini ayahku justru hanya sebagai alat. Ya, begitulah. Itulah mengapa pada akhirnya aku lebih memilih menjadi nelayan saja,” Habsahab pasrah. Matanya merah, napasnya tersengal-sengal, “Bahkan kali di pinggiran pasar sekitar kampung yang airnya bermuara ke laut itu tak pernah sekali pun dibereskan. Sampah-sampah dan runtuhan bambu-bambu dari pinggiran kali menumpuk. Sehingga ketika hujan sebentar saja, pasti airnya meluap ke perkampungan, membanjiri jalanan hingga masuk ke rumah-rumah.” sambungnya.
“Memang bedebah semua! Hab, mengapa kamu tak meminta ayahmu saja? Meminta pekerjaan ke ayahmu? Itu lebih terhormat martabatmu.” Loi menegaskan kembali.
“Maksudmu apa?”
“Ya, secara ayahmu memiliki kekuasaan yang besar terhadap desa ini, Hab. Ia juga bisa menaruh kamu ke perusahaan-perusahaan itu.”
“Tidak. Aku tidak mau bergantung kepadanya. Aku tidak mau menjadi tumbal pelurusan kepentingan.”
“Tapi minimal itu menjadi jalan menafkahi istrimu lebih lancar dan lebih baik, Hab,” ucap Loi dengan wajah serius. “Kamu tahu, kalau saja sampai mereka menolak, bisa ditutup operasional itu perkantoran atau apalah itu. Kayaknya mmereka tidak tahu bahwa kamu anak Japran saja.” sambungnya.