Semestinya Pulang Meredam Kecemasan

Aksan Taqwin Embe
Chapter #11

Sebelas

Jika orang-orang disuruh memilih, memutar waktu untuk menerima kondisi saat itu, mereka akan mempersiapkan segalanya. Menaruh beras-beras ke lumbung, menyimpan ikan-ikan kering, menanam cabai atau bawang. Jika mereka bisa berbalik arah, tak akan ada lagi pukat-pukat bertebaran di tengah laut. Tidak akan ada lagi keserakahan atau baku hantam. Tapi nyatanya orang-orang sudah lebih dulu berbalik dari semua itu. Bisa jadi mereka menyesal, menyesal sesaat, atau tidak sama sekali?

Hingga saat 30 Maret 1998 sepertinya ini adalah paceklik yang lumayan panjang yang tak berkesudahan. Timbul tenggelam. Tidak ada lagi yang bisa menujum kapan ikan-ikan akan bermunculan dan rela tubuhnya terangkat oleh kail atau jaring para nelayan. Atau pukat bagi nelayan yang kepalanya seperti batu. Serakah dan egois.

“Goblok mereka! Padahal aku sudah sering mengatakan, menggunakan pukat akan merusak terumbu karang. Ikan kecil-kecil yang seharusnya kita biarkan, kita rawat untuk kita tangkap di minggu-minggu, atau bulan-bulan berikutnya ikut terangkat semua.” ucap Habsahab.

“Mereka itu pendatang.” Loi meredam.

“Tidak mungkin sekadar pendatang. Mana mungkin pendatang bisa dengan mudah melakukan hal itu kalau tidak ada yang melindungi atau mengendalikan!”

“Maksud kamu?” Loi mendelik.

“Kamu tentu tahu sendiri bagaimana orang-orang biadab yang perlahan membuat kampung ini menjadi kacau, dan membuat masyarakat menjadi semakin menderita. Mendirikan tanggul-tanggul tanpa kesepakatan warga.” Habsahab geram.

Sudah berkali-kali warga diimbau, jangan pernah menggunakan pukat, karena bisa merusak seluruh terumbu karang hingga dasaran laut. Sebab pukat dilempar dalam kondisi perahu-perahu melaju dengan kecepatan tinggi. Ketika sudah terisi dan dirasa sudah sangat berat, tali yang mengikat pukat itu, orang pantura sini menyebutnya akan ditarik dengan gir mesin gardan dari dua sisi. Tapi mereka tak peduli itu. Masih saja keras kepala menggunakannya. Dasar tolol! Tidak memikirkan bagaimana nasib anak cucunya kelak. Orang seperti ini biasanya kehidupannya sering digeluti masalah dan keresahan. Tidak akan pernah bahagia, sebab merasa kurang, kurang, dan kurang.

Prediksi musim sering meleset, angin dan gelombang masih menyerbu dan semakin mencekam. Siapa yang siap menanggung gelombang, dan menahan tubuhnya agar tidak diterpa angin lautan? Sepertinya orang-orang sudah mulai bosan berada di rumah. Perempuan-perempuan yang mulai cemas karena persediaan dapur sudah perlahan habis. Bantuan-bantuan dari Japran kini bersyarat; perempuan mesti janda, lelaki harus mengikuti atau mendukung apa yang dipinta, maka seluruh kebutuhan akan aman. Habsahab sendiri tidak tahu akal bulus ayahnya. Termasuk perizinan para nelayan yang menggunakan pukat. Yang ia tahu sejauh ini ayahnya bisa baik kepada siapa pun, memberikan bantuan secara cuma-cuma. Tanpa embel-embel kepentingan atau pamrih.

Lantas perempuan-perempuan itu akan meminta dengan paksa kepada suaminya untuk mencari pekerjaan lain. Pekerjaan sampingan selain melaut. Jasa cuci motor, pelayan warung kopi, kuli bangunan, tukang parkir, atau apalah yang penting menghasilkan. Atau mereka dengan sangat terpaksa menjadi kuli atau pengatur jalan dalam pengerukan pasir. Sial sekali, meluruskan kejahatan yang seharusnya dihentikan di tanah sendiri. Semua perizinan itu melalui Japran.

“Jangan pernah coba-coba melaut, jika tak ingin mati dengan sia-sia, dan istri menjadi janda.” ucap perempuan dari kejauhan kepada suaminya.

Setelah percakapan itu pasti ada saja perdebatan, pertengkaran, sebab tak jarang suaminya yang pemalas akan menolak untuk mencari pekerjaan lainnya. Mereka merasa dalam kondisi seperti itu adalah waktu yang tepat untuk istirahat. Mensyukuri apa yang diberikan oleh alam, semesta, dan Tuhan, meski kelaparan tidak memiliki uang.

Kaleng-kaleng bekas berserakan di jalanan. Kaleng minuman bersoda, kaleng sarden, kaleng cat. Entah bagaimana semula kaleng-kaleng itu bisa berserakan di jalanan. Sebanyak itukah orang-orang gandrung dengan makanan atau minuman berkaleng? Bagaimana mungkin kaleng-kaleng itu bisa berserakan di jalan-jalan sementara ada tempat sampah di sudut-sudut rumah? Membuang sampah tidak seperti berpikir dan berbicara. Di sanalah letak di mana orang-orang menaruh hati dan pikiranya. Jarak titik tempat; dua atau ke lima meter akan ada kaleng minuman bersoda atau cat dalam kondisi yang sudah diremas. Seharusnya urusan seperti ini sudah mampu ditangani Japran sebagai kepala desa. Anak-anak muda kerap mengoplos minuman bersoda dengan minuman lain, arak, susu kental manis, atau dengan beberapa butir obat sakit pinggang yang sudah dihaluskan. Mereka akan menenggak secara bergantian, bergilir searah jarum jam dengan duduk melingkar. Satu persatu mereka akan tumbang. Kaleng-kaleng itulah yang kerap menjadi hiasan di depan rumah. Gemericing tertiup angin. Membawa kabar bahagia, atau malapetaka. Sialnya, sejauh ini belum ada juga kabar bahagia.

***

Alat-alat berat sudah datang lebih dulu ketimbang surat perizinan tertulis pengerukan tanah. Semua ini tanpa diketahui atau perizinan oleh warga. Ini sangat meresahkan! Mustahil! Bagaimana mungkin mereka datang lebih awal tanpa kesepakatan? Mengapa hal seperti ini sangat mudah terjadi? Habsahab ingin muntah dengan segala omong kosong atau janji manis yang diberikan oleh orang-orang pemangku kebijakan atau pejabat dalam proyek yang dirasa ia anggap ilegal. Mudah sekali mengelabuhi masyarakat dengan dalih bantuan sembako dan uang atas musim paceklik.

Tiba-tiba suara-suara lantang masyarakat—nelayan yang tadinya seluruh amarahnya meledak-ledak, sangat menolak dan menuntaskan keadilan tentang pengerukan dan reklamasi, menjadi berbalik pandang dengan suara lemah yang mendukung dan melurusan aksi ini. Mereka dengan rela menjadi kuli pengerukan pasir yang seharusnya tanah ini mereka rawat dan jaga. Tidak ada perlawanan lagi atau suara meminta keadilan. Sebab yang mereka butuhkan saat ini adalah bahan dapur tercukupi, segalanya terpenuhi. Bukan lagi idealisme-idealisme tai kucing. Seluruh kebutuhan mereka sudah sangat jauh dari cukup.

Tidak ada yang tidak mungkin terjadi jika seseorang di dalam setiap usahanya memiliki kedekatan dengan penguasa. Semuanya akan berjalan mulus dan baik-baik saja. Pasir-pasir laut sudah dikeruk lebih awal dari perjanjian antara kontraktor, investor, pejabat daerah dengan Japran sebagai kepala desa. Pasir-pasir sebagian diangkut entah kemana, sebagiannya lagi untuk reklamasi dan pelebaran pelabuhan. Mereka juga mendatangkan batu-batu besar dari luar untuk menguruk lautan.

Dalam peristiwa kali ini Japran tidak melibatkan Wak Lim. Wak Lim sudah semakin menua, dan beberapa kali sudah lupa dengan kisah-kisah, bahkan nama orang-orang di sekitarnya. Ia sudah sangat tidak berdaya dengan urusan-urusan seperti ini. Ia sudah terserang demensia ringan. Japran tidak bisa berbuat apa-apa, sementara kontraktor sudah bersepakat dengan pemerintah daerah.

“Perizinan tidak perlu lagi melalui kamu. Kamu cukup mengiyakan saja. Tidak perlu menolak, apalagi memberontak. Beritahu wargamu, seluruh bahan dapur dan urusan sehari-hari aman. Perizinan ini sudah kami kantongi dan mendapatkan tanda tangan dari Bapak Los—penguasa tinggi—pemerintah pusat melalui tembusan pemerintah daerah.”

Japran bungkam. Dalam pikirannya percuma juga jika ia menolak, yang ada ia akan dihabisi dan tidak akan mendapatkan apa-apa. Lebih baik mengiyakan, tinggal menerima komisi dari uang tutup mulut. Dengan begitu, ia akan aman. Dengan begitu ia juga bisa menyunat dana-dana yang ia dapatkan untuk seluruh warga. Lagi pula bukannya orang-orang—penguasa dan jajarannya di daerah pun berpura-pura tidak mengetahui apa pun yang terjadi di kota ini juga, kan? Mereka pasti berpura-pura bodoh, atau memang benar-benar bodoh? Tugas Japran hanya menyampaikan ke masyarakat bahwa akan ada ganti rugi uang kebersihan dan atau ganti rugi rasa ketidaknyamanan. Tanah dan rumah-rumah mereka masih aman, tidak akan tergusur. Orang-orang bajingan itu memberi uang keamanan saja, dan itu dirasa lebih dari cukup.

“Siapa yang sekiranya bisa kita pekerjakan dalam hal ini.” ucap Wandi pimpinan daerah sebuah partai.

Bisa-bisanya dalam peristiwa ini disusupi politik, pemimpin partai ikut terlibat. Bagaimana mungkin pemimpin partai bisa masuk kampung, menembus ke kepala daerah bersama para bajingan-bajingan itu. Orang-orang bisa dengan mudah menghalalkan segala cara, mengambil bagian masing-masing dalam kondisi susah seperti ini.

“Loi sepertinya cocok.” tegas Japran.

“Jangan, dia berbahaya. Dia, kan mantan wartawan!”

“Justru karena dia berbahaya dan mantan wartawan, bisa kita perdayakan. Ia bisa kita bayar berkali lipat dari gaji ia menulis berita untuk menimbun akses berita lain. Kita buatkan media baru, kemudian memberitakan yang baik-baik saja. Hal paling penting adalah jangan sampai soal pengerukan tanah ini terdengar di media secara legal dan kesepakatan masyarakat.”

Japran meyakinkan Wandi. Selama ia menjadi kepala desa, ini adalah sifat kelicikannya yang ke ribuan kali. Uang membutakan dirinya. Di depan Wak Lim ia bisa menjadi sangat baik, di belakang Wak Lim ia bisa saja menjadi pribadi yang sangat licik. Wak Lim sudah paham akal bulus Japran sejak dulu. Menjadi kepala desa dengan masa yang tak tergantikan saja sudah terbukti kelicikan-kelicikannya. Apalagi keturunan sebelumnya.

Sepertinya kali ini ia benar-benar berbelok dengan komitmennya. Ia sudah tidak lagi pro dengan warga lantaran dijanjikan uang yang menggiurkan. Ditambah lagi untuk apa ia menolak atau mencegah, toh ini adalah keputusan yang datang langsung dari pemerintah daerah. Selebihnya ia sudah tidak peduli bagaimana nasib warganya setelah ini. Selagi semua beruntung dan menghasilkan uang, seluruhnya dibabat habis. Akal bulus Japran adalah tidak menghentikan sumbangan dan bantuan untuk warga. Ia tetap menyebarkan ke tangan-tangan yang tepat sasaran. Japran memang bajingan, sebisa mungkin ia bisa menutupi semua kebusukan.

“Kamu yakin?”

Lihat selengkapnya