Wak Lim harus minum obat sakit pinggang minimal dua butir sebagai suplemen tubuh setiap harinya. Lantas setelahnya matanya kabur, kepalanya geliyengan, dan berhalusinasi menjadi kaya raya, kemudian ngomong ngalor-ngidul. Namun itu tidak bertahan lama, setelahnya semua akan kembali menjadi normal, kemudian tubuhnya akan terasa lebih segar. Semua ia lakukan hanya agar bisa menemani istrinya begadang untuk menidurkan anaknya saja. Atau anaknya yang tiba-tiba terbangun karena popok basah, anak yang harus disusui. Anaknya memang selalu rewel setiap malam. Sehingga mereka mesti begadang, dan merasa tidurnya tidak tercukupi.
Suatu kali, Wak Lim pernah berpikir bagaimana caranya agar bisa mencukupi seluruh kebutuhan, uang banyak, kemudian bisa menikah lagi seperti teman-temannya. Hasrat menikah lagi justru di usia yang sudah menua. Itu pun terbawa omongan kawan-kawannya. Padahal Wak Lim lelaki yang baik, romantis, namun penakut kepada istrinya. Ah, rasanya setiap lelaki akan berkelit bukan penakut, lebih tepatnya berupaya menghargai keputusan-keputusan istri. Di dalam bayangannya, ia sendiri bingung mengapa hasrat ingin menikah lagi setelah diberikan keturunan? Ah, puber kedua, ketiga, atau apalah ini.
“Aku rasa mestinya kamu harus menikah lagi, Lim.” ucap Abdul—Wak Dul kawannya sewaktu itu.
Wak Lim diam, ia tidak mau lagi banyak bicara atau berurusan dengan Wak Dul yang dikenal tukang kawin itu. Jika berbicara dengannya yang dibahas hanyalah seputar perempuan, ranjang, dan kawin saja. Selain piawai menyampaikan nasehat-nasehat, ilmu kebaikan, atau mengajar ngaji juga, Wak Dul pun dikenal sering menikahi janda, dan bahkan gadis untuk dijadikan istri-istrinya. Kali ini istrinya sudah tiga. Dua istrinya diceraikan sebelum ia menikahi perempuan lain sebagai istrinya yang ke sekian. Semestinya enam. Satu meninggal, dua lagi diceraikan. Yang tidak habis pikir oleh Wak Lim adalah istri mereka tinggal dalam satu rumah dan rukun semua. Dari sanalah Wak Lim terbesit dan memiliki keinginan menikah lagi. Tapi apalah daya, apalah daya…
“Setiap istri memiliki rezeki masing-masing, Lim. Semakin banyak istrimu, maka rezekimu akan semakin berlimpah datang kepadamu. Kalu kamu mau, aku bisa mengajarkan kalimat-kalimat mujarab.” Tambahnya sambil terkikih.
Wak Lim menarik napas dalam-dalam, kemudian menghempaskan sambil menggelengkan kepala. Sebenarnya ia ingin tidak menghiraukan ucapan Wak Dul.
“Ah, jangan bercanda kamu, Dul.”
“Ini serius, Lim. Aku merasakan betul. Kamu tahu, kan, bagaimana kehidupanku sebelumnya? Bahkan membeli makan saja, aku rela sebungkus untuk berdua. Setelah aku memiliki niatan menikah lagi, aku memiliki banyak jalan yang lurus mencari nafkah, mengais rezeki. Segala yang kubutuhkan, istri inginkan, semua berkecukupan.”
“Memang setiap orang memiliki jalan rezeki masing-masing, Dul.”
“Iya, itu benar. Apa salahnya kamu mencoba.”
“Mencoba? Dul, pernikahan bukan sebuah permainan. Bukan coba-coba.”
“Iya, maksudku begini, eh, ehm. Ah, kamu nanti akan dihadapkan dua pilihan. Izin kepada istrimu yang sekarang, atau minta maaf. Itu saja.”
“Maksudmu bagaimana?”
“Jika kamu menikah secara diam-diam, juga tidak jadi soal. Jika ketahuan kamu tinggal meminta maaf. Jika istrimu memaafkan dan menerima, ya, kamu jalani hidupmu itu dengan baik.”
“Lalu?”
“Jika kamu diberikan dua pilihan, pilih istrimu atau ceraikan istri keduamu, kamu tinggal memilih keputusan itu.”
“Menurut kamu, jika seperti itu sebaiknya aku pilih mana?”
“Iya, kan, kamu yang menjalani. Kamu pula yang memiliki cinta. Tentu kamu yang memiliki keputusan itu. Cinta itu hanya sebatas tai jika kau tak mendapatkan kenyamanan atau kebahagiaan.”
Sebenarnya tidak ada sedikit pun niatan Wak Lim ingin menduakan istrinya. Keinginan sih, ada. Namun tak sekali pun ia seriusi. Itu hanya bayangan. Pertanyaan-pertanyaan di atas hanyalah agar Wak Dul merasa dihargai olehnya dan mengalir dalam percakapan saja. Jauh sebelum Wak Dul menikah lagi, dan menyerbu kalimat-kalimat itu, Wak Lim pernah ingin menikah lagi lantaran keinginan memiliki anak sampai terbawa mimpi, berkali-kali. Namun hanya bayangan yang berkelebat saja. Iya, harapan besar ingin memiliki keturunan. Pernah juga berpikir bagaimana cara menenangkan dan menghadapi istri ketika marah-marah dari masalah kecil. Bayangannya suatu kali nanti istri-istrinya yang baru saja melahirkan bisa didampingi pembantu, yang penting ia bisa merasakan apa yang diinginkan. Agar emosi tetap stabil, dan bisa melayani dirinya. Cinta yang terus tumbuh, dada yang semakin membara. Ketika dipikir ulang, itu hanyalah nafsu birahi. Iya hanya nafsu sesaat.
Sewaktu itu Wak Lim pernah mengajak istrinya ke dokter. Semula dirinya mengklaim istrinyalah yang tidak bisa memberikan keturunan untuknya. Di dalam bercinta, bagi Wak Lim tidak pernah ada masalah. Ia merasa keduanya bahagia. Ternyata salah! Istrinya selalu berbohong, ia tidak pernah sekali pun bahagia, ia tidak pernah puas di atas ranjang. Tapi ia tidak pernah menampakkan kesedihan, sebab ia tidak ingin Wak Lim kecewa. Istrinya selalu menjaga perasaannya.
Setelah keduanya periksa ke dokter, benar saja, justru dokter mendiagnosis diri Wak Lim yang bermasalah.
“Bisa diatasi dengan cara-cara lain.” ucap dokter.
Tubuh Wak Lim seketika lemas. Ia merasa sangat bersalah dengan apa yang ia pikirkan dan menuduh istrinya selama ini. Praduga-praduganya adalah kesalahan besar. Selama ini ia sudah mengecewakan dan menyakiti hati istrinya. Ia merasa istrinya yang mesti dicek, sebab dirinya sehat-sehat saja, olahraga setiap waktu, tidak merokok, apalagi minum-minum alkohol. Ia lupa lelaki pun bisa lemah dalam urusan bercinta.