Semestinya Pulang Meredam Kecemasan

Aksan Taqwin Embe
Chapter #13

Tiga Belas

Anaknya menangis sejak pukul 02.00. Habsahab pun masih terjaga, selain ia mesti begadang menemani istrinya yang berkali-kali bangun dari tidurnya untuk menyusui si jabang bayi, mengganti popok, atau menunggu barang sejenak istri ke kamar mandi, ia juga waspada dengan kampungnya yang sudah tidak baik-baik saja. Habsahab masih ingat bayangan-bayangan yang ia lihat bersama Loi. Ia mengira itu hanyalah halusinasinya, namun ternyata tidak. Ia yakin kelebat-kelebat itu adalah orang-orang yang tak lebih membuat kampung itu mencekam.

“Tidurlah sejenak. Sejam atau dua jam, agar kita bisa gantian berjaga.” ucap Salimah.

“Mana mungkin aku bisa tidur dalam kondisi seperti ini?” Japran mengeluh.

“Tidak perlu kamu pikirkan!”

“Bagaimana mungkin aku tidak memikirkan? Bagaimana jika terjadi hal-hal yang menimpa kita? Kita sedang terancam!”

“Seingatku kita tidak memiliki musuh, kan?”

“Benar, aku pun tidak pernah berulah kepada siapa pun.”

“Apakah kamu pernah mengecewakan seseorang?”

“Seingatku tidak sama sekali.”

“Apa mungkin mereka adalah orang-orang yang balas dendam pascapembakaran hidup-hidup orang yang tertangkap mencuri mesin warga waktu itu?”

Habsahab berpikir sejenak. Praduga-praduga istrinya selalu mengejutkan. Ia menatap istrinya, menarik napas panjang, kemudian menghempaskan dengan panjang. Barangkali Habsahab memiliki praduga lain yang berbeda dengan istrinya. Namun ia tidak ingin menyampaikan, takut salah. Atau mungkin bisa saja Habsahab membenarkan apa yang disampaikan istrinya? Bukankah praduga istri biasanya lebih tajam?

“Mungkin saja. Tapi apakah senekad itu ingin menghabisi warga-warga?”

“Ya, bisa jadi.”

“Sebentar, jika demikian, mengapa yang menjadi incaran warga adalah orang-orang pilihan, dan bukan warga biasa?”

“Maksudmu bagaimana?”

Anaknya menangis kembali sehingga mereka mesti menunda percakapan itu. Salimah tahu kematian ayahnya dalam kondisi yang tidak wajar. Namun ia mencoba menyembunyikan praduga itu. Takut salah kata. Ia menjaga dirinya, suaminya, juga anaknya takut terjadi hal-hal yang serupa. Seingat Salimah, ayahnya selama hidup menjadi orang yang tak pernah memiliki musuh. Jangan pun musuh, bersitegang dengan orang saja jarang sekali. Ayahnya selalu mengajarkan kepadanya, jika ingin dikelilingi orang baik, maka selalulah berpikir positif. Berbaiklah kepada siapa pun. Tapi kali ini kecurigaan Salimah menjadi-jadi, setelah mendengar orang-orang penting di kampung itu terbunuh dan rumah-rumah menjadi incaran dengan tanda silang warna darah.

Sudah hampir sebulan semenjak kelahiran jabang bayi, Salimah tidak pernah keluar rumah. Segala kebutuhan rumah Habsahab yang mencukupi. Urusan dapur sekali pun, Habsahab mesti rela pergi ke pasar, tawar-menawar sembako dan lain sebagainya. Sehingga Salimah cukup memasak, menemani anaknya, menyusui, dan mengganti popok saja. Salimah tahu betul di kampung itu sudah sangat banyak teror tanda silang di dinding-dinding, pintu-pintu warga yang menjadi incaran. Tanda-tanda silang yang menyebar itu sangat meresahkan!

“Kamu harus waspada, Hab. Harus waspada!”

“Iya. Semalam aku melihatnya, Salimah.”

“Sungguh? Apa yang kamu lihat?”

“Aku dan Loi melihat bayangan berkelebat berloncatan di atas atap tetangga, bayangan itu terlihat seperti siluet berhenti di pohon, pindah ke dinding, kemudian lenyap begitu saja.”

“Bajingan! Jangan-jangan merekalah yang membuat ayahku tiada!”

“Aku pun menduga demikian. Namun kita jangan gegabah. Kita redam dada dulu sementara waktu. Sudahlah, buang kesedihanmu itu. Ayah sudah tenang di sisiNya. Sekarang kamu jaga baik-baik anak kita.”

“Kamu mau ke mana?”

“Aku ingin keluar sebentar. Melihat orang-orang di luar, turut berjaga di pos.”

“Jangan pergi. Sungguh, aku takut, Hab.”

“Apa yang kamu takutkan?”

“Tolol, kamu masih tanya. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Aku takut tiba-tiba mereka datang menghabisku dan anakmu.”

Habsahab merinding mendengar apa yang disampaikan Salimah. Ia mengabulkan permintaan istri tidak keluar rumah. Semuanya demi anak dan istrinya. Sesekali ia berjalan pelan-pelan menuju ruang tamu dengan penuh kecemasan, kemudian menyingkap pelan-pelan kain penutup jendela. Ia menyipitkan mata di tengah keremangan. Ia melihat beberapa kali orang-orang berseliweran di depan rumahnya. Berjalan berkelompok menuju arah laut. Entah apa yang ingin mereka tuju.

Laut masih belum baik-baik saja. Orang-orang masih beringsut di rumah-rumah. Selain takut tenggelam, mereka juga urung karena kondisi kampung sedang tidak baik-baik saja. Iya, hanya merekalah yang mesti menjaga rumah agar keluarga tetap selamat dari peristiwa yang mencekam.

***

Tidak ada yang bisa menyalahkan musim. Orang-orang terpaksa membuat upacara kecil, kemudian melarungkan makanan-makanan; jajanan pasar, nasi putih, nasi kuning, lengkap dengan sayur dan lauknya; tempe, tahu, ayam, bunga tujuh rupa, buah-buahan, pembakaran dupa, serta kepala kerbau ke tengah laut. Mereka menggunakan perahu dengan tubuh gemetar menuju tengah laut. Sudah siap jika sewaktu-waktu perahu terguling karena gelombang. Mereka sudah menyiapkan pelampung. Di bibir pantai, sudah riuh warga-warga yang siaga menolong dengan perahu-perahu lainnya jika sewaktu-waktu perahu itu runtuh karena ombak yang mencekam. Langit semakin muram, ombak semakin menantang. Perahu itu menyisir pelan-pelan, terombang-ambing gelombang. Habsahab dan Loi turut serta di sana. Melalui tangan Habsahablah sesajian itu berhasil dilarungkan pelan-pelan ke tengah laut.

Lihat selengkapnya