Cak Gito meninggal selepas menenggak minuman arak oplosan bersama anak-anak muda di pelataran tanah lapang sisi kanan kantor kepala desa. Tidak ada yang mengejutkan dalam peristiwa ini, selain kematian pembunuhan. Kematian-kematian yang mendadak dan misterius.
Habsahab jadi ingat dengan kematian Wak Lim. Ia tidak bisa menerima kenyataan mertuanya mati dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Berkali-kali ia mencoba meredam dadanya, perasaan istrinya, ibu mertuanya, namun seluruhnya meledak dengan benci, amarah, dan dendam.
“Kalau saja sampai ketemu siapa pelaku pembunuh ayah mertua, aku bersumpah akan menghabisinya.” batin Habsahab merapal dendam yang memuncak.
Habsahab hampir putus asa menghibur Salimah dan meleburkan kesedihannya yang tak berkesudahan. Kematian ini tidak sama sekali dipersiapkan oleh Ibu Salimah. Ia tidak bisa membayangkan bahwa Ibu Salimah akan menjalani kehidupan sehari-hari tanpa siapa pun. Ibu Salimah nyaris gila setelah kepergian Wak Lim. Setiap hari, di setiap pagi ia menyiapkan kopi untuk Wak Lim. Seperti biasa ia seduh secara hati-hati dengan adukan ke kanan sebanyak tiga puluh tiga kali dengan merapal selawat nabi. Kopi tanpa gula akan terasa nikmat jika menuruti apa yang dipinta Wak Lim tanpa meleset satu langkah pun. Ia melangkah menuju meja makan. Tubuhnya tersentak, mematung seperti batu. Ia sadar setelah menaruh cangkir di atas meja makan, Ibu Salimah menangis sejadi-jadinya. Bahwa Wak Lim sudah tiada.
Habsahab teringat kejadian bertahun-tahun lampau ketika ia turut serta dalam lingkaran mereka—ikut serta mabuk-mabukan, sehingga ayahnya murka. Habsahab juga ingat biasanya yang mengingatkan mereka, minimal ada perubahan hanyalah Wak Lim. Tapi siapakah yang mampu meneruskan Wak Lim sebagai kiai atau penasehat orang-orang seperti itu? Sebenarnya Wak Lim menaruh harapan besar kepada Habsahab yang mengerti agama. Menaruh harapan agar Habsahablah sebagai menantu yang kelak menggantikannya.
Suatu hari, Wak Lim pernah menyampaikan keinginannya melalui Salimah. Namun Habsahab mengatakan dengan mantap bahwa dirinya belum siap. Masih banyak yang perlu disiapkan dan diperbaiki sebelum berjalan ke arah sana. Minimal ia mampu membuat perubahan lebih baik terlebih dahulu kepada keluarganya, baru mau mengarahkan masyarakat.
“Bukan, kata ayah mulailah mengajar ngaji dulu.”
Salimah menerangkan dan menguatkan apa yang disampaikan ayahnya. Lagi-lagi Habsahab keras kepala dan mesti berulang-ulang istrinya berbicara sampai berbusa baru ia dengar dan ikuti. Habsahab sementara menolak karena kesiapannya belum matang. Sampai akhirnya Wak Lim meninggal pun, ia masih saja belum siap. Sebenarnya Salimah kesal dengan Habsahab. Ia sangat kecewa dengan apa yang ia katakan. Di akhir permintaan ayahnya tak juga bisa ia genapi. Padahal itu demi kebaikannya, martabat, dan nama baik keluarga.
***
Malam itu suasana semakin mencekam. Rumah-rumah sudah tertutup rapat. Namun beberapa warga mesti siaga dan berjaga di beberapa gardu. Perasaan Salimah sudah tidak enak malam itu. Anaknya menangis sejak sore. Sesekali berhenti, kemudian rewel kembali. Entahlah, Salimah sudah lelah, bagaimana lagi yang mesti ia lakukan. Ia merasa kewalahan jika tanpa Habsahab. Ia mencoba berkali-kali merajuk dan menghentikan Habsahab agar tetap di dalam rumah saja, namun Habsahab tidak juga mengabulkan. Hati dan kepalanya seperti batu.
“Aku keluar hanya sebentar, Salimah. Tenaglah dulu. Buang seluruh kecemasan dan kalutmu itu. Aku harus melihat perahu kita, mesin dan peralatan di laut dalam kondisi baik-baik saja, Salimah.”
“Aku takut. Jangan lama-lama. Langsung pulanglah.”
“Tentu saja. Percayalah. Setelah urusan ini selesai, aku langsung pulang.”
“Sungguh, aku takut, Hab. Anak ini tidak bisa diam. Ia seperti memiliki firasat buruk.”
Dada Habsahab berdebar, tengkuknya gemetar. Ia mencoba tenang, menunggu sekira setengah jam sampai anaknya benar-benar terlelap.
“Aku pergi dulu.”
Ia bersalaman, kemudian mengecup kening, pipi Salimah yang merah. Setelahnya ia membuka pintu, keluar dengan langkah pelan-pelan. Dari pintu yang terbuka, Salimah masih berdiri melihat punggung Habsahab hingga hilang ditelan gelap dalam kejauhan. Lenyap menembus kegelapan.
Sampai di pelabuhan Habsahab tidak mau membuang waktu terlalu lama. Setelah Habsahab naik ke perahu, mengecek dan memastikan aman seluruh peralatan di atas perahu, Habsahab turun loncat dengan gegabah. Ia tergesa ingin pulang cepat sesuai janjinya kepada Salimah. Ia ingin lekas sampai rumah. Sebenarnya sebelum Salimah mengatakan bahwa anaknya memiliki firasat buruk, Habsahab sudah lebih awal memiliki firasat yang sama. Sedari pagi tubuhnya gemetar dan pikirannya sangat kacau. Namun ia mencoba membuang jauh-jauh. Bahkan sejak keluar rumah pun, dadanya berdebar dan langkah gemetar.
Benar saja, dari belakang ia merasa seperti ada bayangan hitam yang mengamatinya sejak tadi. Bayangan hitam itu terus mengikutinya hingga jarak seratus meter dari rumah.
“Ah, sebentar lagi sampai rumah. Mungkin hanya perasaanku saja.” batinnya.
Dari kejauhan Habsahab sudah dapat melihat rumahnya dengan pintu yang sedikit terbuka. Ia yakin istrinya sengaja membuka pintu rumah agar ia tahu bahwa istrinya telah menunggu kepulangannya. Habsahab masih melangkahkan kaki dengan dada berdebar-debar. Karena merasa penasaran, perlahan Habsahab menoleh ke belakang, langsung hap. Kepalanya Habsahab dibungkus kain hitam. Setelah itu, tepat pada mulutnya dililit melingkar dengan lakban, mulutnya dibekap, kemudian tubuhnya diikat. Habsahab mencoba menggerak-gerakan tubunya namun gagal. Tubuh dua lelaki ini lebih kuat dan kekar ketimbang Habsahab yang jarang olahraga.
Habsahab dinaikkan ke mobil jip warna hijau tai kuda. Mobil berukuran besar dengan suara yang sangat bising. Setelah ia dipaksa duduk dan tubuhnya ditahan dengan lengan lelaki bertubuh kekar, ia mencoba tenang. Ia pejamkan mata. Dalam pejaman mata itu ia teringat masa kecil bersama teman-temannya dulu. Ia sangat senang ketika melihat mobil jip dikendarai lelaki bertubuh besar berseragam seperti ini datang ke kampung. Ia girang bersama teman-temannya, ia akan mengikuti sambil berlarian bersama teman-temannya sampai mobil ini hilang dari pandangan. Melaju dengan sangat kencang.
Habsahab kembali mencoba menggerak-gerakan tubuhnya, namun tetap gagal. Tali yang mengikat tubuhnya dan lengan kekar lelaki itu lebih kuat ketimbang tenaga Habsahab. Ia merasa mobil itu hanya melaju dari titik satu ke titik yang sama, seperti dibawa berputar-putar ke sebuah tempat yang jauh, naik turun ke sebuah bukit kemudian kembali di tempat semula. Mobil itu hanyalah berputar-putar agar membuat Habsahab menerka dan bingung saja. Ia kembali di bibir pantai, di pelabuhan yang tak jauh dari rumahnya. Sebelum tubuhnya didorong ke tanah dalam kondisi tubuh yang masih terikat, mengerang seperti ulat, kepalanya sempat ditenggelamkan berkali-kali ke laut sampai ia mengerang dan napasnya tersengal-sengal. Dua lelaki itu sengaja menggeret tubuh Habsahab dengan menaiki-turun tanggul hanya perkara menyiksa Habsahab agar menjadi taat dan tidak macam-macam. Malam ini adalah malam paling sial bagi Habsahab.
Lelaki bertubuh kekar kesatu itu perlahan membuka lakban yang melingkar di mulut, kemudian membuka kain hitam yang menutup kepala Habsahab.
“Ambil ember di bagasi. Ambir air laut.” ucap lelaki satu ke lelaki dua.
Habsahab membuka matanya pelan-pelan. Pandangan kabur, ia masih melihat dalam remang-remang. Ia membuka mata secara perlahan. Belum sempurna terbuka, wajah Habsahab disiram air laut yang warnanya sudah menghitam diambil dari tepi tanggul. Mata Habsahab terasa sangat perih, sangat merah. Samar-samar ia melihat ada dua orang bertubuh kekar yang sama sekali tak ia kenali bersama Loi. Ia diancam jika memberontak sekali lagi, tidak hanya dirinya yang dihabisi, keluarganya pun akan habis tidak tersisa.
“Sebentar, apa maksud ini semua?” bentak Habsahab.
Malam semakin mencekam. Orang-orang sudah berada di dalam rumah, pintu-pintu sudah terkunci. Hanya rumah Habsahab yang masih terbuka, sebab sedari tadi Salimah menunggunya di kamar sembari mengeloni anaknya. Beberapa kali sempat ia tutup sejenak, kemudian ia buka kembali. Akhirnya ia tutup dan kunci rapat-rapat, sembari menunggu Habsahab pulang ke rumah.