Semestinya Pulang Meredam Kecemasan

Aksan Taqwin Embe
Chapter #15

Lima Belas

Hari ini 30 hari kematian Loi. Laut sudah semakin tenang, dan ombak dan angin sudah mulai redam. Ketika Salimah sudah memutuskan berdamai dengan kecemasan dan ketakutan, merelakan Habsahab pergi melaut di musim yang sudah perlahan reda ini, ada saja masalah yang datang kepadanya. Ada saja penderitaan yang bermunculan secara tiba-tiba.

“Sejak awal aku tak ingin kamu melaut, Hab.”

“Lantas apa yang harus aku lakukan?”

“Bekerjalah seperti awal yang kau harapkan. Menjual ikan-ikan dari nelayan. Kamu tinggal menunggu mereka datang. Tak perlu ikut serta melaut.”

“Dalam kondisi seperti ini aku tidak bisa, Sal. Pekerjaan itu membutuhkan modal yang banyak.”

“Hab, berjanjilah. Ini yang terakhir.” Salimah meletakkan telapak tangannya ke dada Habsahab.

“Iya aku janji. Barangkali untuk kali ini saja.”

“Yakin?”

“Iya aku berjanji, untuk kali ini saja.”

Ketika Habsahab mau berangkat menuju perahu, sudah sampai pelabuhan, salah satu warga mengabarkan anak Habsahab demam tinggi. Sehingga Habsahab urung berangkat lagi, kemudian kembali lagi ke rumah dengan muka cemas dan tergesa. Salimah tidak tahu apa yang mesti ia lakukan jika sendirian di rumah tanpa Habsahab. Padahal ia sudah ada bayangan, sepulangan ia melaut, ia ingin membuat pesta kecil-kecilan sebagai perayaan terakhir kalinya ia menjadi nelayan. Ia ingin masak gulai kakap merah untuk Ayah Habsahab. Memasak cumi hitam cabai hijau untuk Habsahab. Namun apalah daya anaknya sakit, dan saat itu juga mereka harus ke klinik terdekat.

“Suatu hari nanti keinginanmu itu akan terwujud.”

Salimah mengangguk. Ia menceritakan, anaknya sempat kejang sebelum ia datang. Wajah Salimah yang cantik mendadak berubah sepucat sepah tebu. Ia takut apa yang mesti ia lakukan. Habsahab mengusap-usap pergelangan tangan Salimah, kemudian mencium kembali keningnya.

“Sepertinya anak kita tahu, bahwa tak semestinya kamu ke laut.”

“Apakah mungkin ia bisa merasakan? Ah, ini hanya kebetulan saja.”

“Mungkin saja.”

“Apa mungkin ia mencoba menghentikanku agar aku tetap di rumah?”

“Bisa jadi seperti itu.”

“Apa yang harus kulakukan?”

“Sudahlah berhenti. Jangan ada lagi urusan dengan perahu, laut, atau monster yang siap menghancurkan perahu-perahu itu. Menghancurkan tubuhmu.”

“Tenangkan pikiranmu, Sal.”

“Bagaimana aku bisa tenang jika kondisi campur aduk seperti ini.”

“Baiklah, baiklah.”

Salimah mengusap-usap kepala anaknya. Habsahab mencium kembali keningnya.

“Uang dari mana untuk membayar seluruh kebutuhan, Sal?”

Lihat selengkapnya